Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 30/XXXII/22 - 28 September 2003
   
Gaya Hidup

Dolanan Perang Tak Kenal Usia

Permainan perang-perangan kini lebih serius. Tetap membuat gembira, meski mahal.

Masa kecil di kampung bisa menghantarkan kita pada nostalgia ini: bermain perang-perangan dengan ranting bambu atau bekas bolpoin dari kuningan sebagai bedil. Pelurunya kertas koran basah, kulit pohon jambu, atau buah alpukat. Itu dulu. Kini, dunia permainan sudah jauh berubah. Permainan klasik dari kampung itu kini telah beralih rupa menjadi airsoft gun, sebuah simulasi tempur (war games) alias dolanan perang yang nyaris "sungguhan".

Senjata airsoft—disebut demikian karena bedil bekerja dengan sistem tekanan udara berkecepatan ringan—menjadi pemuas dahaga penggemar permainan perang-perangan. Mirip dengan "saudara kembarnya", yakni senjata peluru cat (paintball gun)—kini paintball gun menjadi cabang olahraga, dan kejuaraan dunianya berlangsung di Inggris dua pekan silam—para penggemar airsoft lebih unik.

Keunikannya terletak pada kegemaran mereka meniru penampilan tentara asli sedetail mungkin. Dari seragam, perlengkapan perang, bahkan sampai pertempurannya. Senjata airsoft berbentuk replika senjata asli. Perbandingannya identik sampai ke berat senjatanya. Hanya selisih tipis, dari satu sampai lima ons. Untuk pelurunya, bedil-bedil itu—umumnya buatan Jepang—memakai yang terbuat dari plastik seukuran biji kedelai. Sedangkan senjata peluru cat lebih terasa seperti mainan, dengan tangki gas di popornya dan tabung peluru berisi kapsul cat di larasnya. Dalam hal bunyi, keduanya sama meyakinkannya dengan senjata asli.

Dolanan perang yang banyak dimainkan adalah permainan skenario (scenario games)—meniru pertempuran besar di berbagai belahan dunia, film-film perang, sampai kisah polisi melawan bandit. Permainan ini biasanya dilakukan di ruangan terbuka. Di Jakarta, penggemar airsoft kerap memainkan pertempuran kota (urban combat simulation). Kebetulan, seorang penggemarnya membuka usaha wahana simulasi bernama close quarter battle (CQB) alias perang jarak dekat di daerah Kemang. Situasinya dibuat mirip labirin lorong-lorong di perkotaan dengan jarak tembak "hanya" lima meter.

Demam bedil-bedilan yang mirip senjata betulan ini mulai marak setelah reformasi menggelinding pada era 1998. Saat itu, banjir mainan pistol Cina menggegerkan anak-anak. Tapi senjata ini kemudian dilarang karena pelurunya membuat buta seorang anak di Bandung. Di luar Indonesia, airsoft sudah lebih dulu berkembang. Di sini, penggemar permainan ini umumnya mahasiswa yang pulang dari luar negeri. Mereka pula yang mula-mula membawa permainan ini ke Tanah Air.

Penggemar airsoft umumnya orang dewasa. Sadar bahwa perilaku mereka mirip bocah, sebagian dari mereka menyebut dirinya "gila". Bagaimana tidak? Penampilannya saja melebihi tentara beneran, walau senjatanya bedil plastik. "Pokoknya tentara asli kalah, deh," kata Hartadi "Gene" Setioko sembari terkekeh. Pengusaha roti berusia 27 tahun ini adalah salah satu pegiat dalam Surabaya Airsoft Team (SAT). Setioko mengenal permainan ini ketika kuliah di Hawaii, Amerika Serikat.

Keterampilan membidik, kegesitan, dan strategi menjadi daya tarik permainan ini. Aturan permainannya longgar karena mengandalkan kejujuran. Mereka yang tertembak dipersilakan mundur dengan sukarela. "Kalau enggak mau mengaku, terserah. Wong yang capek ya dia sendiri," kata Irwan Heriawan, 33 tahun, Ketua Klub Code 4, sebuah klub airsoft di Jakarta.

Demi penampilan, banyak penggemar airsoft rela berkorban. Ardi Indratmo alias Momo, 28 tahun, seorang pilot Garuda Indonesia, rela menghabiskan waktu dua minggu untuk mencabuti benang karung goni. Bermain sebagai spesialis posisi penembak runduk alias sniper di Code 4, Momo membutuhkan alat penyamaran. Nah, untuk keperluan tersebut, dia membalut dirinya dengan rumbai-rumbai benang karung yang telah dicelup dalam wantek berwarna daun.

Senjata, seragam, ataupun perlengkapan tempur umumnya dikoleksi secara serius oleh para penggemar fanatik airsoft. Momo, misalnya. Tak segan merogoh dompet hingga jutaan rupiah untuk membeli senjata, kini dia memiliki tujuh senapan dan tiga pistol. Dari yang seharga Rp 2,5 juta per buah, seperti pistol jenis Glock 19 dan Mk-23, sampai yang seharga Rp 5,5 juta per biji, seperti senapan M-24. Total jenderal, pilot ini sudah menghabiskan sekitar Rp 35 juta untuk berbelanja mainan.

Di saat yang sama, pacarnya selalu protes, memaksa dirinya berhemat agar bisa segera menikah. Untuk menenangkan gadisnya, Momo berkata: "Ini bedil-bedil lama. Saya beli dulu sebelum kita pacaran," demikian sembari tergelak dia menceritakan kembali ucapannya bagi sang pacar kepada TEMPO. Untuk koleksi seragam, para pengandrung airsoft bisa memburu hingga ke luar negeri. Memesan lewat Internet, atau menitip lewat kenalan.

Makanya, jangan kaget bila suatu saat Anda bertemu dengan orang Melayu dalam seragam tentara Jerman, Amerika, atau Vietnam. Bisa jadi ia anggota klub airsoft yang tengah kesasar. Berbagai kostum ini bisa pula dibuat di Indonesia. Kostum tentara Vietnam Utara, misalnya, ternyata mirip seragam hansip. Dino Eko Prakosa, 34 tahun, seorang kepala seksi komputer salah satu bank swasta terkemuka di Jakarta, membelinya di Pasar Senen. Ditambah topi Vietnam warisan bapaknya, Dino menjelma menjadi perwira Vietcong yang meyakinkan dalam skenario permainan perang Vietnam. Untuk seragam prajuritnya lebih gampang lagi. Cukup membeli kostum hitam-hitam ala penjual sate Madura di Pasar Tanah Abang, ditambah caping bambu.

Kini banyak berdiri klub airsoft gun. Di Jakarta, Code 4 adalah salah satu yang terkenal. Di Bandung ada Barudak Airsoft Bandung (BAB). Lalu SAT, Mad Dog, dan C4 di Surabaya. Yogya memiliki Defcon-6. Sedangkan di Medan ada Medan Airsoft Club (MAC). Padahal, selain di Jakarta dan Bandung, tak ada tempat permainan (field) untuk airsoft. Apa akal?

Anggota SAT dan C4 di Surabaya memanfaatkan lahan kosong di rumah Setioko di Perumahan Margorejo Indah. Belakangan, mereka merambah ke Terminal Peti Kemas Tanjung Perak dan hutan pinus Taman Dayu di Pasuruan. "Di Tanjung Perak, medannya menantang. Banyak kontainer untuk perlindungan," tutur Setioko. Klub di kota lain belum ada yang merasakan bertempur di pelabuhan. Di Jakarta sendiri, klub airsoft kerap bertarung di arena paintball di Kemang, Tangerang, atau Gunung Putri di Bogor. Belakangan, arena seperti Brigade 3234 di Gunung Putri menolak tempatnya dipakai untuk ajang pertarungan airsoft.

Klub-klub ini juga kerap bertemu untuk mengatur "drama" kolosal, seperti yang diadakan di Surabaya pada Maret tahun 2001. Saat itu SAT sebagai tuan rumah menjamu beberapa klub Jakarta dan Bandung. Mereka bertempur di tempat latihan marinir di Karang Pilang, Surabaya. Satuan marinir menyumbangkan regu amfibi untuk meramaikan "perang" itu. Hasilnya?

"Luar biasa, kami bertempur selama 24 jam," Irwan Heriawan mengenang.

Arif A. Kuswardono (Jakarta), Ayu Cipta (Tangerang), Kukuh S. Wibowo
(Surabaya)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data