Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 28/XXXII/08 - 14 September 2003
   
Laporan Utama

Sementara Nebeng Partai Demokrat

DARI ruang sempit di lantai dua di pojok Perumahan Patra, Jalan Ahmad Yani, Jakarta Pusat, Max Sopacua tengah sibuk mengurus setumpuk dokumen. Jumat malam pekan lalu itu, mantan reporter dan penyiar senior TVRI yang biasa meliput sepak bola itu bukan sedang memperhatikan naskah berita. Ia tengah begadang mempersiapkan perhelatan latihan kepemimpinan Partai Demokrat.

Partai pendatang baru ini memang tak bisa dipisahkan dari sosok Susilo Bambang Yudhoyono. Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan itu tercatat sebagai salah seorang pendiri partai berlambang bintang segi tiga itu pada 9 September 2001 lalu. Max Sopacua menjabat wakil sekretaris jenderal. Ketua umumnya dipegang Budhi Santoso, bekas Rektor Universitas Indonesia.

Acara temu kader pertama ini terbilang hajat besar, direncanakan berlangsung di Bogor, Jawa Barat, Ahad pekan lalu. Para kader partai dari pelbagai daerah akan datang. Mereka mengundang pimpinan di 30 provinsi, plus pimpinan cabang partai dari 364 kabupaten dan kota madya se-Indonesia. Menurut Max, Menteri Yudhoyono atau lebih dikenal dengan sapaan SBY akan hadir khusus membuka pertemuan. "Kehadirannya akan mengobati kerinduan para kader, yang sudah lama menanti SBY tampil," ujar Budhi Santoso.

Partai dibentuk jelas punya maksud. Menurut Budhi, guru besar antropologi dari Universitas Indonesia ini, partainya memang didirikan untuk menjadi kendaraan politik bagi Yudhoyono. Tak jelas apakah targetnya Yudhoyono for president, atau wakil presiden pun tak apa. Yang jelas, mereka harus berupaya meraih minimal 3 persen suara agar bisa membopong calonnya dalam kancah pemilihan presiden mendatang. Berat. Selain partai besar ikut berlaga, puluhan partai baru bisa jadi sandungan meraih suara. "Kami juga membuka pintu bagi partai lain untuk mencalonkan SBY," kata Max.

Partai Demokrat dideklarasikan beberapa intelektual kampus, seniman, mantan birokrat, dan pengusaha. Mereka mengaku kecewa karena Yudhoyono gagal tampil sebagai kandidat wakil presiden dalam Sidang Umum MPR 1999 lalu. Saat itu, mantan Kepala Staf Teritorial ABRI itu terganjal menduduki kursi RI-2 lantaran kepentok aturan yang menyebut presiden dan wakil presiden harus orang partai.

Simpatisan Yudhoyono lalu berembuk. Ada sejumlah aktivis seperti Vence Rumangkang, Ahmad Mubarok, dan Yani Wahid. Mereka lalu berdiskusi pentingnya mendirikan partai politik. Belakangan, ada dukungan dari para guru besar kampus seperti Budhi Santoso dari Universitas Indonesia, Irzan Tanjung dan Sri Sumatri dari Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta—belakangan ia memilih tetap nonpartisan. Dari kalangan artis, dimotori Heroe Syswanto, yang dikenal dengan panggilan Sys NS.

Partai yang mengusung Yudhoyono ini lalu didaftarkan ke Departemen Kehakiman 10 September 2001 lalu. Dalam waktu dua tahun, jajaran kepengurusan sudah berdiri di 30 provinsi. Menurut Budhi, kebanyakan inisiatif pendirian partai di daerah muncul dari warga. "Kami tak punya duit untuk mendirikan begitu banyak kantor di daerah," katanya. Meski begitu, Partai Demokrat mengklaim bercokol sampai ke daerah konflik di Aceh Tengah. "Anak pengurus partai di sana sempat diculik GAM gara-gara membaca teks kesetiaan pada Republik," kata Budhi.

Kabar bagus datang di Jakarta. Pada Agustus lalu, Departemen Kehakiman menyatakan Demokrat lolos uji verifikasi sebagai partai yang bisa berlaga pada Pemilu 2004. Keberuntungan bertambah dengan hadirnya tokoh populer sekaliber Yudhoyono, sang pendiri yang siap mengibarkan panji-panji bintang tiga merah-putih dengan warna dasar biru itu. Tak jadi soal meski sang patron, yang kerap tampil necis itu, kadang masih malu-malu mengibarkan bendera politiknya ini di depan publik. "Masa, sebagai pembantu presiden sudah tampil menantang," kata Max Sopacua.

Edy Budiyarso


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
26/XXXVII/18 - 24 Agustus 2008

 

Berita lainnya

Ketinggian Pohon Punya Batas - 21 Ags 2008 | 22:57 WIB
Polisi Jawa Barat Ingatkan Pelaku Pembajakan - 21 Ags 2008 | 22:56 WIB
Susyana Rebut Perunggu - 21 Ags 2008 | 22:43 WIB
Kontras Desak Semua Saksi Peradilan Muchdi Dihadirkan - 21 Ags 2008 | 21:43 WIB
Terlibat Pidana, 15 Polisi Terancam Dipecat - 21 Ags 2008 | 21:25 WIB
Kualitas Laporan Keuangan Daerah Makin Buruk - 21 Ags 2008 | 21:19 WIB
Rio Tinto Tunggu Persetujuan Pemda dan DPR - 21 Ags 2008 | 21:18 WIB
Partai Politik Segera Dapat Dana Bantuan Pemerintah - 21 Ags 2008 | 21:12 WIB
Polisi Cokok Dua Jaringan Narkoba Afrika - 21 Ags 2008 | 21:06 WIB
KPU Tak Punya Aturan Tentang Kepala Desa yang Jadi Calon Legislator - 21 Ags 2008 | 20:59 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data