|
BERBEDA dari zaman Soeharto, orang desa pada zaman kiwari tak mudah disuruh-suruh. Di Desa Kemiri, Sidoarjo, Jawa Timur, misalnya. Menjelang Ahad pertengahan Juli lalu, di desa itu digelar pemilihan sekretaris desa (pilsekdes) alias carik. Banyak penduduk yang naganya akan ogah datang ke bilik suara. Mereka akan memboikot. Lo, kok? Kepala pemilihan sekretaris desa pun bingung. Dikasih demokrasi kok tak mau. Bukankah itu yang ditunggu-tunggu selama tiga dasawarsa kekuasaan Orde Baru?
Eh, rupanya mereka sudah terjangkit penyakit orang kota. Termasuk yang dipertontonkan oleh kalangan eksekutif dan legislatif yang terhormat, yang doyan bonus dan hadiah serta hibah, yang halal "apalagi" yang haram. Ini diketahui oleh panitia pilsekdes, yang tiba-tiba mendapat ide brilian. "Begini saja," bisik seorang anggota panitia mengemukakan ide. Setelah gagasan itu di-"sosialisasi"-kan ke seluruh jajaran panitia, lahirlah kiat menjerat pemilih dengan mengiming-imingi mereka hadiah berupa televisi warna 20 inci, alat pemutar video compact disc (VCD), kipas angin, setrika listrik, dan jam dinding. Setiap pemilih yang datang ke kotak suara diberi nomor undian, yang akan diundi pada akhir acara. Bagian dari money politic? Wallahualam!
Dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, panitia mengumumkan pemberian "hadiah pintu" alias door prize itu lewat segala cara. Mulai di forum pengajian, lewat pengeras suara di masjid-masjid, spanduk, hingga diteriakkan dengan mobil keliling. Dan seperti kaum eksekutif dan legislatif, mereka menemukan pembenarannya dengan mudah. "Terus terang, ini upaya kami untuk memobilisir masyarakat agar bersemangat menghadiri pilsekdes," kata Soeyitno Achmadi, ketua panitia pilsekdes Desa Kemiri.
Hasilnya lumayan, lebih dari 700 kepala keluarga—dari 1.200 kk yang memiliki hak pilih—akhirnya tak ogah-ogahan lagi. Mereka datang ke kotak suara berlomba-lomba. Bukan murni demi pesta demokrasi, tentu, tapi lebih terdorong oleh giuran barang-barang yang ditaruh di meja panitia. Mereka datang, mengambil nomor, dan duduk manis di sekitar arena pemilihan. Tapi, begitu usai pemilihan, suasana jadi riuh ketika panitia mengundi nomor. Dan seorang warga desa bernama Wardoyo pun ketiban rezeki. Televisi 20 inci kini meramaikan kehidupan keluarganya.
Kita tunggu apakah pemilihan presiden tahun depan juga akan dirangsang dengan "hadiah pintu". Pesawat terbang bikinan lokal, 'kali?
Tumor Disilet, Keluar Limpa
TIAP kali meraba dadanya, Tantin selalu merasa gelisah. Bukan sebab dadanya itu sudah kempis, namun benjolan di sana kian hari makin gede saja. Menurut dokter yang memeriksanya, benjolan itu tak lain tumor alias daging berlebih. Kalau mau hilang, sih, gampang, operasi saja. Biayanya Rp 4 juta. Tapi dari mana perempuan berprofesi pembantu rumah tangga ini punya duit sebesar itu?
Tiba-tiba seorang keponakannya menawarkan pemecahan yang menimbulkan harapan. Tersebutlah seseorang bernama Putu Manik Sudarwati. Perempuan asal Bali ini konon lihai menyembuhkan berbagai penyakit, termasuk tumor payudara Tantin, yang dijanjikan tanpa pembedahan. Dan biayanya jauh lebih murah. Tergiur promosi itu, Tantin lalu menemui sang dukun pertengahan Juli silam.
Dengan biaya Rp 225 ribu, pengobatan pun dilakukan—yang ternyata dengan "operasi" juga. Kok berani-beraninya, sang dukun kan bukan ahli bedah? "Dada kiri saya disilet lalu ditempel dengan kapas dan perban," tutur Tantin di Jember, Jawa Timur. Selesai disilet, menurut Putu, tumor Tantin sudah terangkat. Dia memberi bukti berupa segumpal daging dalam bungkusan plastik hitam. Tapi ada syaratnya. Bungkusan tumor itu terlarang dibuka, namun langsung ditanam di pekarangan rumah. Tantin mengangguk-angguk, kayak anggota parlemen zaman Orba.
Sesampai di rumah, Tantin meraba-raba kembali dadanya. Eh, benjolan di dada kirinya ternyata masih ada. Karena penasaran, bungkusan tas plastik hitam itu—yang belum sempat dikuburkan—langsung dibukanya. Sialan, si dukun telah membohonginya. Dari dalam kantong plastik, kini keluar bau yang menyengat, seperti bau alkohol. Sadar telah ditipu, dia melaporkan kelakuan Putu ke Polres Jember.
Di kantor polisi, perang mulut pecah. Putu menolak dituduh menipu. "Saya tidak menipu, itu memang cara saya mengobati pasien," katanya. Hal itu dikuatkan oleh Salma, tetangga Putu. Menurut dia, Putu sering melakukan pengobatan dan tak pernah ada yang komplain.
Namun pihak polisi melihat keganjilan. Setelah diamati, ternyata "tumor" Tantin yang dikatakan telah diangkat itu hanyalah limpa sapi yang disiram alkohol. Nah, kalau terbukti menipu, Putu bisa kena pasal penganiayaan, penipuan, dan pelanggaran undang-undang kesehatan. Ketempuhan, deh, si Tantin. Uang Rp 225 ribu lenyap, tumor tak hilang, dan payudaranya tersilet.
Irfan Budiman, Sunudyantoro (Sidoarjo) Mahbub Djunaidy (Jember)
|