Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 28/XXXII/08 - 14 September 2003
   
Nasional

Paman-Keponakan Siap ke Pengadilan

Para kiai NU menentang reposisi Saifullah Yusuf sebagai Sekjen PKB. Gus Dur membeberkan "dosa kumulatif" kemenakannya.

KETUA Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa, K.H. Abdurrahman Wahid, murka. Wajahnya tegang, memerah. Bibir dan kedua tangannya bergetar menahan emosi. Tiba-tiba, brak! Dia menggebrak meja. "Pokoknya, saya sudah tidak percaya lagi pada Saiful. Dia bohong," cetusnya dalam nada tinggi.

Suasana rapat Dewan Syuro di Sekretariat DPP PKB Kalibata, Jakarta Selatan, dari bakda asar hingga tengah malam, Senin pekan kemarin, sontak senyap sejenak. Sebelum itu, satu per satu anggota Dewan Syuro merespons laporan "Tim Tiga" pimpinan K.H. Nur Iskandar Al-Barsany, yang merekomendasi pemberian sanksi kepada Saifullah selaku Sekjen PKB.

Tim beranggotakan Mahfud Md. dan A.S. Hikam itu, sejak awal Juli, bertugas mengklarifikasi berbagai dugaan pelanggaran Saifullah. Hasilnya, dalam laporan dua halaman, Al-Barsany hanya mengungkapkan sikap indisipliner Saifullah dalam hal penolakannya terhadap rencana pembentukan Partai Kebangkitan Nasional (PKN) sebagai pengganti PKB. Juga soal kerangka islah yang dianggap menyimpang dari amanat Muktamar Luar Biasa PKB di Yogyakarta, Januari 2002.

Menyikapi rekomendasi Tim Tiga, peserta rapat terbelah. Tapi yang membuat sang mantan presiden begitu emosional adalah saat K.H. Yusuf Muhammad mengusulkan agar, ke depan, Saifullah selaku Sekjen diberi akses penyampaian laporan langsung ke Gus Dur selaku Ketua Dewan Syuro. Sebab, selama ini para kiai menilai Gus Dur lebih banyak mendapatkan masukan dari elite PKB seperti Alwi Shihab, A.S. Hikam, Mahfud Md., dan Arifin Junaidi, ketimbang dari Saifullah.

Dalam rapat itu, menurut sumber TEMPO, Gus Dur lalu membeberkan "dosa" kumulatif sang keponakan. Saifullah dinilai terus-menerus berusaha memblokade upaya pencalonan kembali Gus Dur sebagai presiden. Dia juga merasa dibohongi, karena ketika pamit berumroh bersama para kiai, pertengahan Agustus lalu, Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor itu mengaku tak punya sponsor pembiayaan dari pihak swasta. Tapi kemudian, Gus Dur mengaku mendapat laporan dari para pengusaha bahwa mereka telah dimintai biaya umroh. "Kalau orang bohong terus kayak begini, gimana bisa dipercaya jadi pemimpin," ujar si sumber menirukan kekesalan cucu pendiri NU itu.

Namun, dengan deretan "dosa" itu, para kiai anggota Dewan Syuro justru bersatu nada membela Saifullah. Tiga wakil ketua Dewan Syuro, Idris Marzuki, Irfan Zidni, dan Cholil Bisri, ngotot menolak opsi reposisi. Juga Husen Muhammad, Humaidi Dahlan, dan Nur Iskandar Al-Barsany. Mereka berkeras agar sanksi sebaiknya diberikan setelah Pemilu 2004. "Kami cuma mengikuti tausiah (nasihat) para kiai," ujar Kiai Cholil.

Seorang kiai, yang namanya tak ingin disebut, seangguk dengan Cholil. Bahkan, bagi dia, penentangan Saifullah atas pencalonan kembali Gus Dur sebagai presiden merupakan sikap kiai NU pada umumnya. Jauh sebelum menjadi presiden pun, mereka lebih suka agar putra K.H. Wahid Hasyim itu menjadi "guru bangsa" saja.

Saifullah justru dinilai para kiai sebagai kader murni NU penuh potensi. Selain berpengalaman berorganisasi, ia mahir melobi. Maka, jika kini dia dipecat lebih karena ketersinggungan Gus Dur, para kiai pun membela habis. "Kasihan kalau karakternya sudah dimatikan sejak dini. Kalau ada kesalahan, ya wajar, masih bisa diperbaiki," ujarnya.

Saifullah sendiri hanya geleng-geleng kepala dengan beberan sang paman. Baginya, semua tudingan dan juga keputusan pemecatan dirinya sama tak masuk akal. Karena itu, dia bertekad tetap berpegang pada AD/ART Partai. Kalau perlu, ke meja hijau pun, seperti yang ditempuh Matori Abdul Djalil, bakal dia lakoni. "Secara substansi, prosedur, teknis, dan dukungan kiai, keputusan itu keliru," katanya.

Sekretaris Dewan Syuro Arifin Junaidi yakin bahwa Gus Dur bakal bergeming dengan keputusan rapat Dewan Syuro. Seperti biasa, katanya, dia telah memperhitungkan semua tentangan para kiai, bahkan termasuk ancaman beperkara ke pengadilan. "Gus Dur bilang reposisi itu justru menunjukkan ketegasan Partai menegakkan disiplin, terhadap kerabat sekalipun," katanya.

Namun, dari Rembang, K.H. Mustofa Bisri, yang dikenal disegani para kiai lainnya, telah melemparkan peringatan keras jika Gus Dur dkk. tetap memecat Saifullah. "Kalau nanti pleno tetap memecat Saifullah, ya, tunggu saja," katanya.

Sudrajat, Fajar W.H.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Klub Raksasa Inggris Bertambah Satu - 05 Sep 2008 | 14:58 WIB
Lima Hari, Lima Mayat Bayi - 05 Sep 2008 | 14:56 WIB
Pemerintah Diminta Segera Terbitkan PP Pendidikan - 05 Sep 2008 | 14:52 WIB
Minyak Tanah Non Subsidi Dijual Untuk Umum - 05 Sep 2008 | 14:50 WIB
Warga Perkarakan Lahan Pengembang Alam Sutera - 05 Sep 2008 | 14:50 WIB
Pemerintah Diminta Sediakan Buku Gratis - 05 Sep 2008 | 14:50 WIB
Soal Busway Koridor Baru, Jakarta Bungkam - 05 Sep 2008 | 14:50 WIB
Communicator di Luar Pakem - 05 Sep 2008 | 14:49 WIB
Jalur Motor Bukan Solusi Kemacetan Jakarta - 05 Sep 2008 | 14:34 WIB
Polisi Periksa Saksi Pembunuhan Putri Azhar - 05 Sep 2008 | 14:33 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data