Bergaya dengan Bintang Loakan Liga Inggris berputar lagi pekan ini. Klub-klub promosi cuma bisa membeli para pemain tua dengan biaya transfer murah. |
SEPERTI film Hollywood saja, perjalanan panjang Wolverhampton Wanderers berujung dengan happy ending. Ini terjadi akhir Mei lalu di Stadion Millennium, Cardiff, Wales. Dalam pertandingan play off—untuk memperebutkan posisi di Liga Primer—klub ini menang melawan Sheffield United. Skornya juga mantap: 3-0.
Begitu wasit menyemprit peluit, kegembiraan langsung mencekik sekitar 34 ribu pendukungnya. Mereka langsung jejingkrakan kegirangan sambil terus menyanyikan lagu Hi-Ho Wolverhampton. Sir Jack Hayward, 79 tahun, bos klub ini, juga tak bisa menahan sukacita. Ia buru-buru turun ke lapangan, bergembira dengan anak buahnya. Dengan sepatu bututnya, Hayward bergabung bersama anak buahnya leloncatan di rumput.
Kemenangan ini memang patut disambut dengan pesta. Inilah momen yang paling bagus buat klub ini dalam dua dekade belakangan. Setelah terlempar dari divisi satu 19 tahun silam, bahkan pada 1988 mereka sempat terbanting hingga ke divisi empat, baru sekarang inilah mereka bisa kembali lagi ke divisi utama Liga Inggris.
Kegembiraan juga pecah di tempat lain. Di Leicester dan Portsmouth, banyak orang berpesta bir dan melewatkan malam panjang di jalan-jalan. Sebabnya sama pula, kesebelasan mereka nangkring lagi di Liga Primer. Pompey—sebutan buat klub Portsmouth—lolos setelah menjadi juara divisi satu. Pun demikian dengan Leicester, yang menjadi runner-up. Sesuai dengan peraturan Football Association di Inggris, setiap tahun terdapat tiga klub dari divisi satu yang masuk ke Liga Utama menggusur tiga klub divisi utama yang terkena degradasi.
Kecuali Leicester City, yang sempat masuk divisi utama beberapa tahun lalu, perjuangan Portsmouth alias Pompey dan Wolverhampton untuk masuk ke Liga Utama sungguh istimewa. Pompey memang pernah dua kali menjadi juara Liga Utama pada 1949 dan 1950. Tapi prestasi klub ini melorot pada tahun-tahun berikutnya dan akhirnya jatuh ke jurang degradasi pada akhir dekade 1980. Setelah ditangani oleh Harry Redknapp, barulah Pompey pelan-pelan bangkit dari tidurnya.
Posisi Redknapp memang vital. Dengan koneksinya yang luas dengan berbagai kalangan penting di liga, dia bisa mendapatkan pemain-pemain yang diinginkannya. Dari West Ham, bekas klubnya, dia membawa penjaga gawang Shaka Hislop dan penyerang asal Bulgaria, Svetoslav Todorov. Para pemain itulah yang dipadukan dengan pemain muda macam Matthew Taylor dan Gary O'Neil. Hasilnya, mereka jadi jagoan. Bayangkan, 98 poin mereka dapatkan dalam satu musim.
Tapi, itu cerita lalu yang harus segera dilupakan. Soalnya, persaingan di Liga Primer yang mulai digelar pekan ini jauh lebih berat. Mereka harus berlaga dengan berbagai tim yang sudah kesohor kehebatannya, seperti Manchester United, Arsenal, atau Chelsea, yang punya ambisi besar.
Baik Redknapp maupun Dave Jones, Manajer Wolverhampton, tentu menyadari hal itu. Mereka tidak bisa lagi cuma mengandalkan kekuatan lama. Salah-salah, bisa jadi mereka cuma bisa numpang lewat dan terperosok kembali ke divisi satu. Tak perlu menjadi kekuatan baru, target mereka tak muluk-muluk. Kedua klub ini sudah merasa beruntung bisa mengulang pengalaman Birmingham City dan West Brom Albion, yang masuk ke divisi utama tahun lalu dan kini masih bisa bertahan.
Problemnya, diperlukan pemain yang berkualitas untuk memoles lagi tim. Sepak bola zaman kiwari tidaklah cukup hanya dengan pemain yang bertenaga kuda dan bermental baja. Untuk itu diperlukan duit guna memborong pemain yang andal. Nah, ini masalahnya. Kedua klub ini tak punya banyak uang. Bos mereka bukanlah seperti Roman Abramovich, bos baru Chelsea asal Rusia yang kaya raya dan ambisius itu, atau Mohammed al-Fayed, bos Fulham, yang tahun lalu sempat membeli banyak pemain semenjak klubnya masuk ke divisi utama.
Rupanya, duit Portsmouth dan Wolverhampton sudah habis dibelanjakan saat masih berlaga di divisi satu. Lihat saja Hayward, bos Wolverhampton. Sejak membeli klub ini 13 tahun lalu, ia mengaku sudah menghabiskan duit sekitar 60 juta poundsterling. Uang itu dipakai antara lain untuk merenovasi Molineux, stadion yang jadi markas mereka, dan menggonta-ganti manajer. Bahkan klub ini juga pernah memakai bekas manajer tim nasional Inggris, Graham Taylor.
Begitu masuk ke Liga Primer, Wolverhampton mesti pula menghamburkan duit buat bonus para pemainnya. Menurut Dave Jones, Manajer Wolverhampton, untuk pos itu setidaknya mereka sudah menghabiskan duit 2 juta poundsterling (sekitar Rp 27,6 miliar). Uang sejumlah itu termasuk pula dipakai untuk membayar utang kepada klub yang meminjamkan pemainnya.
Tak pelak, dengan dana yang terbatas itu, klub tersebut hanya bisa membeli pemain yang berkemampuan sedang-sedang saja. Padahal stok pemain bagus tidaklah kurang. West Ham, misalnya, yang terperosok ke divisi satu, meninggalkan banyak warisan berupa pemain-pemain bagus. Demikian pula Leeds United, yang sedang setengah bangkrut, memiliki banyak pemain bagus yang bisa dilego dengan harga miring.
Kini Wolverhampton hanya mampu membeli pemain belakang asal Sunderland, Jody Craddock, dengan harga 1,7 juta poundsterling. Angka ini merupakan yang terbesar dibanding tiga pembelian pemain sebelumnya, yakni Silas, Oleg Luzhny, dan Isaac Okoronkwo. Total harga pembelian ini hanya mencapai 2,8 juta poundsterling (sekitar Rp 23,4 miliar). Belakangan, mereka juga membeli Steven Iversen, striker asal Tottenham Hotspur. "Yang saya cari setidaknya seorang pemain yang bisa memberikan pengalaman di Liga Primer," kata Jones, sang manajer.
Di mata Jones, sumbangan pemain tua memang tak kecil. Ini sudah dibuktikan oleh Dennis Irwin dan Paul Ince. Dua pemain senior yang terpental dari klubnya masing-masing pada musim lalu itu malah bersinar di Wolverhampton. "Saya percaya, meskipun tak bisa memberikan kemampuan lebih di setiap pertandingan, mereka bisa memberi kontribusi buat tim," kata Dave Jones. Irwin memang tak muda lagi, dia berusia 38 tahun. Sedangkan Ince dua tahun lebih muda.
Langkah serupa juga dilakukan Pompey. Malah lebih berani lagi, Harry Redknapp membeli pemain tua seperti Teddy Sheringham, 37 tahun, bintang Hotspur yang kehilangan klub setelah kontraknya tak diperpanjang lagi. Nah, daripada menganggur sementara kaki masih gatal, akhirnya Teddy mengikat kontrak dengan klub itu untuk satu musim kompetisi. "Biarpun sudah tua, Teddy itu pemain yang baik," tutur Redknapp membela pilihannya sendiri. Perburuan pemain loak tak hanya berhenti pada Sheringham. Pemain asal Chek, Patrik Berger, yang dibuang Liverpool, juga digaet klub ini.
Pemain tua lainnya yang masih laku adalah Les Ferdinand, penyerang yang sempat tampil galak bersama Allan Shearer di Newcastle United. Kini ia bermain bersama Leicester. Klub ini dengan mudah menggaetnya karena Ferdinand dalam status bebas transfer. Pemain lainnya yang direkrut Leicester adalah Keith Gillespie, yang dilepas Blackburn Rover. Lagi-lagi ia seperti barang loakan alias dalam status bebas transfer. Praktis, klub ini hanya membayar gaji yang juga tidak terlalu tinggi.
Dengan modal seperti itu, mungkinkah mereka bisa berbuat banyak di musim ini? Ketiga klub pendatang baru itu cukup tahu diri. Bagi mereka, terpenuhinya keinginan untuk tampil di Liga Utama sudah merupakan kebahagiaan yang luar biasa. Apalagi bila bisa bertahan cukup lama di sana. "Ini masalah menorehkan tinta dalam sejarah kami. Betapa menyenangkan melihat anak-anak bermain di Liga Primer," kata Jez Moxey, salah seorang petinggi Wolverhampton.
Irfan Budiman
|