Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 27/XXXII/01 - 7 September 2003
   
Indonesiana

Jenderal Naga Bonar

SETYOBUDI, 48 tahun, mungkin terilhami Naga Bonar, film dengan setting masa revolusi di Medan Area, Sumatera Utara, yang dibintangi aktor Deddy Mizwar. Deddy, eh..., Naga Bonar bisa naik pangkat seenak udelnya. Begitu pula Setyobudi. Warga sipil ini mengangkat dirinya menjadi letnan jenderal plus jabatan mentereng: asisten perencanaan anggaran di Markas Besar TNI Angkatan Darat.

Kisah Naga Bonar asal Kebumen ini bermula dari hasratnya meminang Neng Putri, 35 tahun. Tapi sang calon mertua menginginkan menantu anggota TNI.

Tak hilang akal, Setyo lantas membeli seragam TNI komplet serta emblem bupati berlambang garuda. Benar saja, janda muda beranak dua itu tenggelam ke pelukannya.

Lalu, kala Neng dirawat di Rumah Sakit Karya Bhakti, Bogor, ia mengabari kenalannya yang komandan rayon militer (danramil) tentang suaminya yang jenderal. Sejak saat itu pun Pak Jenderal dikawal Kapten Inf. Rahmat (Danramil Jasinga, Bogor), Letnan Dua Ridwan (Danramil Ciampea, Bogor), Letnan Dua Buchkori (Danramil Cidaun, Sukabumi), dan anak buah Buchkori, Sersan Kepala Ahmad Subagio.

Tak cuma menipu mereka, Setyo lantas mengelabui pejabat sipil bernama Helmi Sutikno. Setelah ditelepon temannya, Direktur PDAM Kota Bogor itu lalu menghadap "Jenderal" Setyobudi, yang lagi kesulitan uang karena istrinya dirawat, di rumah sakit. Hasilnya, sang Mayjen—dengan "kawalan" para perwira itu—berhasil meraup uang Helmi Rp 3,9 juta untuk sewa hotel dan bayaran tiket pesawat Jakarta-Balikpapan.

Namun, adalah Berry yang mulai curiga. Setelah cek dan cek-ulang ke sana-sini, ternyata tak ada "Jenderal Setyobudi" di Mabes TNI-AD. Akhirnya, Helmi menghubungi aparat.

Jebakan pun dipasang, Minggu dua pekan lalu. Helmi meminta Setyobudi datang ke kantornya untuk foto bersama. Begitu sampai, ia dan pengawalnya langsung dibekuk. "Anda ditangkap, Jenderal!" kata anggota Polisi Militer. Naga Bonar dari Jawa itu kini meringkuk di tahanan Polres Bogor.

Virus Gila di Kendari

VIRUS gila sedang mewabahi Kabupaten Kendari, Sulawesi Tenggara. "Korban" terakhirnya adalah Hasan Basri, 40 tahun, anggota DPRD Kendari dari Partai Demokrasi Indonesia (tanpa Perjuangan).

"Sakit jiwa" yang diderita Hasan berawal dari proses penjaringan calon Bupati Kendari. Pendukung calon bupati Yusuf Supriatna ini lantas melancarkan jurus lobinya. Ia mengunjungi Abdul Rasyid Thahir dari Fraksi Kebangkitan Bangsa sambil membawa oleh-oleh berbungkus tas plastik, awal Februari lalu. Isinya? Bukan buah atau kue, melainkan uang Rp 25 juta. Pamrihnya, Abdul harus memilih calon dari pihaknya.

Namun, hasil pemungutan suara memenangkan Yusuf—yang justru menggundahkan Abdul. Ia lantas melaporkan penyuapan itu ke Kejaksaan Negeri Kendari sekaligus menyerahkan oleh-oleh dari Hasan. Setelah diperiksa, Hasan langsung jadi tersangka dan ditahan. "Uh, kalau di sel, hawanya panas dan kalau malam dingin sekali," ujarnya.

Apa akal? Setelah memeras otak, Hasan menemukan jalan keluar dari sel: mengaku sakit. Seusai diperiksa, ia malah dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Punggolaka, Kendari. Menurut D.A. Tuwanakotta, pengacaranya, fisik dan mental Hasan terganggu setelah delapan hari dalam tahanan.

Kini kasus Hasan mulai disidangkan. Jika tak ada sidang, ia tetap masuk kantor seperti biasa. "Saya kan wakil rakyat. Jadi, harus tetap masuk kantor," ujarnya dengan rasa penting diri.

Masih di Kendari, pura-pura gila agar terbebas dari kurungan juga dilakukan Popy Manuhutu. Kepala Kantor Informasi Teknologi Penyuluh Pertanian dan Kehutanan setempat yang menjadi tersangka kasus korupsi Rp 405 juta ini hanya tahan di sel dua hari. Pada hari ketiga, ia lebih memilih RSJ.

Nah, kini ada lirik baru yang bisa didangdutkan penyanyi Meggy Z.: "Daripada masuk bui, lebih baik jadi sakit ji...."

Agus S. Riyanto, Deffan Purnama (Bogor), Dedy Kurniawan (Kendari)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Mozaik Kisah Perjalanan Gaghana - 07 Sep 2008 | 14:46 WIB
Jazz, Enak dan Nyaman buat Ngebut - 07 Sep 2008 | 14:37 WIB
'Selamatkan Dunia, Kurangi Makan Daging'   - 07 Sep 2008 | 14:33 WIB
Berlabuh di Kahyangan, Mencicipi Wisata Sumbawa - 07 Sep 2008 | 14:18 WIB
Wayne Rooney Kecanduan PlayStation - 07 Sep 2008 | 14:05 WIB
Setio Rahardjo Meninggal Dunia - 07 Sep 2008 | 14:01 WIB
Menu Istimewa Eros Djarot - 07 Sep 2008 | 13:45 WIB
Jangan Gula Sembarang Gula - 07 Sep 2008 | 13:34 WIB
Tiga Pekerja Indonesia Disiksa di Irak - 07 Sep 2008 | 13:18 WIB
Si Centil Amanda Seyfried - 07 Sep 2008 | 13:16 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data