Mengamankan Diri dari Bahan Peledak Teror ledakan bom terus berulang. Sebenarnya teknologi menawarkan pilihan untuk menangkalnya. |
Berbadan tinggi dan tegap, lelaki itu menghentikan setiap orang yang melewatinya, lalu memeriksa sekujur tubuh mereka, juga isi barang bawaan mereka. Rahman—bukan nama sebenarnya—adalah petugas keamanan di salah satu hotel mewah di Jakarta. Untuk memudahkan tugasnya, Rahman, juga para petugas keamanan lain pada umumnya, melengkapi diri dengan alat pendeteksi logam genggam (hand-held metal detector).
Banyak gedung dan tempat publik—perkantoran, hotel, mal, bandar udara, bahkan kantor pemerintah—yang menjalankan prosedur seperti itu, terutama sejak teror bom meruyak di berbagai tempat di Tanah Air. Tapi sebenarnya langkah-langkah yang ada, juga peranti yang digunakan, tak sepenuhnya bisa menjamin kita bakal lolos dari ancaman—jika memang ada.
Penggunaan metal detector genggam yang luas dimungkinkan—di samping karena bisa ditenteng—oleh harganya yang relatif murah, US$ 200-300 (sekitar Rp 2,5 juta). Karena sudah diprogram untuk sensitif terhadap logam, paling efektif alat bertenaga baterai 9 volt ini, ya, untuk menangkal senjata atau logam tersembunyi. Versi mutakhir, misalnya Enforcer G-2, bertambah kemampuannya dengan "hidung" untuk mendeteksi emas, perak, dan perhiasan lainnya.
Alat deteksi lain adalah bingkai pintu logam (walk-through detector atau portal detector). Kemampuan walk-through detector lebih baik dibandingkan dengan detektor genggam; mampu mengendus bahkan mata pisau cukur yang tersembunyi. Bobotnya yang hanya sekitar 25 kg memungkinkan siapa pun merangkainya dengan mudah. Harganya US$ 2.000-2.250 (sekitar Rp 18 juta). Adapun portal detector—misalnya berbagai seri Magnascanner—menggunakan teknologi digital signal processor (DSP) yang juga dilengkapi sinar-X. Harganya bisa mencapai US$ 4.000 (sekitar Rp 34 juta).
Karena hanya sanggup mendeteksi logam, pelbagai peralatan itu tak akan membantu jika ada orang yang berniat menyelundupkan bahan peledak. Bisa dibayangkan akibatnya jika hal semacam ini terjadi.
Sebenarnya pendeteksi bahan peledak, juga obat-obatan terlarang, sudah dikembangkan dan luas digunakan. Misalnya unit pendeteksi IonScan-Sentinel atau IonScan-400B, yang sudah dipasang di berbagai bandar udara di Amerika Serikat, Australia, Inggris, Malaysia, dan Hong Kong. Alat berbentuk bingkai pintu (portal explosives detector) ini berkepekaan tinggi, juga akurat.
Cara kerjanya sederhana. Seseorang melewati alat itu. Angin digunakan untuk melepaskan dan menguapkan partikel yang terjebak di tubuh atau pakaian. Seketika itu pula pelacakan partikel dengan teknologi ion mobility spectrometry (IMS) dilakukan otomatis. Dalam hitungan detik (sekitar tujuh orang per menitnya), seseorang dapat diketahui apakah membawa partikel bahan peledak atau tidak. Pada alat itu sudah terprogram lebih dari 40 jenis bahan peledak dan obat-obatan.
Di berbagai bandar udara, IonScan yang harganya bisa mencapai Rp 2 miliar itu menjadi bagian dari sistem pemeriksaan yang sudah menjadi standar. Dalam sistem itu mula-mula ada teknologi sinar-X, misalnya InVision CTX5500, yang digunakan untuk mendeteksi isi barang bawaan penumpang dengan tampilan tiga dimensi. Lalu, ada pendeteksi tubuh seperti Rapiscan Secure 1000, yang bisa membuat orang seperti telanjang di layar. Jika ada benda yang disembunyikan di dalam pakaian, benda itu akan tampak. Baru sesudah itu digunakan IonScan.
Ada versi yang bisa ditenteng ke mana-mana (portable explosives detector) dengan kemampuan seperti IonScan. Tinggal pilih, dari yang berupa desktop dengan bobot sekitar 25 kilogram sampai yang beratnya hanya 2,5 kg. Untuk bahan peledak, pendeteksian mencapai tingkat picogram (satu picogram setara dengan sepertriliun gram). Untuk obat-obatan, bisa mencapai tingkat nanogram (setara dengan sepermiliar gram). Contohnya, Sabre-2000, yang berdimensi 33 x 11,5 x 13 sentimeter.
Cara kerjanya adalah dengan mengoleskan kertas swab (semacam kain) ke tangan seseorang atau benda yang dicurigai mengandung bahan-bahan peledak. Kertas itu lalu dideteksi dengan Sabre (IonScan pun bisa melakukannya). Hasilnya akan tampak di layar. Cuma, harganya bisa mencapai US$ 49 ribu (se-kitar Rp 412 juta). Satu kotak kertas swab berisi 200 helai saja berharga US$ 150 (sekitar Rp 1,2 juta).
Kepolisian Indonesia telah mempunyai IonScan-400B dan Sabre-2000. "Tiap Puslabfor cabang di tiap-tiap kepolisian daerah sudah mempunyai satu Sabre-2000. Sedangkan IonScan baru dimiliki Medan, Palembang, Semarang, Surabaya, Bali, Makassar, dan Jakarta," kata Brigjen (Pol.) Dudon Satiaputra, Kepala Pusat Laboratorium dan Forensik Mabes Polri.
Peluang pemanfaatannya yang lebih luas memang terbentur pada harga yang relatif mahal. Tapi, jika hidup dengan ancaman teror setiap saat sudah dipandang tak terelakkan, tampaknya para pemilik atau pengelola pelbagai tempat publik harus berpikir keras untuk memilih dan membuat keputusan.
Levi Silalahi
|