"Tak Baik Presiden Disuruh Mengalah" |
RATUSAN tamu datang-pergi silih-berganti sepanjang dua pekan lalu di rumah bangsawan Kerajaan Badung, Anak Agung Ngurah Oka Ratmadi. Puri Satria, di Jalan Veteran, Denpasar, Bali itu memang bak magnet yang mengundang datang semua orang. Di atas karpet merah, puluhan pemuda duduk santai, begadang seraya bermain gaple. Cok Rat, demikian tuan rumah dan tokoh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu biasa disapa, malah hanya berkaus kutang dan bersarung, membaur bersama kader partainya. Mereka berkumpul untuk menghibur hati Bupati Badung yang baru "diganjal" dalam pencalonan Gubernur Bali 2003-2008, justru oleh partainya sendiri.
Sesekali orang dekat Megawati itu tertawa lepas menyambut tamu. Tubuhnya yang tinggi besar bergoyang-goyang di atas kursi yang kekecilan. "Selama saya terjun ke dunia politik, baru sekarang ini saya sakit hati," katanya sedikit gusar.
Betapa tidak, keputusan Fraksi PDIP Bali yang mengajukan Cok Rat sebagai calon Gubernur Bali tak digubris Ketua Umum, Megawati Soekarnoputri. Yang membuat ia lebih kecewa, pengurus pusat PDIP malah menjatuhkan pilihan pada kader dari luar Partai, Dewa Made Beratha—Gubernur Bali sekarang—yang berpasangan dengan I.G.N. Alit Kelakan.
Awalnya, Cok Rat bertekad melakukan "perang puputan" melawan rekomendasi DPP PDIP No. A-34/IN/DPP/VII/2003, yang hanya merestui Dewa Made Beratha-I.G.N. Alit Kelakan. Tapi, secara mengejutkan, pada Senin pekan lalu, setelah beberapa kali dipanggil sejumlah pengurus pusat, Cok Rat malah mundur. Padahal, jauh-jauh Fraksi PDIP Bali sudah menyokong penuh pencalonannya sebagai gubernur. "Demi menghormati Ibu Mega, sekali lagi, demi menghormati Ibu Mega, saya memutuskan mundur," katanya, disambut amarah massa.
Mengapa pria yang terjun ke partai politik sejak usia 25 tahun ini tak berani membangkang? Benarkah ia ditekan Taufiq Kiemas supaya mundur? Apa kritiknya terhadap PDIP, Mega, dan Bali? Wartawan TEMPO di Bali, Jalil Hakim dan Rofiqi Hasan, mewawancarai Cok Rat dalam dua kesempatan santai dan penuh gelak tawa, sebelum dan sesudah pengunduran dirinya sebagai calon Gubernur Bali 2003-2008.
Mengapa Anda akhirnya mundur sebagai calon gubernur?
Seperti saya katakan saat itu, saya menghormati Ibu Megawati sebagai Ketua Umum Partai. Selain itu ada pertimbangan yang tak kalah pentingnya, yaitu demi keamanan, keharmonisan, serta keutuhan Bali. Saya tidak ingin Bali hancur karena ngotot-ngototan dalam pemilihan gubernur.
Bukankah Anda didukung Fraksi dan dipilih secara demokratis, sehingga legitimasi Anda kuat dan konstitusional?
Calon yang direkomendasikan pusat, karena menjadi keputusan Partai, juga konstitusional dan legitimated. Tapi perdebatan semacam itu hanya bisa dimengerti oleh internal kita.
Maksud Anda?
Lo, kalau saya ngotot maju, dan yang direkomendasikan pusat pasti juga tetap maju, pada tahap berikutnya nama saya pasti dicoret. Di DPRD mungkin saja tidak, tapi sampai di tangan Presiden tetap saja akan dicoret.
Setidaknya Anda tak mengecewakan kader dan para pendukung, sekalipun pada akhirnya kalah.
Jangan salah, yang terjadi justru bisa sebaliknya. Rakyat menjadi makin marah. Mereka pasti tidak bisa menerima mengapa saya dicoret sebelum bertarung. Ini kan kontraproduktif.
Menurut prediksi Anda, seberapa besar tingkat emosional massa kalau Anda tetap maju dan dicoret sebelum bertanding?
Anda kan melihat bagaimana reaksi massa ketika saya mundur. Mereka marah sekali, sampai ada yang membanting pot. Mereka itu koordinator lapangan, yang jumlahnya tak kurang dari 200 orang. Mereka rata-rata membawahkan seribu kader. Berarti ada 200 ribu orang akan mengamuk. Waduh, ngeri saya. Bali kan belum pulih, ibarat orang sakit masih dirawat di ruang ICU. Bakar-bakaran pasti terjadi. Pariwisata Bali akan makin terpuruk.
Mengapa sebelumnya Anda mengatakan tetap maju? Mengapa begitu cepat keputusan berubah?
Saya sudah melakukan perenungan mendalam sejak turun rekomendasi pada 21 Juli, sampai akhirnya saya mundur. Jadi, sudah satu pekan saya merenung, menimbang-nimbang. Akhirnya saya memutuskan mundur.
Apakah sebelum itu anggota Fraksi tahu keputusan Anda?
Saya sudah bicara juga dengan mereka. Saya jelaskan hasil perenungan saya. Kalau saya tetap maju, nama saya toh akan tetap dicoret. Untunglah, teman-teman bisa mengerti posisi saya.
Tapi Anda kelihatan sangat kecewa dengan kasus ini?
Saya manusia, tentu saja saya kecewa. Tapi saya harus menutup kekecewaan itu. Sebab, kalau saya ngomong ke mana-mana, saya bisa membayangkan apa yang bakal terjadi. Bali akan panas. Saya harus meredam semua itu.
Anda merasa ditekan sehingga harus mundur?
Saya tidak terlalu merasa begitu. Saya tahu apa yang akan terjadi kalau saya tetap maju. Seperti kata Bung Karno, kita boleh hancur, tapi negara ini tidak boleh tenggelam.
Apa yang sudah Anda lakukan untuk melobi pengurus pusat sebelum memutuskan mundur?
Karena Fraksi yang mengajukan, sesuai dengan aturan main, saya cukup menyampaikan ke Fraksi. Tapi yang harus dipahami betul oleh para pengurus pusat PDIP, seharusnya jaga betul citra Partai kalau ingin masa depan Partai baik. Kalau terus-terusan main rekomendasi, apalagi untuk orang yang tak dipercaya rakyatnya, image Partai akan rusak. Masyarakat akan bilang: kok PDIP otoriter, kok ketua umumnya otoriter. Padahal, dia kan presiden.
Apa yang salah dengan rekomendasi ini?
Saya katakan, ada sikap kontradiktif dari DPP. Satu sisi mengharuskan proses penjaringan dari bawah. Di sisi lain, arus bawah yang sudah dibangun dipotong begitu saja dari atas.
Sejauh ini, apakah pengurus pusat aktif mengkomunikasikan latar belakang rekomendasi itu?
Tidak ada penjelasan yang baik dari mereka. Setelah ribut-ribut, baru DPP turun. Rekomendasi juga datang terlambat.
Mungkin karena menyangkut hak prerogatif Ketua Umum?
Keputusan DPP maupun hak prerogatif tidak boleh menghancurkan proses penjaringan yang sudah dibangun dari bawah.
Atau sebaliknya, DPP baru tahu bahwa proses penjaringan tidak beres?
Saya menyesal sekali kalau ada anggapan seolah PDIP Bali bodoh dan mudah diiming-imingi duit. Orang PDIP Bali itu kaya-kaya, bahkan ada yang punya lima Harley Davidson. Saya jamin proses penjaringan hingga penetapan nama saya murni dan tak ada rekayasa.
Jadi, menurut Anda, hak prerogatif harus dihapuskan di masa mendatang?
Kenapa kita harus mempertahankan yang nyata-nyata jelek. Hak prerogatif tidak boleh ada lagi supaya tidak terulang kasus seperti ini. Sebenarnya, hak prerogatif itu bukan cek kosong yang diberikan begitu saja. Jadi, tidak boleh sembarang digunakan, melainkan hanya dalam situasi tertentu. Pengurus pusat PDIP harus introspeksi.
Maksudnya, kasus Bali harus beda dengan daerah lain?
Ya. Khusus Bali, kan tidak ada yang salah dalam proses penjaringan, penyaringan, hingga penetapan saya sebagai calon gubernur oleh Fraksi? Justru Fraksi yang menunggu-nunggu rekomendasi, tapi tidak juga turun. Jadi, rekomendasi yang harusnya sejalan dengan hasil rapat kerja daerah khusus.
Menurut Ketua DPD Bali, Wesnawa, rekomendasi untuk Dewa Beratha demi stabilitas keamanan dan politik di Bali. Pertimbangan itu datang dari Lemhannas. Komentar Anda?
Pertimbangan macam apa itu, saya tidak tahu. Kita tidak bisa memprediksi bagaimana konstelasi politik sebelum dan sesudah Pemilu 2004. Jangan over-estimate. Soeharto yang begitu kuat dan berkuasa lebih dari 32 tahun saja bisa ditumbangkan. Saran seperti itu mestinya dipikirkan benar-benar dan didiskusikan dengan kita yang di bawah.
Sebelum Bali, daerah lain mengalami tekanan yang sama. Apa mungkin ada skenario eksternal untuk mengobrak-abrik PDIP?
Saya tidak ingin bicara sejauh itu. Ini politik, segala kemungkinan bisa saja terjadi. Makanya saya bilang, semua orang di partai ini harus bersama-sama menjaga Partai. Yang jadi pemimpin jangan otoriter, karena nanti orang akan bilang, lihat itu PDIP, begitu naik sok kuasa. Nama Partai kan jadi buruk. Padahal, beberapa bulan lagi kita sudah Pemilu 2004. Kok, Partai isinya ribut melulu. Malu kita.
Menurut Anda, apa semua rekomendasi pemilihan gubernur diketahui Mega?
Tidak sepenuhnya Mega tahu. Buktinya, rekomendasi di Kalimantan Timur, Mega enggak tahu, tapi penguruslah yang bikin. Tapi Ibu pasti tahu soal saya, karena saya tiga kali ketemu. Waktu itu saya bilang ya-ya saja. Tapi saya maju terus. Ha-ha-ha....
Ada kabar, ini semua terjadi karena hubungan Anda dengan pengurus PDIP Bali kurang baik?
Terus terang, dengan pengurus PDIP Bali saya tidak berkomunikasi, karena pengurusnya kurang komunikatif. Tapi saya sampai tiga kali ketemu langsung dengan Ibu Mega. Ibu bilang supaya saya tidak mencalonkan diri. Saya berani bilang: tidak bisa. Saya jelaskan dampak baik maupun buruknya bagi Partai. Saya maju betul-betul demi nasib Partai ke depan.
Dalam prediksi Anda, apakah kekecewaan kader PDIP di berbagai daerah akan menurunkan suara PDIP pada Pemilu 2004?
Sebagai orang yang ikut melahirkan Partai, saya ingin PDIP tetap bisa menang dalam pemilu. Tapi, untuk itu, kepercayaan masyarakat harus dijaga. Mereka melihat, mendengar, dan mengalami. Pengurus tidak boleh bertindak semaunya sendiri, mentang-mentang berkuasa.
Made Beratha direkomendasikan sebagai calon gubernur karena siap dengan program membesarkan Partai?
Omong kosong itu. Yang bisa membesarkan Partai adalah kader Partai sendiri. Kebesaran Partai di daerah tidak ada urusannya dengan gubernur seperti itu. Saya tegaskan, kalau betul pertimbangan DPP seperti itu, saya bisa memastikan dia tidak akan banyak membantu. Apakah lantas dia ambil duit pemerintah lalu diberikan ke PDIP? Itu tidak mungkin.
Jadi, menurut Anda, peran gubernur tak strategis bagi masa depan Partai?
Bali berbeda dengan daerah lain. Yang bisa menggerakkan rakyat itu bukan gubernur, melainkan pemuka desa adat, pengurus di banjar-banjar. Begitu pengurus banjar memukul kul-kul (kentongan), rakyat berbondong-bondong. Coba gubernur yang memukul kul-kul, apa ada yang mau datang? Selain itu, dengan adanya otonomi daerah, kewenangan gubernur itu hanya de jure. Secara de facto, kekuasaan ada di kabupaten dan kota.
Kalau begitu, kenapa Anda ingin jadi gubernur?
Konstitusi Partai menghendaki seperti itu. Massa PDIP di Bali mendaulat saya untuk maju dalam pemilihan.
Ada yang menarik, sewaktu Anda mundur, Anda menyebut "demi menghormati Ibu Mega" berulang-ulang….
Saya punya sejarah kedekatan dengan Ibu Mega. Saya tahu keputusan itu bukan cuma dari pengurus pusat, tapi dari Ibu Mega langsung. Tidak seperti Mardijo di Jawa Tengah, tahu-tahu turun rekomendasi dan dia di-recall.
Bagaimana komunikasi Anda dengan Mega sebelum Anda memutuskan mundur?
Saya sampai tiga kali ketemu. Kesimpulannya, Megawati terjun langsung dan rekomendasi itu benar-benar dari Ibu.
Seberapa dekat hubungan Anda dengan Megawati?
Kami dekat karena visi yang sama sebagai pejuang. Setelah Munas Pertama PDIP, saya yang pertama membuka posko PDI mendukung Megawati. Waktu itu saya masih ketua cabang. Sayalah satu-satunya ketua cabang di Bali yang langsung menyatakan mendukung Ibu Mega.
Tapi mengapa Megawati kemudian mengambil keputusan yang berat, yang bisa mengganggu hubungan Anda dan Puri Satria?
Waktu itu Pak Taufiq Kiemas mengatakan, ini memang keputusan berat bagi Mbak Mega, tapi harus diambil demi kepentingan bangsa dan negara. Makanya saya mengalah. Tidak baik kalau Presiden disuruh mengalah, pasti saya dong yang mengalah. Saya tak mau ramai-ramai, ngotot dan harus menang.
Ada yang bilang, meski calon PDIP nanti jadi, batin mereka sebenarnya tetap kecewa?
Saya tidak mau membuat prediksi. Saya berharap anggota Fraksi bisa memanfaatkan suaranya sebaik-baiknya untuk mengamankan rekomendasi itu.
Selain intervensi Partai, pemilihan kepala daerah dibayangi politik uang. Untuk menghindari itu, menurut Anda, perlukah pemilihan langsung?
Susah sekali membuktikan money politics. Saya lebih setuju pemilihan langsung dalam pemilihan gubernur dan bupati. Legitimasinya lebih kuat, sehingga yang jadi tidak merasa seperti raja.
Anda sudah ketemu Made Beratha, untuk mendinginkan suhu politik, misalnya?
Saya dengan siapa saja mau ketemu, apalagi dengan gubernur yang calon gubernur. Tapi bukan untuk mendinginkan suasana karena sekarang sudah sangat dingin dan tidak ada apa-apa lagi di Bali.
Menurut Anda, mengapa Megawati sepertinya lebih banyak mendengar orang luar ketimbang kadernya sendiri?
Untuk soal itu saya lebih melihat ke depan, bagaimana memikirkan demokrasi dan memberikan hak kepada semua orang agar bisa sama-sama berperan membesarkan Partai. Dengan mempertahankan gaya lama, Partai makin lama makin jatuh dan tinggal menghitung hari saja. Kalau bertemu "orang Jakarta", itu juga yang saya sampaikan. Sudahlah, hitung-hitungan mereka kan lain, kita lihat sajalah di pemilu nanti seperti apa. Apa betul Ibu masih bisa jadi presiden.
Kalau begitu, apa yang harus segera dilakukan PDIP, khususnya Bali?
Segera lupakan apa yang baru terjadi dan akhiri semua kemelut karena pemilu sudah dekat. Kita harus fokus. Sekarang banyak pelantikan pengurus anak cabang tertunda gara-gara pengurus cabang meributkan pemilihan gubernur.
Seandainya Anda jadi gubernur, apa prioritas program Anda?
Kalau saya jadi gubernur, prioritas saya adalah mengembalikan kepercayaan rakyat kepada pemerintah, karena sekarang rakyat melihat birokrasi itu menyusahkan dan ruwet.
Anda masih berminat jadi gubernur pada 2008 nanti?
Itu kan masih lama sekali. Habis waktu saya kalau hanya memikirkan itu. Lagi pula, umur saya nanti 68. Mau apa lagi? Mestinya gubernur itu yang masih muda. Saya masih menikmati suasana seperti sekarang ini, bisa santai pakai celana pendek seperti ini.
Anak Agung Ngurah Oka Ratmadi
Tempat/Tanggal Lahir:
- Denpasar, 2 November 1945
Pendidikan:
- Fakultas Hukum Universitas Negeri Jember
Istri:
Anak:
- Ir. Anak Agung Isteri Ratna Dewi
- Anak Agung Bagus Kresna Yoga
Organisasi:
- 1973-1978: Wakil Sekretaris PDI Badung
- 1987-1992: Wakil Ketua DPD PDI Bali
- 2000-2005: Dewan Penasihat PDIP Bali
Karier:
- 1974-1977: Anggota DPRD Badung
- 1977-1987: Anggota DPRD Provinsi Bali
- 1992-1997: Wakil Ketua DPRD Badung
- 1999-2000: Wakil Ketua DPRD Bali
- 2000-2005: Bupati Badung
|
|