Agar Arwah Tak Telantar Umat Tri Dharma di Semarang menutup ritual Ulambana di Kelenteng Tay Kak Sie. Termewah sejak 1965. |
SAMADIJO Setijo, 68 tahun, gemetar. Tangannya menggenggam lilin menyala. Membungkukkan badan, cekatan ia menyulutkan lilin itu ke kaki replika Tjiap In Tay To Su (Dewi Kwan Im dalam wujud mengerikan).
Yang lain mengikuti langkah sang kakek. Menyulut rumah, uang, kertas doa, batangan emas, perak, sesajian, kapal…. Wah!
Byar.... Api membakar dengan hebatnya. Samadijo mundur beberapa langkah ke posisi mudra, menyembah sarana puja yang mulai menyala. Hanya menyisakan abu. Umat Tri Dharma percaya, saat itulah Dewa Akhirat mendatangi sekeliling kelenteng menjemput para arwah, yang "menggelandang", ke alam abadi.
Membakar uang dan batangan emas? Nanti dulu. Itu semua hanya tiruan—hanya "uang-uangan dan emas-emasan".
Pembakaran menjadi klimaks dalam Sembahyang Rebutan, King Hoo Ping. Atau dikenal pula sebagai Ulambana dalam religi Buddhisme di sejumlah kelenteng di Semarang. Tahun ini, puncak Ulambana bagi umat Tri Dharma setempat digelar pada Selasa dua pekan lalu, bertepatan dengan hari akhir bulan 7 (Djit Gwee) di kelenteng berusia 2,5 abad itu. Pilihan pada tanggal ini karena merupakan hari kebesaran Ksitigarbha Bodhisattva atau Ti Cang Wang Po Sat.
Ritual tahunan umat Tri Dharma (Konghucu, Tao, dan Buddha) itu digelar sejak 15 hingga 30 bulan 7 ( Djit Gwee) penanggalan Imlek. "Ini penutupan Ulambana bagi kelenteng di sekitar Semarang," kata Samadijo, Ketua Yayasan Kematian Tji Lan Tjay Semarang. Ia pemrakarsanya bersama Yayasan Kelenteng Tay Kak Sie
Mereka percaya, para arwah telantar yang tak dirawat keluarganya akan menderita di alam akhirat. "Mereka kan seperti di sini, butuh hidup sejahtera, perlu uang, pakaian, rumah. Inilah saatnya kami berbakti kepada mereka," ujar Samadijo.
Karena para arwah yang disembahyangi "tak teratur", harus ditunggui Dewi Kwan Im dalam wujud setan, lengkap dengan lidah terjulur ke tanah. "Adanya patung kertas Dewi Kwan Im dalam wujud Tjiap In Tay To Su itu supaya para arwah tertib tak berebutan persembahan kita," ujar Tio Tian Gie, seorang sesepuh Kelenteng Tay Kak Sie yang juga dalang Wayang Potehi terkenal di Semarang.
Ulambana diawali dengan doa pembuka sembahyang arwah oleh Tio Tiong Gie sebagai tokoh spiritual Tri Dharma di Semarang. Tujuannya, meminta doa agar seluruh acara sembahyangan lancar dan semua keinginan makbul.
Kemudian, panitia bergotong-royong menyiapkan 108 macam sesaji: nasi berikut lauk-pauk, bak pao, aneka kue tradisional, buah, ingkung (daging bebek utuh). Semua disajikan dalam meja 3 x 5 meter berhias kertas aneka warna, dan diletakkan lurus di pintu Kelenteng Tay Kak Sie. Di sisi kanan-kiri diapit meja kecil dengan aneka sesaji pendamping. Di bagian luar dijejer babi dan kambing panggang utuh.
Di altar luar, dipajang sarana puja lainnya: gunungan kue moho (mirip bakpau), pisang emas, dan wajik merah setinggi enam meter. Ini istimewa, karena untuk membuat wajik itu, sedikitnya dibutuhkan empat kuintal beras ketan. "Memang kita buat agak luar biasa ketimbang biasanya," kata Samadijo.
Dalam situs resmi Wali Umat Buddha Indonesia (Walubi), pelaksanaan Ulambana sebenarnya tak harus menyertakan sarana puja selengkap itu. Yang disyaratkan dalam kitab suci, menurut Biksu Dutavira Mahasthavira, minimal 5 macam buah, nasi, 6 macam sayur kering/matang, 6 macam manisan, 5 macam minuman atau cairan, hio, bunga segar, dan lilin. "Cuma, kalau mau sempurna, ya 108 macam makanan seperti ini," kata Samadijo.
Setelah semua sesajian siap, Biksu Dharmavijayo dan pengiringnya tampil membacakan parita. Dipohonkan kepada Tuhan agar para arwah leluhur selamat di alam kekal menuju Sukhavati dan diampuni dosa-dosanya.
Berikutnya, sesepuh Tay Kak Sie, Samadijo Setijo, meminta izin dengan melempar pwee, semacam kayu berbentuk simbol yin dan yang, kepada arwah Sang Buddha. Jika sepasang pwee ini berposisi terbuka dan tertutup, berarti Sang Buddha merestui sembahyangan. Dianggap sudah selesai, aneka sajian makanan dan beras untuk fakir miskin lalu dibagikan. Kini saatnya acara penutup: membakar replika uang akhirat dan kebutuhan arwah.
"Dulu, pada tahun 60-an, kita berebut, makanya dinamakan sembahyang rebutan. Tapi, kalau begitu, yang fisiknya lemah tak kebagian. Makanya, kami membaginya merata," tutur seorang panitia.
Selain makanan matang, untuk fakir miskin disediakan 25 ton beras dan ribuan mi instan. "Salah satu inti Ulambana kan menjalankan cinta kasih dengan memberikan sedekah kepada fakir miskin," kata Samadijo.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, sembahyang rebutan tahun ini sangat meriah, digelar besar-besaran. Menurut Budiharto, seorang umat yang hadir, pada tahun 65-an ia masih menyaksikannya, tapi kemudian tak ada lagi. Karena itu, sebagai penganut Tri Dharma, ia senang bisa terlibat dalam sembahyangan lagi, apalagi semeriah itu.
"Ini memang sembahyangan terbesar setelah 30 tahunan tak bisa digelar seperti ini," ujar Samadijo. Biayanya sedikitnya Rp 100 juta.
Adi Prasetya (Semarang)
|