Digerus Uzur Majalah berbahasa Jawa Panjebar Semangat masih bertahan di usianya yang ke-70. Tapi pembacanya kian termakan zaman. |
SEPUCUK surat yang penuh nada penyesalan sampai di meja redaksi Panjebar Semangat, awal Agustus lalu. Pengirimnya, seorang pensiunan pegawai negeri dari Surakarta berusia 83 tahun, menyatakan akan berhenti berlangganan. Sebabnya bukan karena ia tak mau, tapi lantaran matanya yang rabun sudah tak bisa lagi membaca. "Saya berharap ada anak cucu yang meneruskan. Tapi, karena tidak ada yang mau, terpaksa saya berhenti," ia menulis dengan menggunakan bahasa Jawa halus.
Si kakek, yang mengaku sudah sejak tahun 50-an berabonemen Panjebar, bukan satu-satunya pembaca yang stop membeli. Pada tahun-tahun belakangan, pembaca Panjebar berguguran. Rata-rata alasannya sama: usia mereka sudah kelewat senja.
Menggunakan bahasa Jawa keraton yang sangat halus, Panjebar memang kesulitan menarik minat anak muda zaman sekarang. "Sebanyak 97 persen pembaca kami berusia 50 tahun ke atas," kata Sri Makarti, staf tata usaha Panjebar.
Masalah ini tak cuma dialami Panjebar. Krisis pembaca muda juga menjadi persoalan bagi majalah berbahasa Jawa lain. Tengok saja Jaya Baya, mingguan sejenis di Surabaya yang didirikan pada tahun 1946 dan kini bernaung di bawah kelompok Jawa Pos. Dari 10 ribu pelanggannya, 90 persen merupakan kalangan sepuh. Begitu pula dengan Djaka Lodang di Yogyakarta, yang beroplah 8.000. "Ada pembaca dari kalangan mahasiswa seni, tapi hanya untuk penelitian," kata Subagyo, sekretaris redaksi.
Panjebar sendiri adalah sebuah media tua. Digagas oleh Dr. Soetomo, tokoh pergerakan Boedi Oetomo, dan Imam Soepardi, majalah berita ini pertama kali diterbitkan di Surabaya pada 2 September 1933. Selasa pekan ini, Panjebar akan memperingati ulang tahunnya yang ke-70.
Awalnya, Panjebar dirancang sebagai edisi khusus berbahasa Jawa dari harian Soeara Oemoem yang berbahasa Indonesia. Tujuannya, sebagai alat perjuangan untuk mengobarkan nasionalisme Indonesia di kalangan menengah ke bawah, khususnya lapisan rakyat desa yang belum melek bahasa Indonesia dan Belanda.
Pada 1942 Panjebar sempat dibredel penguasa pendudukan Jepang. Mesin cetaknya disita, para pengasuhnya diasingkan ke Malang dan Kediri. Sempat vakum tujuh tahun, pada 1949 Imam Soepardi dan Muhammad Ali menerbitkannya kembali.
Sejak saat itu hingga sekarang, tak sekalipun Panjebar absen terbit. Oplahnya bahkan sempat berjaya di angka 88 ribu eksemplar pada 1960-61. Ketika itu, jumlah ini merupakan yang terbesar untuk ukuran majalah berita, dan hanya bisa disaingi Star Weekly milik kelompok Kompas.
Setelah itu, digerus faktor usia pembacanya yang menua, tirasnya merosot terus. Bahkan pada tahun-tahun awal krisis ekonomi, oplah Panjebar terjun bebas dari sekitar 25 ribu menjadi separuhnya saja. Untuk bertahan hidup, halaman dipangkas. Dari semula 52 halaman menjadi 24 saja.
Meski bertumpu pada pembaca uzur, Panjebar masih bertahan hidup. Terbit rutin seminggu sekali, selama lima tahun terakhir tirasnya berada di kisaran 16 ribu eksemplar. Majalah yang nyaris tanpa iklan ini praktis mengandalkan uang langganan Rp 20 ribu sebulan untuk mengebulkan asap dapurnya. "Kecintaan pelanggan yang telah mendarah daging adalah faktor utama kami tetap eksis," kata Moechtar, Wakil Pemimpin Redaksi Panjebar, yang berusia 78 tahun.
Kini kendali Panjebar praktis dipegang Moechtar. Pemimpin Redaksi, Sri Lestari Siahaan, yang sudah berumur 83 tahun, sudah sakit-sakitan dan tak bisa sering-sering masuk kantor lagi.
Menurut survei Kantor Wilayah Departemen Penerangan Jawa Timur pada tahun 1995, pembaca utama Panjebar adalah dari kalangan pegawai negeri, terutama para pensiunan. Basis pelanggan mereka adalah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Lampung. Ada juga para emigran Jawa di Suriname, Belanda, Australia, dan Kaledonia Baru. Tapi, sejak krisis ekonomi, pengiriman ke luar negeri terpaksa disetop karena terbentur ongkos kirim.
Dalam situasi yang serba prihatin ini, Panjebar bertahan hidup dengan mengetatkan anggaran. Wartawannya terpaksa diupah pas-pasan. Seorang redaktur kawakan yang sudah bekerja 27 tahun di sana, misalnya, digaji Rp 700 ribu saja.
Selain itu, untuk menggaet pembaca muda, jajaran redaksi mulai disegarkan. Tenaga muda direkrut. Cuma, ini bukan soal mudah, karena mereka mesti fasih berbahasa krama inggil (Jawa halus), serta hafal di luar kepala seluk-beluk sejarah Mataram dan kisah-kisah pewayangan.
Rommy Fibri, Kukuh S. Wibowo (Surabaya)
|