Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 31/XXXII/29 September - 05 Oktober 2003
   
Hiburan

Dewa Tidak Turun dari Langit

Kelompok Dewa menggelar konser di daerah konflik, Lhok Seumawe dan Langsa. Konser dengan motif politik.

Jumat sore dua pekan lalu, sekitar pukul 17.00 di Lapangan Hiraq, Langsa, Aceh Timur, berlangsung sebuah atraksi. Sebuah helikopter, satu heli bell berwarna hijau yang menimbulkan kisaran angin kencang, mendekati panggung berukuran 18 x 30 meter. Satu per satu tiga personel grup Dewa—Dhani, Once, dan Andra—turun dari ketinggian 13 meter dengan seutas tali dan mendarat selamat di atas pentas.

Ahmad Dhani, pemimpin kelompok musik itu, menyebut tindakan mereka vivere pericoloso, berani menyerempet-nyerempet bahaya. Sebuah slogan khas anak muda yang dewasa ini terasa jauh dan sayup, namun dulu kerap dikumandangkan Bung Karno yang memilih jalan revolusioner.

Di depan penonton yang berjibun di Lapangan Hiraq—jumlahnya ditaksir mencapai 50 ribu orang—Dewa mengalunkan tembangnya yang tentu amat populer di kalangan baladewa, perkumpulan para penggemar Dewa: Aku Cinta Kau dan Dia. "Sekali lagi maafkanlah karena aku cinta kau dan dia. Maafkanlah ku tak bisa tinggalkan dirinya." Begitu potongan syair yang meluncur dari mulut Dhani, vokalis sekaligus pemain keyboard dan gitar kelompok itu.

Para baladewa di Tanah Rencong lumayan melimpah. Enam tahun silam, Lisa—ketika itu masih berumur 18 tahun dan kuliah di Medan—terpaksa terbang ke Banda Aceh untuk menyaksikan grup pujaannya. Jumat itu, Lisa, yang sudah berstatus karyawati di ibu kota Aceh Timur, Langsa, bergabung dengan fans lainnya. Konser gratis, para penggemar bersorak girang dalam acara yang berlangsung di bawah cuaca agak mendung itu.

Tapi itulah vivere pericoloso, dan bahaya tampak dalam bentuk fisik. Lapangan Hiraq, yang letaknya di seberang kantor DPRD, dipilih lantaran terhitung relatif lebih aman ketimbang stadion. Stadion dianggap tak menguntungkan karena dikelilingi sejumlah bukit yang ditengarai sebagai tempat persembunyian anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM), yang terdesak setelah TNI merangsek dan menguasai Lhok Seumawe. Agaknya aparat khawatir akan ada mortir nyasar "kiriman" dari bukit. Di Langsa, langkah-langkah pengamanan diterapkan. Stadion Langsa di depan Kantor Kodim 0104 Lilawangsa, dindingnya dijebol di enam titik. Itulah pintu darurat jika terjadi sesuatu. Sebelum masuk lapangan, setiap penonton—dari berbagai kecamatan di Aceh Timur seperti Peurlak dan Kuala Simpang—harus melewati security door alias pintu detektor.

Adakah cuma nyali yang jadi soal di sini? Semua tahu, Aceh belum aman. Setiap hari, tak kurang dari 10 kali kontak senjata antara anggota GAM dan prajurit TNI terjadi di sejumlah kawasan Nanggroe Aceh Darussalam. Bahkan Minggu pekan lalu, sesaat sebelum Dewa manggung di kota kedua, Lhok Seumawe, terjadi kontak senjata di Kecamatan Kota Makmur, Aceh Utara. "Dua anggota GAM berhasil kami lumpuhkan," ujar Letkol Yani, kepala penerangan operasi militer itu. Dan kita tentu tahu kelanjutannya: klaim dilawan dengan klaim.

Dan begitu pula pentas Dewa di daerah konflik. Malam setelah Dewa manggung di Langsa, panglima operasi menerima layanan pesan singkat atau SMS (short message service) dari seseorang yang mengaku mahasiswa. Isinya pun cukup keras: "Kebenaran normatif yang ada di tengah rakyat Aceh bertolak belakang dengan menghadirkan Dewa. Musik mereka bukan cerminan watak dan budaya masyarakat Indonesia, juga rakyat Aceh."

Dewa tidak turun dari langit, tapi dari helikopter. Tim pengamanan yang diterjunkan Panglima Komando Operasi, Mayjen Bambang Darmono, mengawal rombongan semenjak kedatangannya di Bandara Polonia, Medan, Jumat pukul 10.30 WIB. Dari kota bika ambon itu, bus yang ditumpangi rombongan dikawal ketat selama tiga jam perjalanan ke Langsa. Sejak pemberlakuan operasi darurat militer enam bulan lalu, baru sekali rombongan artis manggung di Lhok Seumawe. Di Lapangan Hiraq, pusat Kota Lhok Seumawe, 23 Agustus lalu, artis dangdut yang dikomando Camelia Malik manggung. Padahal, sepekan sebelumnya, tidak jauh dari tempat itu sebuah bom meledak.

Bambang Darmono mengaku mempertaruhkan jabatannya untuk acara itu. Bersemangat sekali ia mengutarakan motonya untuk masyarakat di daerah konflik yang haus hiburan itu: to win people's heart and mind. Dan Ahmad Dhani, Once (vokal), Andra (gitar), Yuke (bas), berserta tiga additional player, Taufan (drum), Bimo (drum), dan Stevi (gitar), paham akan perannya di luar musik saat itu. Di Lhok Seumawe, mereka naik tank berkeliling kota. Dan masyarakat setempat tumpah-ruah di sepanjang jalan yang dilalui rute pawai itu. Dari sisi kanan-kiri jalan, anak-anak muda melihat idolanya mengenakan seragam loreng hijau.

Pesan itu semakin jelas ketika Dewa diajak serta ke Desa Lancuk, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, daerah yang dua bulan lalu masih dikuasai GAM. Dari Langsa, mereka menumpang helikopter jenis Puma. Di sana, Dhani dkk. menyerahkan sejumlah bantuan alat sekolah dan beasiswa bagi 20 siswa SD. Bahkan Once sempat mendendangkan sepenggal tembang Cintailah Cinta, tanpa iringan instrumen musik. "Saya adalah warga negara yang mendukung penuh operasi militer di Aceh. Saya pengagum ajaran Sukarno. NKRI jangan dipecah-pecah. Sama saja mengkhianati Sukarno," ujar musisi kelahiran Jakarta, 26 Mei 1972, ini berapi-api.

Dhani memang kontroversial. Ia mengklaim: kini dirinya lebih matang. Beberapa tahun silam, sebelum pemilu tahun 1997, Dhani sempat diributkan lantaran berani memakai kaus bertuliskan "anti-Golkar". "Saat suasana belum sekondusif seperti zaman reformasi saja saya sudah berani," kata bapak tiga orang putra ini. "Dulu, mungkin banyak fans Dewa yang bapaknya Golkar membenci saya. Tapi, setelah konser ini, mudah-mudahan tak akan ada yang membenci," ucapnya.

Jumat siang di Langsa, para penggemar sudah menyemut di halaman kantor Bupati Usman Azmani. "Once…, Once…, Arjuna…, Arjuna…," teriak mereka. Arjuna adalah salah satu hit dari album terakhir Dewa, Cintailah Cinta. Tak peduli udara panas, tak menghiraukan rapatnya kerumunan orang, beberapa ABG berkerudung warna-warni tampak sibuk jeprat-jepret kamera setiap kali personel Dewa menongolkan wajah di balik pintu kantor. "Hei, jangan teriak-teriak begitu. Kayak melihat Nabi saja," hardik salah seorang staf Bupati. Bukankah begitu? Ah, kita baru menangkap sebuah dikotomi: para idola bergerak dengan satu motivasi tertentu, para fans dengan motivasi yang lain.

Telni Rusmitantri (Langsa, Lhok Seumawe)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data