Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 25/XXXII/18 - 24 Agustus 2003
   
Teknologi Informasi

Ngebut di Jalur Listrik

Akses Internet lewat kabel listrik diujicobakan di dua hotel. Rencananya, tahap komersial layanan itu di Jakarta dimulai September mendatang.

Untuk kesekian kalinya Donald melirik arloji di lengannya. Sudah hampir setengah jam ia menunggu di depan business center sebuah hotel di kawasan Jakarta Selatan. Padahal, ia harus memeriksa e-mail dan mengirim beberapa surat kepada mitra bisnisnya di Singapura dan Amerika Serikat. Hari itu nasib Donald agak sial, dua unit komputer yang dapat mengakses Internet di business center dipakai tamu lain.

Kalau saja Donald menginap di Hotel Gran Mahakam, Jakarta Selatan, mungkin kejadian seperti itu tak bakal ia alami. Di hotel itu kepada tamu yang memesan kamar langsung ditawarkan layanan mengakses Internet. Bukan di business center, melainkan dari kamar sendiri.

Itulah layanan terbaru hotel berbintang lima itu sejak akhir Februari lalu. Hotel Gran Mahakam menjadi pelanggan perusahaan pertama yang menerapkan teknologi komunikasi kabel listrik (powerline communication, PLC). Teknologi ini memungkinkan komunikasi data—termasuk akses Internet—menggunakan jaringan kabel yang sama dengan yang dipakai menyalurkan listrik tanpa mengganggu pasokan listrik. Tak perlu saluran telepon atau instalasi kabel baru, cuma modem listrik yang terhubung dengan komputer dan langsung dicolokkan pada steker listrik di kamar.

Di Indonesia, teknologi itu diperkenalkan oleh PT Indonesia Comnet Plus (ICON+), anak perusahaan Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang bergerak di bidang layanan jasa telekomunikasi dan teknologi informasi. Selain bekerja sama dengan dua hotel di Jakarta Selatan, ICON+ juga telah selesai mengujicobakan teknologi ini di perumahan karyawan PLN di Duren Tiga, Jakarta.

Kini teknologi komunikasi kabel listrik itu memasuki tahap pra-komersialisasi. Menurut Didi Ali Achmadi, Manajer Pengembangan Usaha ICON+, saat ini ICON+ sedang menyiapkan model sistem pendukung operasi, layanan pelanggan, dan sistem tagihan. Formula tarif yang mungkin diterapkan ke pelanggan rumah adalah berbasis volume bandwidth. Secara umum, untuk akses Internet 24 jam biayanya Rp 400 ribu-500 ribu per bulan. Sedangkan untuk tamu hotel, dapat dikenakan tarif harian ataupun per jam sesuai dengan ketetapan pengelola hotel.

Didi menargetkan tahap komersial di DKI Jakarta dimulai September mendatang dengan jumlah pelanggan sekitar 200 rumah. Didi menambahkan, teknologi itu cocok bagi pelanggan rumah. Pelanggan PLN yang belum memiliki sambungan telepon otomatis dapat mengakses Internet selama 24 jam tanpa henti atau melakukan percakapan telepon.

Di Hotel Gran Mahakam, menurut Achmad M. Amin, Asisten Manajer EDP, pihak hotel menyewakan modem listrik kepada tamu hotel yang berminat dengan tarif Rp 150 ribu per hari. Achmad mengungkapkan, banyak tamu hotelnya lebih memilih mengakses Internet dari kamar. "Kebanyakan mereka merasa kurang nyaman berinternet di business center. Kebetulan mereka membawa laptop sendiri, mengapa tak mengaksesnya dari kamar saja?" ujarnya.

Hotel Gran Mahakam memanfaatkan teknologi komunikasi kabel listrik itu hanya untuk tamu hotel. Sedangkan administrasi kantor masih menggunakan layanan pita lebar ADSL (asymmetric digital subscriber line) dari salah satu perusahaan jasa Internet.

Cara kerja teknologi komunikasi kabel listrik adalah menitipkan sinyal data pada noise—sinyal acak—energi listrik. Kalau energi listrik dianalogikan sebagai air laut yang mengalir dalam bentuk gelombang dan buih, arus listrik adalah gelombang, dan noise adalah buihnya.

Untuk dapat menumpangkan sinyal data, dibutuhkan frekuensi rendah 1-30 megahertz dan tegangan listrik yang stabil agar data yang dikirim tak rusak. Sinyal data sebenarnya tak dapat melewati trafo—alat yang menurunkan tegangan 12 kilovolt menjadi 380 volt—di gardu-gardu listrik yang terdekat dengan pelanggan. Karena itu, dipasang unit pengkonsentrasian (concentration unit) yang dapat memadukan sinyal data dan arus listrik.

Pelanggan hanya memerlukan modem listrik atau network terminator yang dapat langsung dicolokkan ke setiap steker listrik di rumah atau kamar hotel. Modem ini aman dan hemat energi. Daya yang dikonsumsinya sekitar 10 watt atau setara tambahan tagihan listrik sekitar Rp 10 ribu per bulan untuk pemakaian Internet 24 jam.

Namun, persoalan modem juga yang agak menghambat penyebaran teknologi itu di masyarakat. Harga modem listrik ini antara US$ 500 dan US$ 700 atau Rp 4,3 juta-5,9 juta. Menurut Didi, harga yang mahal itu disebabkan produksinya masih berskala kecil dan harus diimpor dari Jerman dan Swiss. "Tapi, jika jumlah pelanggan semakin banyak, modem dapat diproduksi secara massal atau dirakit di dalam negeri," kata Didi.

Menurut Achmad, kecepatan komunikasi kabel listrik lebih bagus. "Dengan bandwidth 128 kilobit per detik, waktu yang dibutuhkan untuk membuka halaman web lebih cepat ketimbang ADSL, yang 512 kilobit per detik," ia menjelaskan.

Memang, teknologi itu mengklaim memiliki kecepatan akses 2-4,5 megabit per detik atau 15 sampai 30 kali kecepatan ISDN (integrated services digital network). Modem listriknya bahkan mampu memindahkan data dengan kecepatan 45 megabit per detik. Bandingkan dengan model telepon (dial-up), yang hanya memiliki kecepatan maksimum 56 kilobit per detik.

Dengan kecepatan itu, teknologi Internet kabel listrik tak sekadar dapat mengirimkan data teks dan gambar. Aplikasi data suara dan gambar bergerak, misalnya percakapan telepon Internet (VoIP) dan transmisi video (video on demand), pun sangat dimungkinkan. Dukungan bagi VoIP menjadikan ICON+ sangat berkepentingan mempromosikan teknologi ini di ke kawasan timur Indonesia. "Kami mengusulkan kepada Dewan Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia agar mengujicobakan teknologi ini kepada masyarakat di sana," kata Didi.

Di kawasan timur Indonesia, menurut Didi, terdapat sekitar lima juta pelanggan PLN yang sebagian besar belum menikmati sambungan telepon. Tapi, untuk menyediakan jasa teleponi (telepon Internet), harus ada kerja sama dengan operator teleponi. ICON+ pun sedang menjajaki kerja sama dengan PT Telkom.

Bagi pemerintah, kehadiran teknologi itu sebenarnya sangat membantu pertumbuhan sambungan telepon ataupun penyebaran akses Internet ke masyarakat. Saat ini PT Telkom memiliki saluran telepon terpasang hampir 8,7 juta sambungan dengan pelanggan sekitar 5,6 juta. Dengan teknologi komunikasi kabel listrik, makin banyak lagi rakyat Indonesia yang dapat menikmati telepon dan Internet. Tinggal menunggu kerelaan Telkom berbagi kue itu.

Dody Hidayat


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Geliat Bisnis Islami - 07 Sep 2008 | 15:06 WIB
Pemerintah Surabaya Jamin Pasokan Makanan Aman - 07 Sep 2008 | 15:05 WIB
Mozaik Kisah Perjalanan Gaghana - 07 Sep 2008 | 14:46 WIB
Jazz, Enak dan Nyaman buat Ngebut - 07 Sep 2008 | 14:37 WIB
'Selamatkan Dunia, Kurangi Makan Daging'   - 07 Sep 2008 | 14:33 WIB
Berlabuh di Kahyangan, Mencicipi Wisata Sumbawa - 07 Sep 2008 | 14:18 WIB
Wayne Rooney Kecanduan PlayStation - 07 Sep 2008 | 14:05 WIB
Setio Rahardjo Meninggal Dunia - 07 Sep 2008 | 14:01 WIB
Menu Istimewa Eros Djarot - 07 Sep 2008 | 13:45 WIB
Jangan Gula Sembarang Gula - 07 Sep 2008 | 13:34 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data