Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 29/XXXII/15 - 21 September 2003
   
Indikator

Mau Beli Kapal Perang? Silakan Saja

Perlukah pemerintah daerah menganggarkan pembelian kapal perang untuk pengamanan wilayahnya?
(5 - 12 September 2003)
Ya
51%246
Tidak
46.9%226
Tidak tahu
2.1%10
Total100%482

Ide kontroversial ini dimulai dari Riau. Wilayahnya yang sebagian berupa lautan, dan berada di Selat Malaka, membuat pemerintah daerah provinsi itu menganggarkan dana pembelian kapal untuk patroli. Ide ini disambut baik TNI Angkatan Laut, yang selama ini tak punya armada memadai untuk menjaga laut Indonesia yang begitu luas. Hanya, ide tersebut dinilai bakal mendelegitimasi kewenangan pertahanan dan keamanan, yang seharusnya di tangan pemerintah pusat.

Namun tak semua responden yang mengikuti jajak pendapat Tempo Interaktif sepanjang pekan lalu setuju dengan kekhawatiran itu. Ada yang berpendapat, jika ada pemerintah daerah yang berniat membeli kapal perang untuk mengamankan wilayahnya, silakan aja. Apalagi jika kapal yang selama ini ada tak memadai. Yang menolak juga tak sedikit. Selain pengamanan wilayah memang seharusnya jadi kewenangan pusat, menurut mereka, lebih baik anggaran pemerintah daerah dialokasikan untuk menyejahterakan masyarakat di daerahnya. Sebab, itulah perlunya ada desentralisasi dan otonomi daerah.




Indikator Pekan Ini:

Wahyu Hidayat, mahasiswa Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, tewas. Dia dihajar senior-seniornya karena dianggap lalai melakukan tugas saat orientasi studi. Ini bukan kasus pertama mahasiswa tewas di kampus ini. Sebelumnya, paling tidak, ada dua mahasiswa yang mengalami nasib serupa.

Kontan saja reaksi keras berdatangan. ”Kita mendidik seorang birokrat pemerintah. Caranya tentu berbeda dengan cara militer,” kata Menteri Dalam Negeri Hari Sabarno. Kini para pelakunya ditahan dan diperiksa polisi.

Masih perlukah orientasi studi yang biasanya diwarnai kekerasan oleh siswa senior diteruskan? Sampaikan pendapat Anda melalui www.tempointeraktif.com.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Al Amin Mengaku Tak Berpengaruh di Komisi Kehutanan DPR - 05 Sep 2008 | 21:02 WIB
Kapolda Jawa Barat Mengaku Ditawari Suap Rp 10 Miliar - 05 Sep 2008 | 20:53 WIB
Hughes Bersumpah Jadikan City Raksasa Eropa - 05 Sep 2008 | 20:53 WIB
Bupati Aceh Besar Mundur, Surat ke Menteri Ditulis Tangan - 05 Sep 2008 | 20:44 WIB
Simulasi Pemilihan 2009 Dinilai Tak Efektif - 05 Sep 2008 | 20:40 WIB
Bapepam Akan Gugat Eurocapital - 05 Sep 2008 | 20:32 WIB
Buffon Bantah Hengkang ke City - 05 Sep 2008 | 20:30 WIB
Menteri Anggap Enteng Keluhan Guru Sabah - 05 Sep 2008 | 20:26 WIB
Siaran Liga Inggris Astro Sampai Akhir September - 05 Sep 2008 | 20:25 WIB
Bangun di Lahan Konservasi Kena Pajak Tinggi - 05 Sep 2008 | 20:22 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data