Satu Mandor Satu Motor Dikelola secara tak efisien, kebun kentang YKKBI amblas menyisakan rugi Rp 1,8 miliar.
|
KEBUN itu dijepit dua gunung: Papandayan dan Ciparay. Sekelompok buruh tani, dengan caping dan baju lusuh, tampak sibuk mengangkut karung plastik. Dari tanah merah seluas lima hektare, bau cabe mentah dan kentang basah meruap ke mana-mana. Sore itu, awal Agustus silam, musim panen rupanya sedang tiba di Simpang Cibuluh, Garut, Jawa Barat.
Inilah salah satu kebun kentang yang pernah menjadi tempat Yayasan Kesejahteraan Karyawan Bank Indonesia (YKKBI) menyemai modal. Di tanah milik Haji Dedi, YKKBI menggandeng PT Bikasoga, perusahaan yang bergerak di banyak bidang usaha. Sekarang kentang Bikasoga tinggal kenangan. Sejak setahun lalu, kebun itu kembali dikelola oleh Haji Dedi, si pemilik tanah. "Bikasoga sudah bangkrut," ujar Icih, 30 tahun, salah satu petani di kebun itu.
Bikasoga termasuk salah satu anak perusahaan YKKBI yang dipersoalkan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Hasil audit menunjukkan di sini YKKBI merugi Rp 1,7 miliar lebih. "Pengembangan di bidang pembibitan kentang ternyata tidak dilakukan melalui studi yang memadai, dan dalam pelaksanaannya tidak diikuti dengan pengawasan dan pengendalian yang memadai," tim audit BPK menyimpulkan.
Di Bandung, Bikasoga sebetulnya kondang dengan bisnis sewa gedung dan sarana olahraga. Usahanya cukup sukses. Harga sewa lapangan tenis sehari mencapai Rp 5 juta. Itu pun harus booking jauh-jauh hari dulu. "Tidak gampang mendapat jadwal main tenis di sini. Penuh terus," kata seorang pengurusnya. Aulanya pun tak pernah sepi, sering digunakan buat tempat konser artis Jakarta atau pertemuan partai politik.
Kesialan bermula, menurut Ketua YKKBI Dudung Sjahrifuddin, ketika pada tahun 1995 Bikasoga merambah ke luar teritorinya: masuk ke usaha pembibitan kentang itu. Pertimbangannya semula, bisnis sport melulu dirasa tak cukup menguntungkan. Karena itu, manajemen lalu mencari peluang lain.
Bikasoga lalu menyewa lahan dari Haji Dedi. Harganya lumayan murah, setahun kurang dari Rp 10 juta. Tapi proyek yang dikembangkannya ternyata cukup besar. Lahan Haji Dedi hanya satu petak dari keseluruhan kebun. Selebihnya, perusahaan itu juga menyewa tanah di daerah Selekta, Nengklet, dan Jaya S. Total lahan Bikasoga mencapai 20 hektare lebih. Duit yang dikucurkan sebagai modal sekitar Rp 3 miliar, yang antara lain digunakan untuk menyewa gudang plus outlet.
Tapi kini tak ada lagi yang tersisa. Outlet yang disewa sekitar Rp 2 juta setahun itu telah berubah menjadi sekolah pengajian. Hanya satu gedung besar bertahan sebagai gudang kentang. Itu pun kini dimiliki Haji Dedi.
Icih, yang sudah 20 tahun lebih bertani kentang di situ, mengenang, ia diupah bagus ketika bekerja untuk Bikasoga. Saat itu, sebagai buruh tani, dia dibayar Rp 16.500 sehari. Kalau bekerja malam, dia mendapat tambahan Rp 12.500. Sebulan Icih bisa mengantongi Rp 400 ribuan.
Pada awalnya, Bikasoga serius menggenjot produksi di sana. Mereka sampai menyewa tenaga ahli segala dari lulusan Institut Pertanian Bogor. Lalu mengapa bisa bangkrut?
Penelusuran TEMPO di lapangan menunjukkan Bikasoga rupanya dikelola secara tak efisien. Untuk mengawasi lahan saja, mereka menggaji banyak mandor. Misalnya, cerita Icih, dalam satu patok lahan, Bikasoga mengirim tiga orang mandor guna mengawasi segelintir pekerja di sana. "Padahal satu saja cukup," ujar dia.
Fasilitas juga kelewat royal diberikan buat para direksi, mandor, dan pegawainya. "Tiap mandor saja dikasih satu sepeda motor," kata Icih lagi.
Padahal laba dari satu hektare lahan hanya sekitar Rp 7,5 juta, sementara proses produksi bisa berjalan berbulan-bulan. Taruhlah total lahan ada 20 hektare. Maka laba yang dihasilkan tak lebih dari 150 juta per tahun. Buntutnya, kas perusahaan jebol. Hanya dalam tempo dua tahun, Bikasoga pun tutup.
Dudung Sjahrifuddin mengaku ada keteledoran dalam pengelolaan kebun kentang Bikasoga. Ditinjau dari segi usaha, dia mengaku kebun itu sukses. Mutu kentangnya bagus. Masalahnya ada pada kendurnya pengawasan. "Begitu panen, kentangnya tidak mengalir ke Bikasoga, tapi entah ke mana," ujarnya.
Setahun sudah Bikasoga meninggalkan lahan itu. Matahari kini tenggelam di balik Gunung Papandayan. Di kebun milik Haji Dedi itu, kentang masih tumbuh subur. "Sudah penuh. Ayo, kita timbang sekarang," kata seorang buruh tani sambil memikul sekarung besar hasil panen.
Penyebabnya dijelaskan Icih, "Pak Dedi tahu cara mengatur pegawai. Misalnya, dalam satu lahan, cukup satu mandor satu tukang catat."
|