Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 24/XXXII/11 - 17 Agustus 2003
   
Laporan Khusus

Kidung Kematian di Hari Selasa

ENTAH kebetulan, entah direncanakan, Marimutu Manimaren memilih menebas sisa hidupnya tatkala sebuah hari baru dimulai: selepas subuh. Entah karena kasihnya kepada keluarga, entah karena keyakinannya pada adat-istiadat lama, Manimaren melepaskan nyawanya di hari Selasa—dan bukan pada hari Sabtu, misalnya. Tradisi lama India Tamil percaya bahwa kematian pada enam hari—di luar hari Sabtu—tak akan menularkan bencana. Tapi, pada hari Sabtu, Sanip-ponam Thahiye pokhatu— jiwa yang pergi akan 'mengumpan' kematian lain dalam keluarganya.

Tewas pada Selasa silam setelah terjun dari lantai 56 Hotel Aston di kawasan Semanggi, Jakarta Selatan, pengusaha berdarah India Tamil itu tetap saja meninggalkan kedukaan—disamping tanda tanya—mendalam pada kaum kerabatnya. Marimutu Sinivasan, abang yang merawat dan membesarkannya sedari kecil, terpekur dalam wajah berdukacita tatkala menunggui pelayatan sang adik di rumah duka, di Jalan Gunawarman, Kebayoran Baru.

Hilangnya Manimaren, bagaimanapun, meninggalkan sebuah ruang kosong dalam keluarga besar Marimutu, walau jejak-jejak yang kosong dan sepi sesungguhnya telah mewarnai hidup Manimaren dalam tahun-tahun terakhirnya. Di hari matinya, istrinya, Jeanne Maren, serta kedua anaknya, Marisa dan Daniel, tak melayati jenazahnya. Padahal, dalam tradisi Tamil, seorang istri akan menguraikan rambut, mematahkan gelang perhiasan, dan mendaraskan ratapan guna mengiringi arwah suaminya.

Tapi tidak bagi Manimaren. Ketiga anggota keluarga terdekatnya, Jeanne, Marisa, dan Daniel, berdiam di Amerika Serikat. Udin, sopir pribadinya yang telah 15 tahun menghirup pahit-manis hidup bersama Marimaren, melukiskan betapa dua tahun terakhir adalah periode yang "amat sendirian" dalam kehidupan pribadi sang bos. Ini sungguh berlainan dengan kehidupan publiknya yang dinamis, ramah, mudah berkawan, dan punya jaringan pertemanan yang luas.

Menurut Udin, jarang benar kerabat atau kawan datang sekadar bertamu. "Saya bertemu dengan dia terakhir kali enam bulan yang lalu," ujar Enggartiasto Lukita, koleganya di Golkar. Sedangkan "kerabat yang berkunjung hanya Pak Sinivasan," tutur Udin. Orbit hidup Manimaren seolah bergerak di antara kantor dan rumah. Berlantai tiga, rumah yang megah di Jalan Gunawarman, Jakarta Selatan, itu lumayan mewah. Ada lift yang menjangkau semua lantai, selain tangga melingkar. Ada ruang kebugaran. Di garasi, nongkrong BMW seri 7. Sedangkan dua sopir yang selalu menemaninya adalah Udin dan Tono.

Sejak tahun 2001, rumah itu tak lagi bernyonya—Jeanne Maren telah pulang ke kampung halamannya di Amerika sana. Dia membawa serta Marisa dan Daniel. Akibatnya, Manimaren tak pernah makan di rumah. Biasanya Udin membelikan makanan di restoran Sari Kuring atau membuatkan mi instan. Manimaren hanya ke restoran kalau ada janji dengan seseorang. Dia juga kerap mengajak sopirnya berputar-putar sepulang dari kantor. "Kadang-kadang sampai depan pagar rumah, dia enggak jadi turun," tutur sang sopir. "Masih sore, Din, kita muter-muter lagi," Udin menirukan ucapan bosnya.

Udin mengatakan, Manimaren juga seolah putus hubungan dengan kerabatnya. Hanya Marimutu Sinivasan yang sering kelihatan di rumahnya. Kerabat lainnya tak ada yang menyempatkan diri menjenguk. Itu juga yang menyebabkan Manimaren enggan datang ke acara-acara keluarga. Padahal, ucap Udin, "Saudaranya di sini (Jakarta) banyak."

Setelah istrinya pulang kampung, Manimaren tambah rajin beribadah. Dia menjadi jemaat gereja dan selalu berusaha beribadah pada hari Minggu. Hari lainnya, giliran pendeta yang mendatangi rumah Manimaren. Bahkan rumahnya juga sering dijadikan tempat berkumpul dan beracara bagi remaja gereja.

Dulu, tutur Udin, Manimaren sering berbicara kasar. Setelah rajin pergi ke gereja, dia banyak berubah. "Maaf ya, Din, saya sering marah-marah ke kamu," kenang si sopir. Di mobil, Manimaren lebih banyak membaca koran, terkadang diselingi dengan mendengarkan lagu-lagu pujian rohani. Sesekali dia jalan-jalan ke mal, ke Blok M atau Plaza Senayan. "Paling-paling satu jam. Juga enggak beli apa-apa," ujar Udin. Setelah itu, dia pulang ke rumah.

Toh, Udin—seperti banyak orang lain—tak menyangka bahwa hidup Manimaren akan berakhir dengan cara demikian. Marimutu Ganesan, kakaknya, menilai Manimaren orang yang ceria, tegar, dan ulet. Siapa sangka, Manimaren ternyata menyimpan hidup yang sunyi dalam tahun-tahun belakangan—lebih-lebih di saat terakhirnya. Dia menyanyikan sendiri kidung kematiannya selepas dini hari. Dan dia memilih jalan tersingkat untuk pulang ke Paramapadham, tanah bahagia bagi setiap jiwa yang pergi.

Agus S. Riyanto, Endri Kurniawati


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Soekarwo Dekati PGRI - 07 Sep 2008 | 18:42 WIB
Tarif PDAM Bojonegoro Naik 50 Persen - 07 Sep 2008 | 18:38 WIB
PT Sarana Tanggapi Surat Petani Super Toy HL-2 - 07 Sep 2008 | 18:34 WIB
Hanya Enam Parpol di Malang yang Penuhi Kuota Perempuan - 07 Sep 2008 | 18:33 WIB
Tiket Kereta Bojonegoro-Jakarta Ludes Terjual - 07 Sep 2008 | 18:25 WIB
Begini Rasanya Menjadi Pegawai Pertama Google - 07 Sep 2008 | 18:18 WIB
Pusat Perbelanjaan di Semarang Mulai Ramai - 07 Sep 2008 | 18:10 WIB
Soekarwo Dekati Persatuan Guru Republik Indonesia - 07 Sep 2008 | 18:02 WIB
Presiden Buka Puasa di Kediaman Ketua DPD - 07 Sep 2008 | 17:51 WIB
Indonesia Diminta Garap Energi Iran - 07 Sep 2008 | 17:29 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data