Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 24/XXXII/11 - 17 Agustus 2003
   
Hiburan

Canda itu Mahal

Eko Patrio, peraih penghargaan Mont Blanc kali ini, tidak hanya sukses di atas panggung hiburan. Ia juga piawai mengelola bisnis.

Sebuah rumah batu berdiri tegak di atas sebidang tanah seluas 500 meter persegi di Jatinegara, Jakarta Timur. Garasinya luas. Tapi bukan itu yang menarik. Di dalamnya tiga mobil tampak mengkilat: sebuah Mercedes Benz C320 silver, satu Mercy A140 berwarna biru, dan sebuah Honda Ceilo. Sepintas kita tahu, pemiliknya bukan orang sembarangan.

Dua pekan lalu, kepada TEMPO ia bertutur tentang masa lalunya, bak seorang kakek mengisahkan puluhan pengalaman heroik yang tak mungkin kembali. Ia bercerita tentang periode di SMA-nya belasan tahun silam yang ”kurang gaul”. Ia kemudian tergelak ketika menggambarkan sosok dirinya yang berbeda seratus delapan puluhan derajat dengan penampilannya kini. Waktu itu ia pendiam, duduk sebagai sekretaris OSIS di SMA Negeri 18 Jakarta, dan bercita-cita menjadi dokter. Prestasinya di sekolah memang lumayan bagus, kawan-kawannya tahu ia bukan anak bodoh.

Tapi ada jarak yang terbentang antara masa itu dan kini. Kita tahu, ada rasa lega dan bangga di antara kalimat-kalimatnya yang lancar. Tentu saja, ia, Eko Hendro Purnomo alias Eko Patrio, pemilik rumah dan tiga mobil di atas, pantas mendapat kredit atas semua itu.

Di layar kaca, ia mengawali kariernya dari satu titik nol: figuran. Ketika itu, ia masih di kelas dua SMA—namun sudah membentuk grup lawak dengan dua teman sekolahnya. Trio Seboel—demikian mereka menyebut grupnya—cuma nongol semenit dalam acara Operet Lebaran bersama grup lawak kesohor, Warkop DKI (Dono, Indro, Kasino). Namun akibatnya melonjakkan rasa percaya diri. Eko mungkin bukan pelawak dengan bakat alam. Ia mulanya kesengsem dengan penampilan Warkop dan Grup Bagito (Miing, Didin, dan Unang). Tapi ia tak berhenti di situ. Eko merekam, mempelajari, menirukan banyolan mereka di radio dengan serius.

Eko kembali terkekeh, matanya menerawang ke sepotong masa lalu. Ia ingat saat keseriusan itu mengobarkan amarah ayahnya. ”Kaset yang dipakai untuk merekam ulang ternyata berisi lagu-lagu kesayangan ayah saya,” ucap Eko. Ia juga ingat ketika mereka mulai mengisi acara di Radio SK tiap minggu. Waktu itu, 1989, honor pertama mereka Rp 40 ribu sebulan. Lima tahun berselang, ia berkenalan dengan Parto dan Akri, perkenalan yang membuahkan grup lawak Patrio. Mereka main di Radio SK dan lekas populer. Tapi tak ada yang lebih melonjakkan popularitas mereka selain penampilannya di Televisi Pendidikan Indonesia (TPI). Acara Ngelaba termasuk program unggulan selama delapan tahun.

Popularitas melonjak, pintu rezeki terkuak. TPI kini berani mengucurkan Rp 2 miliar untuk sebuah kontrak dengan Grup Patrio. Di luar televisi, satu kali manggung mereka mengenakan sekitar Rp 35 juta.

Eko telah ”naik kelas”. Ia memang berjanji tak akan meninggalkan profesi pelawak—pekerjaan yang disamakannya dengan ibadah, membuat orang lain senang. Tapi di kantornya di Tebet, Jakarta Selatan, ia bukan lagi pelawak. Ia menjalani sesuatu yang rutin. Pukul 09.00, seorang sopir mengantarnya dengan Mercy sport warna silver keluaran terbaru. Penampilannya biasa saja menurut ukuran eksekutif: baju, celana panjang berwarna cokelat, sepatu Bally hitam yang disemir mengkilap. Tapi ia sibuk luar biasa.

Pagi itu ia rapat. Entah apa yang dibicarakan, satu jam kemudian ia bertemu dengan seorang auditor yang bakal mengulik laporan keuangan perusahaan. Dua jam berselang, ia menandatangani setumpuk berkas yang disodorkan oleh sekretarisnya. Mulai dari cek, lembar tagihan, hingga program acara yang akan diproduksi. Mata Eko menelusuri lembar demi lembar kertas sekitar 20 halaman itu, sebelum menggoreskan pulpennya. Sejak April 2001, Eko adalah direktur perusahaan E-Komando. Produk perdana perusahaan itu tayangan langsung pesta pernikahan Eko dengan istrinya sekarang, Viona Rosalina, di stasiun TPI. Bukan acara istimewa, tapi mampu menggeser pertandingan sepak bola Liga Inggris yang rutin ditayangkan TPI.

Bercita-cita jadi dokter, lulus Fakultas Komunikasi Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP), tenar sebagai pelawak, kini Eko mulai melompati batas-batas kepelawakannya. Belasan program hiburan—dari infotainment, pertunjukan dangdut secara langsung, hingga sinetron komedi—ditanganinya. Di luar itu, ia mendirikan restoran di kawasan Semanggi dan sebuah salon kecantikan.

Eko menanjak kian tinggi. Ia menepis faktor kedekatannya dengan Keluarga Cendana sebagai pangkal suksesnya. Sebuah tudingan tentang ”sejarah” yang mungkin saja bakal berakibat jauh bagi keberhasilannya. Modal perusahaan yang dipimpinnya, katanya, bersumber dari tabungannya selama bertahun-tahun. Soalnya, dalam setahun, kabarnya, lelaki berwajah kelimis ini bisa meraup pendapatan sekitar Rp 4 miliar—dari berbagai sumber penghasilan. Ia tak banyak berubah, tapi lebih banyak melihat ke depan ketimbang mengingat-ingat masa lalu. Mobilnya telah berubah, tapi kegemarannya masih tongseng kambing.

Eko masih muda, 33 tahun, beranak satu, sukses dan—tentu saja—belum capek. Bulan lalu, perusahaan pulpen internasional Mont Blanc menyerahkan penghargaan kepada ayah satu anak ini. Sebelumnya, dua kali berturut-turut, 1999 dan 2002, lewat berita gosip di Indosiar, ia memperoleh Panasonic Award. Eko ”naik kelas”, kita tahu tak banyak pelawak yang bernasib seperti Eko.

Dewi Rina Cahyani


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data