Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 23/XXXII/04 - 10 Agustus 2003
   
Selingan

Sesudah Bertemu dengan Ular Hitam

Adanya ular hitam dipakai sebagai syarat untuk memilih tempat baru. Suku Wana hanya percaya kepada Pue sebagai Tuhan mereka.

KABUT pagi masih menyelimuti Kampung Kea-kea, di kawasan Cagar Alam Morowali, Sulawesi Tengah. Jima, kepala suku Wana, terbangun dari tidurnya. Lelaki berusia 62 tahun itu langsung beranjak mengambil tas kecil yang terbuat dari anyaman rotan. Dari dalam tas ini, dijumputlah tembakau dan dipilinnya dengan selembar daun jagung kering menjadi sebatang rokok. Lalu dia pun asyik merokok dengan ditemani segelas air putih dan sebungkus tape ketan yang sudah tiga pekan disimpan.

Sementara mulutnya mengisap rokok, sesekali tangannya mengerik lumpur yang sudah kering di kakinya. Sengaja ia melumpuri kaki sebelum tidur untuk melindunginya dari gigitan nyamuk hutan. Setelah itu, Jima melangkah ke rumah warganya yang meninggal. Di sana sudah berkumpul beberapa lelaki yang akan melakukan upacara pemakaman.

Sesosok mayat terbungkus kain kusam dimasukkan ke liang lahad dengan posisi kepala menghadap matahari terbit dan kaki mengarah ke ujung matahari terbenam. Sesudah mayat ditimbuni tanah, dibuatlah atap dari daun rotan atau sagu di atas gundukan tanah itu. Beras dan air ditaburkan di atas atap itu. Tak lupa sebilah parang diselipkan di antara rajutan atap. Di sebelah gundukan tanah, ditaruhlah bakul dari daun pandan berisi baju, korek api, tembakau, dan sirih.

Selesai? Belum. Masih ada serangkaian upacara yang diselenggarakan suku Wana. Mereka yakin arwah yang meninggal dunia masih hidup dan mengawasi kehidupan manusia di bumi. Sang arwah akan berangkat ke surga setelah hari ke-18 untuk perempuan dan hari ke-16 untuk laki-laki.

Dua hari menjelang arwah berangkat ke surga, diadakan upacara melepas arwah yang disebut dandelu bila yang meninggal laki-laki dan upacara pakayori jika yang meninggal perempuan. Bedanya, dandelu hanya dilakukan oleh kaum pria, sementara pakayori boleh diikuti siapa saja, laki-laki dan perempuan.

Upacara diadakan saat matahari mulai tenggelam dan satwa malam mulai bercengkerama. Orang-orang berdiri melingkar sambil bergandengan tangan, melantunkan pantun berbalas sambil menangis sesenggukan. "Kenapa kamu pergi terlalu cepat, sedangkan kami di sini masih mencintaimu, masih merindukanmu," begitu antara lain bunyinya. Kemudian yang lain membalas, "Biarlah saya pergi karena di sana (alam baka) tempat saya sudah ada dan aman."

Selama semalam suntuk mereka mengadakan perhelatan itu. Ketika matahari mulai menampakkan diri, mereka lantas berpesta dengan menu ayam. Setelah itu, seorang lelaki mengambil api dari tungku. Dan wus...! Api menyambar rumah yang selama ini ditempati mendiang, sampai hanya menyisakan abu. Adakalanya diperlukan senjata untuk merobohkan rumah itu. Tindakan ini merupakan lambang putusnya hubungan antara orang yang masih hidup dan yang meninggal. Alasannya, rumah itu sudah dikelilingi roh jahat. Begitu pula kebun yang digarapnya. Mereka lantas memutuskan pindah dan mencari ladang baru.

Sebelum pindah ke tempat baru, Jima sebagai kepala suku mengadakan survei lokasi. Sebuah tempat dianggap cocok untuk segala tanaman dan subur bila dalam perjalanan Jima bertemu dengan ular hitam. Sering lahan yang akan ditempati itu adalah lahan yang pernah mereka tempati sebelumnya.

Sesampai di kawasan yang disebut Kayupoli, Jima memang sempat bertemu dengan ular hitam. Kawasan ini masih berada di Cagar Alam Morowali. Apalagi tempat itu dipandang strategis karena dekat dengan muara sungai dan Kolonodale (ibu kota Kabupaten Morowali)—sehingga kebutuhan sehari-hari seperti ikan, baju, dan baterai mudah dicari.

Di tempat yang baru, upacara mesti pula diadakan. Lagi-lagi Jima yang memimpin. Ditingkahi riuh burung bersahutan dan suara keriangan kawanan monyet, dia duduk tenang, bersimpuh menghadap matahari. Lelaki ini meletakkan tampah yang berisi pinang, sirih, tembakau, kapur, dan parang di depannya. Sesaji ini disebut kapongo, yang merupakan prasyarat menuju Pue (Tuhan). Ia berharap Pue meniupkan rezeki dan kesehatan serta menjaga calon tempat baru itu dari gangguan roh jahat.

Meski sering berpindah lokasi, suku Wana sangat menjaga hutan. Mereka percaya bahwa Pangale Kapali atau "hutan lebat" adalah tempat leluhur suku Wana bermukim dan tempat asal mula nenek moyang mereka. Di tempat yang dianggap keramat ini, suku Wana melepas ayam sebagai bentuk persembahan kepada Pue. Waktunya tak tentu, bisa seusai panen sebagai ungkapan rasa syukur, bisa pula sebelum menanam padi agar hujan turun karena musim kemarau terlalu lama. Sering mereka juga memohon matahari terbit bila hujan turun tak henti-henti.

Selain Pangale Kapali, tempat leluhur suku Wana adalah Danau Rano. Di danau itu bermukim ratusan monyet. Mereka percaya, kalau mencebur ke danau, monyet-monyet itu akan berubah menjadi buaya. Begitu naik ke darat, hewan-hewan itu kembali ke wujud semula sebagai monyet.

Dalam pendataan Yayasan Sahabat Morowali, penyakit warga suku Wana umumnya malaria dan influenza. "Kalau musim hujan, kita sudah siap-siap melumuri kaki dengan tanah agar tidak digigit nyamuk," papar Jima.

Kalau ada yang sakit, tak bisa langsung diobati. Dukun suku Wana hanya mau mengobati bila sudah terkumpul 10 pasien. Sebelum diadakan pengobatan yang disebut mamago, informasi disebar. Mereka membawa pongas (air tape), telur, ayam, dan uang. Makin banyak upeti diberikan kepada dukun, makin bagus servisnya.

Mamago dilakukan enam orang dukun. Dua dukun berperan menangani pasien dan sisanya menjaga konsentrasi dukun. Sebelum melakukan pengobatan, dukun meminum pongas dari beras ketan yang disimpan selama setahun. Kemudian dukun memanggil roh leluhur dengan menari, membaca mantra, diiringi tetabuhan gong, keso-keso (alat musik gesek), dan kendang. Sekitar lima menit kemudian, dukun sudah mengalami trance. Keempat dukun lainnya kemudian menyadarkan dukun itu dari roh leluhur yang diyakini menghuni mata air, gunung, dan laut.

Setelah itu, seorang dukun meraba-raba tubuh pasien dan mencari titik-titik tempat penyakit bersarang. Bila sang dukun menemukan titik-titik penyakit, ia mengisapnya dan membuang sesuatu seperti meludah.

Bila lewat mamago tak sembuh, pasien diobati dengan upacara molawo. Syaratnya, semua alat yang dipakai asli buatan suku Wana. Tak ada sendok besi atau lampu petromaks. Selain itu, mereka mempercayai pengobatan momparada. Pengobatan ini memakai petir sebagai perantara penyembuhan. Bila ada petir, dukun akan berusaha menangkap dan memasukkannya ke dalam tubuh sang pasien. Karena itu, suku Wana sangat takut bila difoto memakai lampu karena mengiranya petir.

Berbagai kepercayaan itu susah ditinggalkan oleh suku Wana. Mereka terus memelihara tradisi itu, apalagi setelah mendengar ada kerusuhan di Poso yang dipicu oleh masalah agama. Jima dan kawan-kawan semakin yakin, hanya Pue yang bisa melindungi mereka.

Agus S. Riyanto, Darlis Muhammad (Morowali)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data