Upaya Merayakan Keberagaman Pesta Sastra Internasional Utan Kayu 2003 digelar. Sejumlah sastrawan dari 10 negara ambil bagian. |
Ketika Indonesia tengah disibukkan oleh berbagai dampak peledakan bom di beberapa kota, Teater Utan Kayu, untuk kedua kalinya, justru menggelar sebuah pesta sastra berskala internasional. Dengan mengambil tema "Iman", penyelenggaraan kali ini memang dimaksudkan sebagai usaha melihat wajah agama dan kepercayaanyang telanjur berwajah keras dan marahdari sisi yang berbeda.
Diikuti oleh sejumlah sastrawan dari 10 negara, keseluruhan acara diadakan di tiga kota, yaitu Denpasar (22-23 Agustus 2003), Solo (25-26 Agustus 2003), dan Jakarta (28 Agustus-1 September 2003). Sebuah perhelatan yang sibuk. Sebuah acara yang tidak cuma membutuhkan biaya, tapi juga tenaga dan kesabaran yang besar.
Sudah lama Teater Utan Kayu berkeinginan agar Indonesia memiliki festival sastra internasional yang bersifat rutin dan berkelanjutan. Maka, acara bertajuk "Pesta Sastra Internasional Utan Kayu 2003" ini diselenggarakan sebagai kelanjutan dari Festival Puisi Winternachten 2001. Apa yang diharapkan dari acara ini tentu saja adalah pertukaran pengalaman para sastrawan dari latar budaya dan bangsa yang berbeda.
Bekerja sama dengan Tulus Ngayah, acara ini dibuka di Wantilan Art Center Denpasar dengan menampilkan Teater Kukuruyuk, pembacaan puisi oleh Frans Najira, Oka Rusmini, dan musik mantra oleh kelompok Hare Krisna. Kegiatan hari kedua diisi dengan diskusi antar-iman dengan pembicara Ulil Abshar Abdalla, pembacaan puisi Umbu Landu Paranggi, Warih Wisatsana, dan Putu Vivi Lestari (Bali), Curd Duca dan Ide Huntze (Austria), serta pentas musikalisasi puisi oleh Denise Jannah (Suriname).
Sejalan dengan acara tersebut, di Kuta diadakan pula creative workshop puisi bunyi (22-24 Agustus 2003), yang terselenggara atas kerja sama TUK dengan Sekolah Puisi Wina, Austria. Dalam kegiatan ini dilakukan eksplorasi kekayaan ritualmusik, sastra, dan mantradalam berbagai kepercayaan, baik tradisional maupun modern, yang berpotensi menjadi pengalaman seni.
Paruh berikut acara tersebut diselenggarakan di Taman Budaya Surakarta, Solo. Tampil dalam kesempatan ini musisi kontemporer Wayan Sadra sebagai pembuka acara. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh Mustofa Bisri, novelis Ahmad Tohari, penulis cerpen Triyanto Triwikromo, Raudhal Tanjung Banua, dan Timur Sinar Suprabana.
"Kami menyelenggarakan Pesta Sastra ini karena kami mengimani sastra, sebagai ruang tempat kami bergulat dengan pemikiranbernegosiasi dengan dan dalam bahasatentang berbagai persoalan hidup yang hakiki," ujar penyair Goenawan Mohamad ketika mengantar putaran terakhir acara tersebut pada 28 Agustus 2003 di Teater Utan Kayu.
Pada malam pertama, tampil kelompok musik Syahrial & Group, pembacaan prosa oleh Linda Christanty, pembacaan puisi Changa Hickinson (Aruba), puisi bunyi oleh Curd Duca, pembacaan karya puisi Grant Caldwell (Australia), dan pembacaan prosa oleh Putu Wijaya.
Dua hari terakhir di Teater Utan Kayu diisi dengan pembacaan puisi Ari Pahala Hutabarat, Adriaan van Dis (Belanda), Chitra Gajadien (Suriname), Sapardi Djoko Damono, Sello Duiker (Afrika Selatan), Nur Zain Hae, Leow Puay Tin (Malaysia), pembacaan karya Eva Christina Zeller (Jerman) dan Nukila Amal oleh Niniek L. Karim, dan musik oleh Maya Hasan, Simak Dialog, Tony Prabowo, dan Nyak Ina Raseuki.
Acara lain adalah "Pameran Naskah Puisi" di Toko Buku QB di Kemang, presentasi hasil workshop puisi bunyi di Jamz Pub & Resto (31 Agustus 2003), dan pembacaan serta diskusi karya Adriaan van Dis, Chitra Gajadien, Changa Hickinson, dan Sello Duiker di Erasmus Huis (1 September 2003).
Alangkah riuhnya. Seolah-olah seluruh acara memang dikemas untuk merayakan keberagaman. Perbedaan pandangan, latar belakang budaya, bangsa, keimanan, bahkan sikap kesenimanan mendadak menyatu dalam sebuah pesta sastra. Semua dicoba syukuri, diapresiasi.
Pada akhirnya, sebuah ajakan dan niat memang membutuhkan banyak hal dalam mewujudkannya. Toh, acara yang dimaksud sebagai salah satu bentuk silaturahmi ini pun sempat dipertanyakan karena tidak melibatkan sastrawan setempat. Munculnya pernyataan seniman dari Solo, misalnya, yang menganggap acara tersebut sebagai bentuk keangkuhan yang merupakan cerminan sikap serta cara pandang yang tertutup terhadap kenyataan hidup bersama.
Pihak penyelenggara tentu memiliki alasan dan keterbatasan sendiri dalam pelaksanaan pesta sastra ini. Sementara itu, orang-orang yang tidak puas barangkali tidak cukup arif untuk mau berendah hati, berusaha memahaminya. Kita hanya punya dua tangan untuk berangkulan.
Ags. Arya Dipayana, sutradara, pekerja teater
|