Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 29/XXXII/15 - 21 September 2003
   
Pendidikan

KINI Yayan Sofyan, 21 tahun, mesti menghabiskan waktunya di ruangan tahanan Kepolisian Resor Sumedang saat kawan-kawannya sedang asyik belajar di kampus STPDN. Bersama delapan temannya, pemuda asal Sukabumi, Jawa Barat, ini ditetapkan sebagai tersangka kasus pengeroyokan dan penganiayaan Wahyu Hidayat, adik kelasnya, hingga menemui ajal. Peristiwa ini terjadi pada Selasa malam, 2 September lalu, setelah dua pekan sebelumnya Wahyu dinilai tidak menjalankan perintah seniornya mengikuti upacara dan mengedarkan proposal kegiatan. Berikut penuturan Yayan saat ditemui Bobby Gunawan dari TEMPO di Polres Sumedang, pekan lalu.

Mengapa Anda dan kawan-kawan mengeroyok Wahyu?

Waktu itu sekitar pukul 22.30, saya lagi kumpul bersama kontingen Jawa Barat (kelompok mahasiswa yang berasal dari provinsi ini). Tujuannya untuk mengoreksi kesalahan junior. Yang saya ingat, setelah ketua dan wakil ketua kontingen memberikan pengarahan, lalu terjadi pemukulan.


Berapa lama?

Kurang-lebih sekitar 15-20 menit. Setelah itu, saya juga ikut memukul. Saat itu Wahyu di hadapan dengan praja (dari kelompok Jawa Barat). Korban mendapat banyak pukulan. Saya sendiri sempat tanya dulu pada Wahyu, sehat enggak. Dia jawab, sehat. Saya juga mengertilah. Dia bilang begitu, ya, gimana. Setelah saya, masih ada beberapa teman yang juga memukuli. Akhirnya Wahyu jatuh.


Apa yang dilakukan para senior saat itu?

Saya balik lagi ke korban untuk membantu membopongnya. Dia kelihatannya seperti pingsan. Napasnya masih ada. Lalu, kami berkumpul di serambi depan untuk mendiskusikan tindakan yang perlu dilakukan. (Akhirnya Wahyu dibawa ke rumah sakit, dan sampai di sana sudah meninggal.)


Apa yang Anda rasakan sekarang?

Saya sangat menyesal. Sedikit pun tidak ada niat untuk (sempat berhenti selama beberapa detik) membunuh atau menganiaya. Itu hanya sebagai koreksi. Saya sangat menyesal karena STPDN telah men-judge saya. Dalam hasil autopsi itu dinyatakan ada pencekikan. Demi Allah, saya tidak melakukan pencekikan.


Perlukah cara pengajaran dan pengasuhan di STPDN diubah?


Iyalah. Soalnya, semenjak saya masuk ke situ, hal-hal yang begitu sudah ada. Saya dulu juga sempat mengalami diperlakukan seperti itu, malah lebih parah.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data