Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 27/XXXII/01 - 7 September 2003
   
Laporan Khusus

Upaya Menjerat Dr. Azahari

Mengendus Gerak-gerik 'The Demolition Man' Polisi terus memburu Dr. Azahari, yang diduga masih berkeliaran di Jawa dan Sumatera. Benarkah ia pengganti Hambali dan aktor pengeboman Hotel Marriott dan Bali?

DI rumah petak di gang sempit kawasan Jalan Kalimantan, Rawa Makmur, Muara Bangkalahulu, Bengkulu, "si kacamata" lebih sering mengurung diri. Jika tak di rumah, pagi buta ia sudah pergi dan larut malam baru kembali. Namun, awal tahun lalu ia kerap tampak di kios fotokopi Lavena, milik Asmar Latin Sani, di kompleks Universitas Bengkulu di kawasan Kandung Limun, yang berjarak sebatang isapan rokok dari tempatnya indekos.

Asmar adalah tersangka eksekutor pelumat Hotel JW Marriott, Jakarta, 5 Agustus silam, yang tewas dengan tubuh berantakan dan kepala terpental di lantai lima hotel mentereng itu. Si kacamata yang pendiam itu? Dialah Dr. Azahari bin Husin. Polisi menuding dialah otak di balik peledakan bom Marriott, juga di Bali dan sejumlah tempat di Tanah Air (lihat Jejak Langkah Azahari). Bom yang meledak di depan Restoran Syailendra pas jam makan siang itu menewaskan 12 orang dan melukai ratusan lainnya. Sedangkan di Bali lebih dramatis: 202 orang tewas, ratusan lainnya luka-luka.

Azahari, lelaki berkebangsaan Malaysia berusia 46 tahun ini, menjadi orang yang paling dicari polisi setelah Hambali, kawannya selama kursus bom tingkat lanjut di Kandahar, Afganistan, tertangkap polisi Thailand dan dinas intelijen Amerika, CIA, di Ayutthaya, Thailand, tiga pekan lalu. Hambali sang pangeran teror alias Riduan Isamuddin, dari Cianjur, Jawa Barat, diincar dunia karena perannya yang penting dalam Jamaah Islamiyah, yang dicap PBB sebagai gerakan teror. Presiden Bush malah menuding Hambali bagian penting Al-Qaidah dan ikut berperan meledakkan gedung World Trade Center di New York, 11 September dua tahun lalu.

Bom Marriott, Bengkulu, Asmar Latin Sani, Azahari? Polisi punya analisis kuat benang merah mereka. Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri, Inspektur Jenderal Erwin Mappaseng, meyakini benar bom Marriott berasal dari sisa bom Natal 2000 yang dipakai komplotan Tony Togar di Medan, Sumatera Utara, dan Pekanbaru, Riau. Tudingan polisi ini dikuatkan hasil penelitian Pusat Laboratorium Forensik Mabes Polri, yang pada akhir Agustus lalu berada di Bengkulu. "Ada sisa bahan peledak di satu bilik belakang tempat usaha Asmar," ujar seorang perwira di Markas Besar kepolisian.

Bagaimana keseharian doktor kimia Universiti Teknologi Malaysia itu? "Ia seperti ingin menghindari bertemu orang," ujar seorang mahasiswa yang menjadi tetangganya (lihat Hantu Bom dari Johor). Mahasiswa lain menimpali, sekitar Maret dan April, Asmar tiba-tiba kebanjiran karyawan. Ada lima pembantu barunya, salah satunya berkacamata. Namun, hanya Idris alias Gembrot yang paling ramah kepada mahasiswa. Mahasiswa itu yakin bahwa orang-orang yang ditemuinya adalah teroris setelah polisi memperlihatkan foto-fotonya di televisi.

Polisi menduga, lima rekan baru Asmar adalah Azahari, Nurdin M. Top—keduanya warga Malaysia anggota Kumpulan Mujahidin Malaysia yang dilarang pemerintah Mahathir Mohamad—Tohir, Idris alias Gembrot, dan seorang lagi yang tak dikenal. Idris ditangkap polisi di Medan, Sumatera Utara, pertengahan Mei lalu. Di depan Pengadilan Denpasar, saat tampil sebagai saksi Ali Gufron alias Muchlas, Idris mengakui tinggal di rumah Asmar di Bengkulu, "Saya kerja di tempat fotokopian," ujarnya, Juli lalu.

Lalu, di manakah gerangan Azahari kini berada? Polisi menduga, lelaki berbahaya yang pernah menjadi instruktur bom di kamp Front Pembebasan Islam Moro (Moro Islamic Liberation Front, MILF) di Mindanao, Filipina Selatan, itu masih berkeliaran di sekitar Pulau Jawa dan Sumatera. Ada sedikit pertanda: sinyal dari handphone komplotan ini masih berkedip-kedip tak lama setelah ledakan Marriott. Namun, tanda itu kemudian lenyap setelah Hambali tertangkap di Thailand.

Intelijen Thailand punya dugaan lain. Mereka yakin Azahari sudah berada di negeri Siam. Tujuannya, duet Hambali-Azahari hendak mengacau pertemuan para pemimpin negara-negara yang tergabung dalam APEC, yang akan berlangsung di Negeri Gajah Putih itu Oktober mendatang dan dihadiri Presiden Amerika George W. Bush. Hambali, seperti ditulis Time, kepada intelijen yang mencokoknya mengaku bahwa kendali operasi Jamaah Islamiyah sudah dialihkan kepada Azahari, yang kerap dijuluki media Malaysia sebagai " The Demolition Man" itu. Inilah yang membuat aparat di negara-negara Asia Tenggara terus waswas sebelum si ahli kimia ini tertangkap.

Gerak-gerik buruan terus diendus. Para pelacak jejak kian digenjot. Polisi harus memasang kuping di mana-mana untuk mendapatkan informasi akurat. Tim Satuan Tugas Bom Marriott, yang berintikan para jagoan Mabes Polri dan Polda Metro Jaya, di bawah kendali Brigadir Jenderal Polisi Gorries Mere—yang berhasil menggulung para tersangka bom Bali 12 Oktober 2002 lalu—kini disebar di beberapa titik strategis di Sumatera, Jakarta, dan Jawa Tengah.

Hasilnya, delapan tersangka sudah ditangkap. Di antaranya Sardona Siliwangi, salah satu nama yang oleh Erwin Mappaseng dituding terkait juga dengan bom Natal dan perampokan Bank Lippo, Medan. Namun, tudingan Sardona terlibat bom Marriott dibantah keras-keras oleh pengacaranya, Muspani, dari Kantor Bantuan Hukum Bengkulu. "Kesalahan dia hanya tak melaporkan polisi tentang Asmar dkk. yang sudah berstatus buron bom Bali," katanya.

Polisi juga menemukan beberapa muka baru. Di antaranya Tohir, lelaki sekampung dengan Asmar di Malalo, Agam, Sumatera Barat. Ia diduga kuat sebagai pembeli mobil Toyota Kijang di Cibubur yang dipakai Asmar untuk meledakkan Restoran Syailendra di Hotel Marriott. Muka baru yang lain adalah Indrawarman dan Feri Kurniawan. Polisi menuding mereka mengetahui para buron dan sempat menyembunyikan bahan peledak sebelum diangkut ke Jakarta.

Menurut Sumardikoto, paman dari Indrawarman, keponakannya yang selama ini tinggal di dekat Terminal Ampas, Medan, itu memang aneh. Ia datang dan pergi mendadak. Polisi menuding, di rumah Sumardikoto—biasa disapa Koto—di Arau, Sumur Meleleh, para tersangka pernah memindahkan bahan peledak. Koto tak membantah bahwa keponakannya membawa 10 kardus rokok Gudang Garam. Saat ditanya, Indrawarman menyebut berisi baju anak-anaknya yang akan dibawa merantau ke Jakarta. "Dus itu dibiarkan di garasi," kata Koto. Benda di dalam kardus inilah yang diduga polisi berisi bahan peledak. Karena itu, Kamis lalu, tim Polda Bengkulu dan Mabes Polri menggeledah rumah Koto.

Feri juga misterius. Selama tinggal hampir tiga bulan di rumah petak milik Haji Malik Lubis dengan sewa Rp 100 ribu sebulan, di Kampung Sawah Lebar, Gading Cempaka, ia tak pernah melapor ke RT. Isham Japri sebagai ketua RT mengambil inisiatif mencari tahu pendatang asal Padang, Sumatera Barat, itu. Ia mendengar kabar bahwa Feri alumni Pesantren Ngruki, Solo, dan pernah ke Malaysia. Namun, belum terjawab tuntas penasarannya, tiba-tiba Feri yang mengaku sebagai tukang servis AC itu sudah boyongan bersama istri dan empat anaknya sebelum waktu kontrak rumah habis. Feri, juga Indrawarman, masih buron.

Di Jakarta, polisi pun sudah menemukan rumah yang dipakai Azahari sebagai tempat perakitan bom. Alamat ini didapat dari "nyanyian" Rais, eks alumni Afganistan dari komplotan Bengkulu yang tertangkap di Padang, pekan lalu. Rumah yang disasar polisi adalah rumah kontrakan di Jalan Kemuning Raya, di kawasan Pasar Minggu. Di sini polisi menemukan dus kiriman dari Bengkulu, mata bor, kabel, dan residu bahan peledak.

Untuk mengurangi ruang gerak mereka di Jakarta, polisi menyebar stiker seukuran kertas folio warna merah. Di situ tercantum foto lima daftar buron. Foto Azahari berada di urutan pertama, kemudian Nurdin M. Top, Tohir, dan dua Mr. X. Belakangan, stiker para buron teroris ini mudah ditemui di tempat keramaian, terutama di pintu anjungan tunai mandiri (ATM) bank di seluruh Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi. Ada sekitar 300 stiker yang disebar polisi. Siapa tahu, ada yang bisa terjaring lewat cara ini.

Edy Budiyarso, Syaipul Bukhori (Bengkulu)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data