Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 27/XXXII/01 - 7 September 2003
   
Obituari

Perginya Seorang Pembela Bung Karno

Manai Sophiaan menutup mata Jumat pekan lalu. Ia meninggalkan pelajaran penting tentang apa arti sebuah kesetiaan.

Aroma melati membekap rumah di Jalan Taman Wijaya Kusuma, Cilandak, Jakarta. Di ruang tengah yang luas, jenazah Manai Sophiaan, 88 tahun, terbujur dalam balutan kain batik berwarna cokelat kehitaman. Tubuh jenazah bekas tokoh Partai Nasional Indonesia ini dibaringkan menghadap Ka'bah. Lamat-lamat terdengar alunan surat Yasin yang menembus jantung. "Salaamun qaulam mirrobbir rahim..." (Damai dari Tuhan Yang Maha Pengasih.)

Kematian Manai Sophiaan, Jumat lalu, membuka ingatan publik pada hubungan mesra Manai dengan Presiden Sukarno. Maklumlah, bekas wartawan kelahiran Takalar, Makassar, 5 September 1915 ini merupakan pendukung Bung Karno yang setia. Manai pernah diminta Bung Karno menjadi Duta Besar RI di Rusia (ketika itu masih bernama Uni Soviet) pada periode 1963_1967. Ketika itu, Uni Soviet merupakan salah satu negeri terpenting bagi Indonesia dalam konstelasi hubungan internasional. Pada periode itu kebijakan politik Indonesia berpaling ke blok Soviet setelah Bung Karno pada 3 Mei 1964 memutuskan keluar dari Perserikatan Bangsa-Bangsa akibat berkonflik dengan Malaysia.

Banyak cerita lucu soal hubungan Manai Sophiaan dengan Bung Karno. Manai, misalnya, dianggap banyak orang secara fisik mirip Bung Karno. Apalagi, bekas Sekjen Partai Nasional Indoneia (PNI) ini juga selalu menggunakan peci ala si Bung. Sampai-sampai, pada 1960 Perdana Menteri Inggris Harold McMilland, yang sedang berada di lobi Gedung PBB New York, sempat terkecoh. "How do you do, your excellency?" sapa McMilland kepada Manai. Rupanya, sang Perdana Menteri mengira Manai adalah Bung Karno.

Ketika pada 1967 Bung Karno tumbang, Manai Sophiaan ikut terlibas arus revolusi. Presiden Soeharto, yang baru masuk istana, langsung mencopot posisi Manai Sophiaan sebagai Duta Besar RI untuk Uni Soviet. Manai mengemas barang-barangnya di Wisma KBRI di Moskwa. Selama beberapa tahun, meski tak sempat terputus, hubungan diplomatik kedua negara memburuk. Sesampai di Indonesia, Manai kembali menekuni profesi lamanya sebagai wartawan. Ia menjadi Pemimpin Redaksi Koran Suluh Marhaen hingga tahun 1972.

Soal Bung Karno, Manai selalu bersikap "mikul duwur, mendem jero". Salah seorang penanda tangan Petisi 50 ini, misalnya, pada Januari 1991menerbitkan buku berjudul Apa yang Masih Teringat. Dalam buku yang hanya dicetak 1.000 eksemplar tersebut, Manai membela Bung Karno habis-habisan, terutama soal sikap politik dan kedekatan Bung Karno dengan PKI. Buku yang laris manis itu juga membeberkan peran bekas Ketua MPRS Jenderal A.H. Nasution dalam "menjatuhkan" Presiden Sukarno. Akibatnya, hubungan Nasution dan Manai memanas.

Tapi, kepada Majalah TEMPO yang ketika itu sempat mewawancarainya, (almarhum) A.H. Nasution membantah semua tudingan Manai. Bagi Nasution, kejatuhan Bung Karno merupakan keharusan sejarah. "Saya bukan pengkhianat. Bung Karno jatuh karena pertanggungjawabannya ditolak MPRS," ujarnya.

Tahun 1994, ayah dari tokoh PDI Perjuangan, Sophan Sophiaan, ini kembali meluncurkan buku kontroversial berjudul Kehormatan bagi yang Berhak. Dalam buku tersebut, Manai menegaskan bahwa Sukarno tak terlibat dalam peristiwa G30S. "Bagaimana mungkin Bung Karno melakukan kudeta terhadap dirinya sendiri. Sebuah logika yang aneh," ujarnya. Buku tersebut segera menuai protes dari para tokoh Angkatan 66 yang ikut mendongkel Bung Karno. Soalnya, Manai menyebut Badan Intelijen Amerika (CIA) menunggangi aksi mahasiswa pada 1966.

Di mata keluarga, Manai adalah sosok yang lugas, jujur, dan mendahulukan kepentingan orang banyak ketimbang diri sendiri dan keluarga. Sophan Sophiaan pernah bercerita, suatu ketika, saat usia Republik masih muda, Sophan kecil, 4,5 tahun, dibawa ibunya dari Makassar ke Jawa. Di stasiun kereta, Sophan menunjuk seorang lelaki yang sedan berjalan bersama Bung Karno, "Siapa orang itu?" Ibunya menjawab seraya tersenyum, "Ia ayahmu." "Kesibukan Bapak membuat ia harus meninggalkan kami dalam waktu lama," kenang Sophan.

Manai dikenal sebagai seorang suami yang manis bagi Moeniasih Paiso, istri yang memberinya enam orang anak. "Bapak meninggal dalam kesepian ditinggal mati ibu tahun lalu," ujar salah seorang anak Manai. Pihak keluarga menguburkan Manai di Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta, bersebelahan dengan makam sang istri. Di rumah duka, masih terdengar kidung doa yang sedih itu, "Salaamun qaulam mirrobbir rahim...."

Setiyardi, Poernomo Gontha Ridho (Tempo News Room)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data