Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 31/XXXII/29 September - 05 Oktober 2003
   
Nasional

Setelah Mustakin 'Dibon' Polisi

Bermula dari tabrakan lalu lintas ringan, kerusuhan meletus di Sumbawa. Pelajaran buat para polisi yang ringan tangan.

SUMBAWA Besar laksana terkena sihir dan "membeku". Jalan-jalan serba kosong di ibu kota Kabupaten Sumbawa di Provinsi Nusa Tenggara Barat itu hingga akhir pekan lalu. Polisi yang biasa terlihat di perempatan jalan, di pos-pos jaga, mendadak lenyap. Aparat baju cokelat itu digantikan oleh tentara bersenjata lengkap. Di sudut-sudut kota, juga di Markas Kepolisian Resor Sumbawa, pasukan baju hijau berjaga-jaga. Penduduk memilih berdiam di dalam rumah.

Inilah buntut kerusuhan yang meletus Kamis pekan lalu. Ribuan penduduk turun ke jalan, membakar pos jaga, juga terlibat baku pukul dengan puluhan polisi. Sepanjang 24 jam itu penduduk kota ini mengamuk, sulit dikendalikan—yang tentu saja tak ada hubungannya dengan susu kuda liar, minuman yang kita kenal dari daerah itu.

Sebab-musabab kerusuhan itu sesungguhnya amat sepele. Mustakin, yang mengendarai sepeda motor, bertabrakan dengan seorang penjual roti, yang juga mengendarai motor, di perempatan kantor dinas peternakan Sumbawa, Senin pekan lalu.

Ini kecelakaan kecil. Penjual roti itu cuma lecet. Mustakin juga begitu. Lututnya tergores. Kulit pinggangnya sedikit terkelupas. Dokter Irwan, yang memeriksa Mustakin di Rumah Sakit Umum Daerah Sumbawa, mengatakan, "Luka Mustakin tidak begitu serius. Kondisinya cukup baik." Sehari di rumah sakit, mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Samawa itu berkemas-kemas untuk pulang.

Namun, beberapa jam sebelum Mustakin pulang, sejumlah polisi menjemputnya dari kamar rawat. Menurut Yamin, seorang teman kampus yang menjaga Mustakin, Selasa siang itu polisi tanpa ampun menyeret karibnya yang tengah berbaring. Ia dipukul, digasak, dipaksa masuk ke mobil patroli, dan dibawa pergi. Keluarga dan kawan-kawannya cuma bisa menunggu dalam cemas.

Penantian itu dua jam lamanya. Para polisi balik ke rumah sakit. Mustakin juga mereka bawa. Anak malang itu tinggal bercelana dalam—entah ke mana busana lengkap yang ia kenakan sebelum digelandang. Kali ini ia tampak mendapat kecelakaan "besar": mukanya bengkak, bibirnya pecah. Dan astaga: Mustakin sudah kehilangan nyawanya!

Pecahlah isak tangis sanak kerabatnya. Sebagian meratap dengan histeris. Yang kemudian muncul adalah berang karena Mustakin mati secara menyesakkan hati. Ulah polisi?

Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat, Ajun Komisaris Besar Polisi M. Basri, bilang bahwa Mustakin dijemput polisi atas permintaan pihak rumah sakit. Korban sering berteriak-teriak. Diduga, kata Basri, Mustakin meninggal akibat overdosis obat-obatan terlarang.

Dugaan itu kemudian terbantah. Muhammad Nur, Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Sumbawa, menyebutkan bahwa dari autopsi mayat Mustakin diketahui telah terjadi perdarahan pada selaput otak luar akibat benturan benda tumpul. Para dokter sama sekali tak menemukan obat-obatan pada tubuh korban. Yang kemudian ramai beredar: Mustakin mati karena dianiaya polisi.

Kabar itulah yang menyulut kemarahan. Kamis pekan lalu itu, 3.000 orang—sebagian terbesar mahasiswa—merangsek ke markas polisi Sumbawa. Mereka "dijamu" dengan tembakan peringatan.

Tembakan itu seperti lonceng pembuka pertempuran. Massa menyiram kantor polisi dengan batu. Massa kian menyemut, bertambah dengan ratusan orang yang sedang memperingati Hari Tani Nasional di pusat kota. Tak kuat menahan amuk, polisi memilih mundur. Massa menyerbu kantor polisi dan merusak mobil patroli.

Dari situ, mereka melaju ke kediaman Kepala Kepolisian Resor Sumbawa, Bambang Suharno. Aparat polisi menghadang dengan tembakan. Enam orang terkena peluru. Satu orang, bernama Gathan, tewas dirobek timah panas yang menerjang perutnya. Belasan lainnya luka parah dan dibawa ke rumah sakit. Pertempuran itu baru reda menjelang petang.

Kamis malam pekan lalu itu, sejumlah pejabat dari Mataram, ibu kota Nusa Tenggara Barat, langsung datang ke Kota Sumbawa Besar. Thamrin Rayes, wakil gubernur provinsi itu, mengatakan, "Diduga akibat tindakan polisi maka rakyat marah." Akhirnya keamanan kabupaten itu diambil alih kepolisian provinsi.

Dan sanksi pun jatuh. Kepala Kepolisian RI Jenderal Da'i Bachtiar langsung mencopot Bambang Suharno dan beberapa pejabat polisi Sumbawa lainnya. Tiga orang polisi sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Sebuah langkah tegas yang patut dipuji. Tapi yang lebih penting adalah mencari tahu: mengapa para polisi itu tiba-tiba membawa Mustakin menemui ajalnya?

Wenseslaus Manggut, Supriyantho Khafid (Mataram)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Soekarwo Dekati PGRI - 07 Sep 2008 | 18:42 WIB
Tarif PDAM Bojonegoro Naik 50 Persen - 07 Sep 2008 | 18:38 WIB
PT Sarana Tanggapi Surat Petani Super Toy HL-2 - 07 Sep 2008 | 18:34 WIB
Hanya Enam Parpol di Malang yang Penuhi Kuota Perempuan - 07 Sep 2008 | 18:33 WIB
Tiket Kereta Bojonegoro-Jakarta Ludes Terjual - 07 Sep 2008 | 18:25 WIB
Begini Rasanya Menjadi Pegawai Pertama Google - 07 Sep 2008 | 18:18 WIB
Pusat Perbelanjaan di Semarang Mulai Ramai - 07 Sep 2008 | 18:10 WIB
Soekarwo Dekati Persatuan Guru Republik Indonesia - 07 Sep 2008 | 18:02 WIB
Presiden Buka Puasa di Kediaman Ketua DPD - 07 Sep 2008 | 17:51 WIB
Indonesia Diminta Garap Energi Iran - 07 Sep 2008 | 17:29 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data