Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 24/XXXII/11 - 17 Agustus 2003
   
Laporan Khusus

Sesosok Tubuh di Ujung Lorong

Tak ada yang tersisa pada tubuh itu kecuali luka, luka, dan luka. Inilah reportase wartawan TEMPO dari ruang forensik RSCM.

Di lantai satu lorong Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), sebuah ruang bernama Kamar Forensik menyimpan satu sosok remuk-redam. Selasa pekan silam, setelah heboh di pagi hari di antara bunyi handphone yang meluncurkan sebuah berita mengejutkan, TEMPO akhirnya menemukan jawaban: pria yang terjun dari lantai 56 Hotel Aston itu memang Marimutu Manimaren, pengusaha terkemuka Texmaco.

Di atas dipan kumal, jasad itu terbujur: telentang dengan kepala sedikit menengadah. Kumisnya yang beruban masih tersusun rapi, meski wajahnya tak lagi simetris: sisi kiri terdorong ke depan sedangkan sisi kanan terdesak ke dalam. Ujung lidahnya sedikit terjulur hingga menyentuh bibir bawah, sementara gigi atas rapat mengatup. Ia seperti menahan rasa sakit. Pemandangan yang mengenaskan itu mengingatkan kita pada perempuan yang mengerang dalam lukisan Kaathe Kollwitz, perupa Jerman era Republik Weimar (1919-1930).

Jam di Ruang Forensik RSCM sudah menunjukkan pukul 11 siang. Tubuh pengusaha Marimutu Manimaren, 46 tahun, dibaringkan agak ke tengah ruangan, sebuah kamar berdinding putih kusam berukuran hampir 100 meter persegi.

Di dalam ruangan itu ada beberapa tempat tidur beroda di sana. Salah satu tempat tidur digunakan untuk pemeriksaan jenazah Manimaren, sementara pada tempat tidur lain di atasnya terdapat beberapa helai pakaian Manimaren yang telah berlumuran darah. Siang itu, ia tak lagi berbusana.

Sekitar 20 dokter dan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia berkerumun. Hanya dua dokter pria yang sibuk mengukur luka pengusaha Medan keturunan India itu. Yang lainnya memandang, berbisik pelan, atau menyarungkan tangan ke saku jas laboratorium mereka. "Pihak keluarga belum setuju mayatnya diautopsi. Jadi, kami hanya melakukan pemeriksaan luar," kata Aidarus, salah seorang dokter forensik yang bertugas siang itu.

Terjatuh dari ketinggian 120 meter dengan perkiraan kecepatan 46,55 meter per detik, jasad itu telah luluh-lantak. Kerusakan terparah terdapat pada kepala. Dari arah pintu masuk kamar forensik, tampak jelas bagaimana batok itu telah terbelah.

Dari kening hingga belakang kepala, sebuah lubang besar menganga. Beberapa helai rambut, daging, dan kulit masih tersisa. Tengkorak bagian depan tampaknya masih utuh sehingga raut korban bisa dikenali. Remuknya tengkorak bagian atas dan belakang menjadikan kepala korban terlihat lebih besar. Tak ada lagi sisa darah di sana. Petugas kamar mayat telah membersihkannya sebelumnya.

Luka sepanjang sejengkal tampak di dada atas sebelah kiri. Sebongkah daging merah sebesar dua kepalan tangan menyembul dari luka itu. "Itu paru-paru," kata seorang dokter. Permukaan dada korban mengempis, membuat cekungan yang tak lazim. Menurut dokter, tekanan yang hebat akibat jatuh menyebabkan semua rusuk rusak berat.

Kedua tangan dan kaki masih utuh, meski tak jelas bentuknya: bekas patahan berupa lebam dan tonjolan tulang terlihat di banyak titik. Engsel-engsel sendi terlepas. Tungkai kanan berputar hingga 180 derajat, sementara yang sebelah kiri lunglai ke arah luar. Dalam usia jenazah baru enam jam, jasad Manimaren belum kaku.

"Siapa orang itu?" tanya seorang staf forensik tiba-tiba. Yang ditunjuknya adalah Setya Novanto, pengusaha, Wakil Bendahara Golkar dan karib dekat Manimaren. Setya adalah orang pertama yang menengok Manimaren di kamar forensik siang itu.

"Kami dari DPR. Bisa kami masuk?" kata lelaki tegap yang berdiri di samping Setya. Seorang dokter muda di muka pintu sedikit bingung, lalu mempersilakan rombongan itu. Saya ikut di belakangnya.

"Anda wartawan? Anda tidak boleh masuk," kata pengawal Setya. Saya menjawab bahwa saya adalah anggota tim Fakultas Kedokteran UI.

Memasuki kamar jenazah, Setya hanya berdiri beberapa detik di depan jasad yang lunglai itu, untuk kemudian menyingkir ke pojok ruangan berupa lorong ke arah pintu belakang. Di sana ia sibuk menelepon dengan tetap dikelilingi pengiringnya. Ia mungkin terlalu sibuk, atau terpukul, atau ngeri menyaksikan kondisi tubuh korban. Di depan pintu keluar, di hadapan wartawan yang berkerubung, matanya berkaca-kaca.

"Dari lantai berapa dia jatuh?" tanya seorang dokter tiba-tiba. Yang lain menjawab, "Dari lantai lima." Dokter lainnya mendekati bufet kecil yang menyender di dinding, lalu mengambil secarik catatan polisi. "Bukan. Dari lantai 56," tuturnya. "Wajar saja jenazahnya rusak berat. Kalau dari lantai lima, tak seperti ini," kata yang lain. Sejumlah mahasiswa kedokteran tersenyum. Santai. Setiap hari mereka menghadapi tubuh tanpa nyawa untuk sebuah studi.

Menurut Aidarus, sulit memastikan bagian tubuh mana dari korban yang menghunjam bumi terlebih dahulu. "Soalnya, kerusakan ada di semua bagian tubuh," katanya. Meski kepala remuk-redam, seorang dokter yang tak ingin disebut namanya meyakini Manimaren tidak jatuh dengan posisi kepala di bawah. "Tak ada patahan yang signifikan di bagian leher," tuturnya. Jika kepala jatuh lebih dahulu, bahkan tidak hanya leher yang patah, tapi kepala kemungkinan besar juga akan copot. Dokter itu percaya, korban jatuh dengan kaki terlebih dulu.

Aidarus mengatakan, seandainya korban langsung jatuh—tanpa tertumbuk dinding lantai lima dan kanopi lobi hotel seperti yang dialami Manimaren—bisa dipastikan sebagian tubuh korban akan robek. Tekanan besar yang terjadi secara bersamaan menjadikan semua tulang patah, lalu mengoyakkan organ tubuh dari dalam.

Tekanan itu juga bisa mengakibatkan tubuh korban memendek. Manimaren, yang bertinggi badan 175 sentimeter, hari itu saya lihat lebih pendek dari biasanya.

Tiba-tiba, seorang dokter setengah baya yang sedari tadi sibuk mengukur panjang luka mendekati bagian kepala. Ia menyibak sisa daging di dekat ubun-ubun, lalu merogohkan tangannya ke dalam rongga itu.

Lalu, tampaklah—ya Tuhan—betapa isi tengkorak itu sesungguhnya sudah tak ada. Rongga itu besar, hampir seukuran dua kepalan tangan orang dewasa. Di dalamnya hanya terdapat pecahan tempurung dan sisa daging yang tak beraturan. Menurut seorang petugas keamanan Hotel Aston, ketika ditemukan, otak korban tercecer di taman di depan lobi hotel.

Menurut Aidarus, hasil visum sementara menunjukkan Manimaren meninggal karena jatuh. Tak ada tanda-tanda kekerasan sebelumnya untuk menduga bahwa ia dibunuh. "Jika dia dibunuh lalu dilempar ke luar gedung, tak akan ada resapan darah di tubuhnya," katanya. Tim forensik juga tidak menemukan bekas perlawanan seperti memar di pergelangan tangan atau bekas cakaran.

Visum memang tak bisa menentukan apakah dia jatuh, dijatuhkan, atau diancam agar menjatuhkan diri. Di sinilah tetap terbuka kemungkinan Manimaren dibunuh dan bukan bunuh diri. "Tapi itu tugas polisi, bukan tugas kami," kata seorang dokter di Bagian Forensik UI.

Tapi, menurut dokter itu, bisa dipastikan korban tewas karena benturan. Dengan kata lain, tim forensik menutup kemungkinan, misalnya, Manimaren meninggal karena serangan jantung beberapa detik setelah ia terlempar ke luar jendela.

Berdasarkan bedah autopsi yang dilakukan menjelang sore (keluarga akhirnya setuju autopsi dilakukan) juga tak terdapat bahan kimia berbahaya—misalnya narkotik atau alkohol—di dalam tubuh korban. Hasil lengkap analisis kimia itu memang baru diketahui sepekan setelah pemeriksaan. Tapi, secara umum, dokter hanya menemukan sisa obat antidepresi di dalam tubuh Manimaren.

Menjelang azan zuhur, wartawan dari media lain mulai datang merubung. Keluarga dan kerabat Manimaren yang telah berkumpul sejak pagi telah menyiapkan peti mati dari kayu jati dengan engsel terbuat dari kuningan. Setya Novanto telah meninggalkan rumah sakit.

Di luar, tiba satu lagi jenazah tak dikenal korban tabrak lari: mungkin seorang pengemis, atau seorang pemulung. Entah siapa, yang belum tentu mendapat perhatian media sebesar ini, meski mereka juga manusia. Bersebelahan ruang dengannya masih terbujur jasad Marimutu Manimaren, pengusaha terkenal yang tewas di subuh yang nahas itu.

Arif Zulkifli


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Layanan Kesehatan Gratis Di Kebumen - 05 Sep 2008 | 15:26 WIB
Giliran Pendukung Syahrial-Helmy Rayakan Kemenangan - 05 Sep 2008 | 15:15 WIB
PDAM Protes ExxonMobil Yang Akan Menyedot Sumber Air di Dander - 05 Sep 2008 | 15:10 WIB
Hatta Minta Kegagalan Super Toy Tidak Dipolitisir - 05 Sep 2008 | 15:05 WIB
Pemerintah Harus Libatkan Organisasi Guru dalam Sertifikasi Guru - 05 Sep 2008 | 15:01 WIB
Lima Hari, Lima Jenazah Bayi - 05 Sep 2008 | 14:59 WIB
Klub Raksasa Inggris Bertambah Satu - 05 Sep 2008 | 14:58 WIB
Lima Hari, Lima Mayat Bayi - 05 Sep 2008 | 14:56 WIB
Pemerintah Diminta Segera Terbitkan PP Pendidikan - 05 Sep 2008 | 14:52 WIB
Minyak Tanah Non Subsidi Dijual Untuk Umum - 05 Sep 2008 | 14:50 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data