Bison Gemuk Indian Modern Judi telah menyejahterakan banyak suku Indian. Betulkah mafia ikut bermain di belakangnya? |
Anda lihat lelaki di sana?" perempuan lanjut usia itu tiba-tiba bertanya kepada saya. Kami baru saja mengunyah roti panggang dan menyeruput kopi panas di restoran Hotel Kewadin Casino, Sault Ste. Marie, Michigan, Amerika Serikat.Hari masih pagi. Matahari di awal musim semi belumlagi utuh bentuknya. Saya menoleh ke arah pria yangia tunjuk dengan dagu: seorang lelaki uzur denganmuka kusut seperti uang kertas yang telah puluhankali berpindah tangan.
Mata lelaki itu tak lepas dari mesinjackpot di depannya, sementara tangannya sibuk memasukkankoin dan menarik tuas. "Ia suami saya. Ia sudahkehilangan mobil pick-up-nya gara-gara judi. Saya ikut kesini untuk membantunya menghilangkan rumahkami," kata perempuan itu tergelak.
Wanita itu mungkin sekadar bercanda. Atau, barangkali ia memang benar-benar kesal dengan suaminya, lalu memilih ikut-ikutan menguras harta mereka di meja judi. Yang pasti, orang-orang lanjutusia kulit putih adalah pemandangan umum di kasinoKewadin. Mereka biasanya datang berombongan, dijemput dengan bus hotel. Penampilan para tamuwanita lanjut usia ini nyaris seragam: gemuk,berkacamata, dengan rambut putih sebahu yang sudah dibuatikal permanen ala tahun 1970-an. "Anak-anak sayatak senang saya berjudi. Tapi bagaimana lagi. Dirumah, saya kesepian," kata seorang tamu wanita lainnya.
Orang bisa bilang bahwa warga sepuh yangberjudi habis-habisan adalah fenomena menyedihkan.Sepantasnya, mereka menyibukkan diri dengan urusanakhirat. Tapi pandangan macam ini tentu tak bakalandiamini oleh suku-suku Indian Amerika. Para tamuini adalah tambang emas mereka. Tak mengherankanbila aneka fasilitas disediakan bagi mereka yangmau membakar uang di meja kasino. Dari pembagiankoin judi gratis hingga pertunjukan artis kelas duniamacam Julio Iglesias, B.B. King, atau Kenny Loggins.
Kasino saat ini adalah pengganti bison masalalu yang dimanfaatkan warga Indian Amerika untukmelangsungkan hidup mereka. Kasino Indian terbukti menjadi katalis utama pertumbuhan komunitasdan perkembangan ekonomi rakyat Indian—jauhmelebihi pencapaian yang didapat lewat stimulus finansialdari pemerintah federal.
Nyaris tak ada komunitas Indian—biasa disebutreservasi—yang tak punya kasino saat ini. Bay Millssaja, tetangga Ojibwe Sault Sainte Marie, Michigan,yang terletak di daerah pelosok yang menghadap DanauSuperior, punya tiga kasino besar. Total kasino disemua reservasi Indian saat ini mendekati 600 buah.
Kasino pesat, uangnya pun mengalir hebat. Menurut National Indian Gaming Commission, padaakhir tahun fiskal 2002 kasino Indian mampu merauppemasukan sebesar US$ 14,5 miliar (Rp 123 triliunpada kurs Rp 8.500 per dolar). Angka ini naik 13persen dari pemasukan US$ 12,8 miliar pada tahun 2001.Secara keseluruhan, income kasino Indian sebesar Rp 123 triliun itu memang masih kalahdibandingkan dengan gabungan kasino komersial di Las Vegas,Atlantic City, dan kapal judi yang menyusurisungai Mississippi dan Ohio, yang mencapai US$ 26,5miliar (Rp 178 triliun) pada tahun yang sama.Namun, kenaikan pemasukan yang diperoleh kasinokomersial ini hanyalah 3 persen dari tahun sebelumnya.
Dari mana ide cemerlang pendirian kasino Indian ini berasal? Mungkin terasa lucu atau ironis,maraknya kasino justru berawal dari semangat berdaulatsuku Indian yang kuat bergema di pertengahan tahun70-an. Untuk berdaulat, perlu kemandirian ekonomi. Mengingat masa itu judi lotere dan bingo banyakdiminati, masuk akal bila cara yang dipilih adalahmendirikan rumah judi.
Awalnya, ide ini ditentang banyak pemerintahnegara bagian. Mereka tak ingin daerah merekamenjadi Las Vegas kedua. Namun, suku Indian takmundur. Mereka mengajukan ihwal ini ke MahkamahAgung Amerika Serikat. Dalihnya, suku Indian yangtelah diakui pemerintah federal punya kedaulatanpenuh mengatur perekonomian di reservasi merekasendiri. Reservasi adalah negara (state) mereka.Mahkamah Agung memutuskan, selama bingo dan judi alaLas Vegas tak digolongkan sebagai kejahatan di suatunegara bagian, suku Indian berhak mendirikankasino di sana. Pada 14 Desember 1979, SeminoleCasino Hollywood di Florida menjadi rumah judi Indianpertama yang dibuka di Amerika.
Namun, perjalanan kasino Indian banyak sandungannya. Pemerintah negara bagian yangsemula risi judi berubah pikiran begitu sadar derasnyaaliran uang. Mereka mulai mencoba mendapat potongankue manis ini. Padahal, menurut Undang-Undang Pengaturan Judi Indian (Indian Gaming RegulatoryAct atau IGRA), yang disahkan Kongres AS padatahun 1988, kasino Indian hanya boleh dimiliki dan dijalankan suku Indian yang bersangkutandengan hasil utama diperuntukkan bagikesejahteraan anggota komunitas (anggota suku, misalnya,"diimbau" agar tidak ikut main judi). Walhasil,pengadilan menjadi tempat pertarungan baru suku Indian.Ada yang menang, ada yang kalah.
Saat ini suku Indian banyak melakukan lobikepada anggota Kongres dan DPR AS agar kasino merekatidak diusik pemerintah negara bagian. Masalahnya, hasil kasino mereka bukanlah untukbermewah-mewah membeli pesawat jet atau kapal pesiarseperti yang dilakukan Donald Trump, misalnya. Kasinoadalah jembatan untuk menolong mereka memperolehapa yang dulu mereka punyai: martabat, kebebasanmenentukan pilihan, dan kemandirian ekonomi.
Argumen tersebut bukan bualan. Rumah judiIndian sudah terbukti mustajab. Banyak pekerjaan danaktivitas ekonomi digerakkan oleh kasino. Imbasnyajuga melampaui batas reservasi, bahkan komunitaslokal non-Indian dan pemerintah negara bagian juga kecipratan. Secara nasional, kasino Indiantelah menyerap tenaga kerja langsung sekitar 120 ribuorang dan tak langsung sekitar 160 ribu. Di saat banyakpemerintah negara bagian tak sanggup menyediakan lapangan kerja, jumlah pekerja yang diserapkasino Indian ini tak boleh disepelekan.
Di Michigan, tempat keluarga besar suku Ojibwe bermukim, misalnya, ada delapan kasino kelasIII (yang tertinggi) yang mempekerjakan hampir2.000 orang—40 persen di antara mereka adalah bukanIndian. Per tahun, gaji total para pekerja inimencapai US$ 13,5 juta (Rp 1,15 triliun), dan pajak negarabagian dan federal yang mereka bayar sekitar US$700 ribu (Rp 5,95 miliar). Sebelum ada kasino, nyarisseparuh pegawai rumah judi hidup dengan sokongan pemerintah federal, sementara sepertiga lainnyalebih buruk lagi: menjadi penganggur sejati yangmenggantungkan hidup pada uang kompensasi.
Saat ini, dengan rata-rata 60 ribu pengunjungyang datang ke kasino Indian di Michigan, ekonomi dikota kecil macam St. Saint Marie pun bisa berdenyutkencang. Separuh lebih tamu yang datang dariKanada dan negara bagian lain juga memerlukanpenginapan, makanan, bensin untuk mobil mereka, dananeka kebutuhan lain. Ada efek domino di sana.
Ketika kasino mulai tumbuh, banyak pihak yang menyatakan ada banyak alternatif untukmenyejahterakan suku Indian ketimbang perjudian. Faktanya, rumah judi ini adalah alatpertumbuhan ekonomi pertama dan satu-satunya yang berhasilbekerja di reservasi. Banyak reservasi Indian beradadi lokasi yang terpencil, tak nyaman, yang jarangdilirik sebelah mata. Sebelum ada rumah judi, praktishanya ada sedikit cerita sukses di reservasi.
Kasino Indian memang madu kelas satu. Itulah sebabnya banyak cerita bertiup tentangbagaimana mafia ikut bermain mengendalikan bisnis legitini. Maklumlah, Las Vegas dulu berdiri juga karenaide Bugsy Siegel, salah seorang gembong kelompokmafia AS kenamaan, Lucky Luciano. Benarkah tudingan itu?
Resminya, hal ini disangkal habis-habisan olehsuku Indian. Mereka menunjukkan bukti bahwa banyak suku yang menerapkan aturan main yangtegas. Pengelola kasino Indian juga sering merujukkesaksian Jim Moody, kepala seksi FBI untuk urusankejahatan terorganisasi, di depan DPR AS pada tahun 1993."Tak ada informasi yang cukup untuk mendukungpernyataan bahwa kelompok kriminal terorganisasitelah menyusup ke rumah judi Indian. Semua ituhanya rumor dan kabar burung," kata Moody.
Tapi kesaksian Moody nyatanya tak meruntuhkan cerita pemain bayangan ini. Jeffrey Holt, anggotasuku Ojibwe di Sault Sainte Marie yang bekerja dibagian perencanaan dan pengembangan kota, dalamacara makan siang bersama mengakui adanya indikasi keterlibatan mafia. "Pembuktiannya sulit, tapibaunya tercium tajam," kata Holt. Ia mencontohkanbeberapa suku yang tak punya sense bisnis lalumemasrahkan rumah judi mereka kepada mafia. Lalu, anggotasuku tinggal terima pembagian keuntungan.
Uang hasil kasino kemudian tak diputarkan dibisnis lain atau dimanfaatkan untuk membangunfasilitas sosial. Akibatnya, dana kerap dipakai secarangawur. Banyak warga suku Indian semacam inikemudian menjadi pecandu alkohol. Pertengkaran kerapmuncul antara kepala suku, memperebutkan kasino mereka di tiap reservasi. Biasanya, usai ribut-ribut,ada yang tertendang. Pertengkaran inidisebut-sebut merupakan indikasi lain peran mafia dalampengelolaan kasino.
Bagi orang Indian, mungkin tak terlalu penting siapa yang mengolah rumah judi suku mereka. Selama bisnis aman dan pemasukan lancar, mereka barangkali tetap bisa tenang-tenang saja tersenyum. Dan fakta berikut telah membuat senyum mereka makin lebar: uang yang dikeruk orang Indian dari bisnis kasino sebagian besar adalah harta orang kulit putih—sebuah ras yang selama berabad-abad telah membuat mereka miskin di tanah mereka sendiri.
|