Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 25/XXXII/18 - 24 Agustus 2003
   
Selingan

Model Tandingan dari Banjarmasin

PHILIP Beale bukan satu-satunya orang kulit putih yang terpesona pada perahu tradisional yang terpahat di Candi Borobudur. Selain orang Inggris ini, ada Erik Peterson, lelaki 63 tahun asal Denmark, yang juga tergoda mewujudkannya dalam sosok yang nyata. Ia leluasa melaksanakan impiannya karena telah 10 tahun tinggal di Indonesia, tepatnya di Banjarmasin.

Di sana Peterson rajin meneliti perahu kuno bercadik yang biasa dipakai pelaut Indonesia zaman dulu seperti yang terpampang di Borobudur. Lalu dia membuat model berukuran 2,7 meter dari kayu. Bentuknya sederhana, tapi amat indah dan gagah. Perahu bikinan Peterson lebih cekung dan lebih lancip di haluan, dan dindingnya lebih tinggi dibandingkan dengan perahu Beale. Ini mirip betul dengan yang terpahat di candi. Seandainya punya kesempatan dan dana untuk mewujudkannya dalam perahu sungguhan, ia membayangkan panjangnya sekitar 23,4 meter.

Berbeda dengan perahu buatan Beale, model yang diciptakan Peterson tidak ada dek tambahan. Perahu ini terdiri dari lunas perahu, perut perahu, dan cadik. Cadiknya, yang lebih datar, berada di tiap sisi perahu dan juga di buritan.

Semua bagian perahu Peterson terbuat dari kayu, mulai dari cadik hingga dua tiang layar setinggi 5-10 meter dan pembentangnya selebar 10-15 meter. Tidak ada yang terbuat dari bambu seperti beberapa bagian perahu Beale. Peterson sengaja memilih kayu untuk semua bagian perahu karena pertimbangan keamanan.

Arsitek sepuh itu berencana, perahunya akan dibikin dari kayu mandahirang atau banuas, yang biasa dipakai membuat perahu Kalimantan Selatan. Lebih mewah dan berkualitas ketimbang paduan kayu ulin, bungor, kesambi, jati, kalimpapa, bintangor, dan nyamplong, seperti bikinan Beale. Dua jenis kayu pilihannya amat tahan gerusan air asin. Di mata Peterson, kayu ulin hanya cocok untuk dek.

Meski memilih bahan "mewah" untuk perahunya, Peterson amat hati-hati merancang perut perahu. Semuanya akan dibikin sesuai dengan aslinya, seperti yang dipakai pelaut Nusantara pada abad ke-8. Ia mengakui banyak detail konstruksi tersembunyi dalam perahu yang terpampang di relief Candi Borobudur itu. Yang pasti, dalam perut perahu zaman dulu tidak ada perangkat canggih seperti radar, radio komunikasi, peta, global positioning system, telepon satelit, dua sekoci, dan dua mesin tempel, seperti yang dipakai dalam perahu buatan Beale sekarang.

Peterson dan Beale memang sudah pernah bertemu. Bahkan Peterson diajak melakukan uji coba perahu Borobudur buatan Beale dari Banyuwangi menuju Bali, bulan lalu. Bagi orang Denmark ini, perahu itu kelewat mewah dan komplet. "Seperti kapal pesiar," ujarnya kepada TEMPO seraya tersenyum. Perut perahu Beale berjendela sehingga udara di lambung selalu segar dan benderang pada siang hari. Ada juga dek tambahan di dua sisi perahu, yang biasa dipakai untuk meletakkan persediaan bahan bakar dan air tawar. Di dek tambahan itu juga ada sebuah jamban berpenutup. Ini jauh menyimpang dari bentuk perahu aslinya, yang dulu dipakai nenek moyang kita.

Peterson yakin, model bikinannya lebih mirip dengan aslinya. Perahu ini biasa dipakai oleh pelaut Sumatera dan Kalimantan. Perahu seperti itulah yang dulu digunakan armada Sriwijaya untuk mengontrol lalu lintas perdagangan, mulai dari Eropa, India, hingga Cina. Perahu bikinan Beale? Menurut Peterson, perahu seperti itu lebih mirip dengan perahu yang dulu dipakai pelaut Jawa dan Madura.

Sang arsitek juga menilai Beale bekerja terburu-buru, sehingga penggarapannya tidak cermat. "Jika ingin mengulang sejarah, semuanya harus sesuai dengan bentuk aslinya. Jangan ada perbedaan," kata Peterson.

Endri Kurniawati, Karana K. Wijaya


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data