Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 27/XXXII/01 - 7 September 2003
   
Lingkungan

Tak Kalah dengan Air Ledeng

Air dalam ember plastik itu terlihat jernih dan tak berbau. Sepintas sungguh serupa dengan air dari kucuran pipa-pipa milik Perusahaan Daerah Air Minum Jakarta. Tapi, siapa sangka, ternyata air itu berasal dari instalasi pengolahan limbah cair Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP). "Ini air yang pernah digunakan untuk kebutuhan rumah sakit, mulai dari laundry hingga di kamar mandi," ujar Mayarni, staf ahli limbah di RSPP.

RS Pusat Pertamina memang tengah serius menangani limbah cairnya. Rumah sakit tempat perawatan bekas presiden Soeharto saat terserang stroke itu memiliki unit pengolahan limbah cair yang canggih. Unit di gedung bawah tanah RSPP berkapasitas hingga 715 meter kubik. Ini terhitung sangat memadai. Setiap hari jumlah limbah cair RSPP hanya sekitar 350 meter kubik.

Untuk mengolah limbah cairnya, RS Pusat Pertamina menggunakan proses penjernihan dan detoksifikasi bertingkat. Tahap pertama, semua limbah cair—mulai yang berasal dari kamar mandi, ruang laundry, dapur, dan ruang operasi—ditampung di sebuah bak. Di sini semua aroma limbah membaur menjadi satu. "Asal-usul baunya sudah tak dikenali," ujar Mayarni.

Dari bak pertama, limbah cair dialirkan melalui penyaring ke bak berikutnya. Proses ini akan memisahkan pelbagai sampah padat yang masih tersisa. Secara periodik, seorang petugas akan mengangkat sampah padat yang telah menumpuk di sekitar alat penyaring. Setelah bersih dari limbah padat, isi bak kedua dialirkan ke bak aerasi. Di sinilah proses penjernihan mulai berlangsung. Lumpur aktif dan semburan oksigen dari blower dimasukkan ke bak. Tujuannya agar bakteri dalam lumpur aktif dapat membunuh bakteri patogen yang hidup di limbah. Agar mendapat kualitas pengolahan yang sempurna, proses aerasi dilakukan dua kali dalam bak penampungan yang berbeda.

Sampai di sini proses telah berlangsung setengah jalan. Kemudian, air dari bak aerasi dialirkan ke tangki khusus (settling tank) untuk menjalani proses pengendapan. Kolam pengendapan sengaja didesain mengerucut ke bawah. Sebuah kincir membantu mengumpulkan kotoran yang tersisa ke bagian bawah tangki. Untuk memastikan benar-benar bebas kuman, air yang sudah jernih itu diberi senyawa klorin (ClO2). Senyawa klorin merupakan senjata pamungkas untuk membunuh pelbagai bakteri patogen, seperti Encherichia coli dan Paramecium, yang menyukai habitat di air kotor.

Mayarni menjamin air hasil olahan limbah cair RS Pusat Pertamina memiliki kualitas yang sempurna. Bahkan, "Airnya lebih baik daripada air ledeng," ujar Mayarni. Untuk membuktikan kualitasnya, Mayarni dan beberapa staf pengolahan air limbah RSPP kerap menggunakan air itu untuk mencuci tangan dan membasuh muka.

Mayarni tak asal bicara. RS Pusat Pertamina telah menguji kualitas air limbah olahan mereka dengan memanfaatkan ikan koi—ikan yang dikenal rewel dan sensitif terhadap kualitas air. Hasilnya, ikan koi bertahan hidup di air hasil pengolahan limbah itu. Ini menunjukkan air limbah dari RS Pusat Pertamina memenuhi standar BOD (biochemical oxygen demand) dan COD (chemical oxygen demand), yang menjadi patokan kualitas air. Air dalam kondisi normal umumnya memiliki BOD sekitar 93 miligram per liter dan COD 297 miligram per liter.

Memang, RS Pusat Pertamina tak menggondol gelar dari Badan Pengendali Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jakarta. Soalnya, BPLHD tak hanya menilai pengelolaan limbah cair semata, tapi juga termasuk limbah padat dan gas. Selain itu, ujar Mayarni, "Yang menang adalah yang mengantongi sertifikat BPLHD sendiri."

Meski tak menggondol gelar, Mayarni tak terlalu kecewa. Bagi staf pengajar Universitas Indonesia ini, yang terpenting adalah nasib masyarakat yang tinggal di sekitar RS Pusat Pertamina. Hingga kini tak ada warga mengeluhkan kualitas air mereka. Sumur pompa milik warga di sekitar rumah sakit masih berfungsi dengan baik. Tak ada pencemaran ke air tanah. "Air kami bersih dan tak berbau," ujar Maryadi, yang tinggal di belakang rumah sakit di kawasan Kebayoran, Jakarta Selatan itu.

Berkat prestasi itu, Dinas Kesehatan DKI Jakarta menjadikan unit pengolahan limbah cair RS Pusat Pertamina sebagai proyek percontohan. Contoh bagi rumah sakit yang peduli pada kualitas air masyarakat sekitarnya.

Setiyardi dan Detrizki (Tempo News Room)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data