Cinta di Atas Bukit Film ini berkisah soal jurang antara dua generasi. Tema lawas, tapi tetap menarik. |
Laurel Canyon
Pemain : Frances McDormand, Christian Bale
Sutradara : Lisa Cholodenko
Skenario : Lisa Cholodenko
Produksi : Sony Classic Pictures
Di atas bukit indah itu, Jane (Frances McDormand) menggumuli kesehariannya dengan ingar-bingar musik, alkohol, dan madat. Perempuan berusia 40-an tahun ini memang seorang produser rekaman. Saat itu kepalanya lagi bumpet. Album yang digarapnya tak kunjung kelar. Jane menginginkan yang terbaik, tapi sang vokalis, Ian (Alessandro Nivola), yang berusia separuh dari umurnya sekaligus merangkap sebagai kekasihnya, tak kunjung memahami keinginan sang produser. Di kala suntuk, tiada kegiatan lain yang dilakukan kecuali ngebong bareng dan tentu saja bercinta.
Suatu ketika, Sam (Christian Bale), anak semata wayangnya, datang untuk tinggal di rumahnya. Sam, seorang psikiater, mendapatkan pekerjaan di sebuah rumah sakit lokal. Dia datang bersama pacarnya, Alex (Kate Beckinsale), seorang mahasiswi tingkat akhir fakultas kedokteran di sekolah yang sama, Harvard.
Kedatangan mereka bukanlah semata kebetulan. Rencananya, si ibu akan segera hengkang dari rumahnya setelah penggarapan album kekasihnya itu rampung. Jane memang tak punya rumah lagi setelah satu-satu rumahnya yang terletak di tepi pantai diberikan kepada bekas pacarnya yang lain, Bobby.
Namun, apa daya, penggarapan albumnya itu makin molor. Beberapa kali, Jane harus bersitegang dengan bos perusahaan rekaman tempat band itu bernaung. Efeknya, tentu saja, berlama-lama di habitat nan baru itu membuat pasangan anak pintar dari Harvard tersebut tidak betah.
Tiap hari, mereka harus bergaul dengan kelompok pemusik yang memiliki gaya hidup yang aneh. Paling apes Alex, yang seharian berada di rumah. Alhasil, tugas akhir dari kampusnya seringkali terganggu. Sempat pula mereka mencari rumah sendiri. "Agar kita bisa hidup tenang," tutur Sam.
Sekelumit cerita itu merupakan petikan dari film terbaru Lisa Cholodenko, Laurel Canyon. Film ini merupakan salah satu yang lolos seleksi dalam Festival Film Cannes tahun laluyang kini beredar di negeri ini dalam bentuk video cakram padat atau VCD. Banyak kritikus menempatkan Cholodenko sebagai salah satu sutradara muda gara-gara film sebelumnya berjudul High Art, yang beredar lima tahun silam.
Tak pelak, kemunculan film ini banyak ditunggu orang. Namun, berbeda dengan film sebelumnya, dalam Laurel ... , Cholodenko memilih tampil lebih soft. Hal itu sudah bisa kentara dengan pengambilan
setting di Laurel Canyon, yang tak lain merupakan tempat prestisius di Hollywood, Los Angeles. Frank Zappa, gitaris ternama itu, pernah tinggal di sana. Namun, dia tidak ingin berlemak-lemak dengan musik dan kehidupan nan indah bak dalam opera sabun.
Laurel menukik pada persoalan yang lebih dalam, yakni soal hubungan muram antara dua generasi yang berbeda. Jane tumbuh dalam generasi bunga yang hedonis, sedangkan Samanaknyalahir dari generasi yang puritan, lebih memandang jauh ke depan, dan juga lebih studious berangkat dari buku dan kampus. Tak mengherankan jika terjadi persinggungan yang tajam di antara mereka. Di mata Sam, ibunya tak lebih dari seorang perempuan aneh dan tidak pernah beranjak dewasa.
Sosok Jane memang menjadi istimewa. Salah satu sebabnya, peran ini dimainkan dengan sangat gemilang oleh Frances McDormand. Perannya sebagai Jane, produser musik yang liar ini, seperti negasi dari peran sebelumnya dalam film Almost Famous garapan Cameron Crowe, tempat ia menjadi orang tua yang amat mewanti-wanti agar anaknya tidak terseret narkotik. "Don't do drugs," katanya.
Meski demikian, Cholodenko tidak sepenuhnya telak dengan maksudnya. Kehidupan sang ibu dan gangnya sebagai sekelompok bohemian digambarkan terlalu ringan, sehingga terlalu manis untuk menggambarkan sebuah sisi hitam kehidupannya, yang sarat dengan narkotik dan seks bebas.
Tapi mungkin hal itu bisa dimaklumi sebagai pembuka jalan untuk memungkinkan Alex masuk dalam lingkungan mereka. Belakangan, suasana pun berubah. Alex lambat-laun mulai tertarik dengan gaya hidup sang calon mertua. Dia asyik mengisap mariyuana, mabuk, dan puncaknya hampir terlibat permainan cinta threesome dengan Ian dan Jane. Sementara itu, Sam mabuk cinta pada seorang koleganya, perempuan Yahudi yang bernama Sara. Lantas, bagaimana akhir kisah ini? Ini yang menarik karena pada akhirnya ada juga film yang berani melempar resep film Hollywood jauh-jauh.
Irfan Budiman
|