Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 23/XXXII/04 - 10 Agustus 2003
   
Luar Negeri

Lintas Internasional

Liberia

Gencatan Senjata untuk Perang

PEMERINTAH Liberia menolak ajakan gencatan senjata dari pemberontak LURD (Liberans United for Reconciliation and Democracy) setelah mortir menghujani kawasan tepi Monrovia, ibu kota negara itu, Selasa pekan silam. Penolakan ini sekaligus mengesampingkan imbauan menghentikan pertempuran agar pasukan perdamaian dari negara Afrika Barat bisa masuk ke Monrovia. "Enak saja bilang gencatan senjata. Kami bosan mendengar kata itu. Bagi saya, ketika mereka bilang gencatan senjata itu artinya saat untuk memperoleh lebih banyak senjata," ujar William Welleh, pejabat pemerintah Liberia.

Gencatan senjata sebenarnya sudah disepakati pada 17 Juni, tapi tak bertahan lama. Pemberontak beberapa kali menyerukan gencatan senjata, terlebih setelah 11 hari bertempur dengan pasukan Presiden Charles Taylor. Pertempuran itu mengakibatkan ratusan penduduk sipil tewas.

Pemimpin negara di Afrika Barat sudah meminta penempatan 1.500 pasukan perdamaian dari Nigeria, tapi pemerintah Nigeria menginginkan gencatan senjata sudah terjadi sebelum pasukan mereka masuk ke Liberia. Presiden AS George W. Bush pun mengerahkan tiga kapal perang ke Liberia dengan syarat harus ada gencatan senjata sebelum mendaratkan pasukan.

Irak

Hasutan Saddam Hussein

RAKYAT Irak mulai bisa menerima kematian anak bekas Presiden Saddam Hussein, Uday dan Qusay, setelah televisi Al-Arabiya menyiarkan rekaman suara Saddam pada 23 Juli lalu. Dalam rekaman yang dinyatakan keasliannya oleh CIA itu Saddam menyatakan gembira kedua anaknya berkorban untuk membangkitkan perlawanan terhadap AS. "Rakyat Irak tercinta, saudaramu Uday, Qusay, dan Mustafa memegang teguh keyakinan yang menyenangkan Tuhan," ujar Saddam.

Pernyataan Saddam itu meyakinkan sebagian rakyat Irak bahwa Uday dan Qusay memang sudah tewas. "Setahu saya ia (Saddam) mencoba mendorong rakyat menyerang AS dengan menyebut bahwa anak dan cucunya telah tewas," kata Fahr Jihuri, penduduk Bagdad. Sebagian yang lain cuek dengan seruan Saddam. "Saddam bukan siapa-siapa sekarang. Dia tak memiliki kekuasaan, tak punya senjata, tak punya teman. Apa yang bisa dia lakukan sekarang?" ujar Kahtan Muhammad. Tapi kepala staf gabungan pasukan AS, Jenderal Richard B. Myers, Selasa pekan silam mengakui kawasan Bagdad hingga Tikrit, kampung halaman Saddam, masih merupakan zona perang.

Sierra Leone

Akhir Si Pemotong Telinga

PEMIMPIN pemberontak Sierra Leone, Foday Sankoh, meninggal di dalam tahanan PBB, Selasa pekan lalu. Sankoh kondang sebagai pemimpin pemberontak yang gemar melakukan teror dengan cara memotong kaki dan tangan, bibir, dan hidung penduduk sipil. Sankoh yang memimpin Front Persatuan Revolusioner juga terkenal karena mudah melakukan pembunuhan, penculikan, pemerkosaan dengan rekor korban mencapai 10 ribu warga sipil.

Sankoh melakukan pemberontakan dan menguasai pemerintahan Sierra Leone yang kaya tambang berlian pada 1991. Tapi pasukan Inggris, Guinea, dan PBB campur tangan menumpas pemberontakan Sankoh. Pasukan PBB menangkap bekas tukang potret pengantin ini sebagai penjahat perang pada awal 2000, setelah pasukannya memberondong lebih dari selusin pemrotes di luar rumahnya di Kota Freetown.

Kamboja

Kemenangan Si Perokok Berat

PERDANA Menteri Kamboja Hun Sen kembali menunjukkan reputasinya memimpin Kamboja setelah berhasil menang dalam pemilihan umum yang berlangsung pada Ahad, 27 Juli. Hasil penghitungan akhir, Selasa pekan lalu, Partai Rakyat Kamboja yang ia pimpin merebut 73 dari 123 kursi di Majelis Nasional.

Christine Todd Whitman, pengamat asing dari Amerika Serikat, menyatakan pemilu di Kamboja mengalami kemajuan meski masih di bawah standar internasional. Seorang senator AS malah menyebut Hun Sen tak lebih dari seorang setan diktator paranoid. Meski diakui sebagai pemimpin cerdas dan pekerja keras, Hun Sen juga dinilai gagal memberantas korupsi dan malah memberikan kekebalan terhadap pelanggar hukum.

Hun Sen kalem saja menanggapi itu. "Jawaban Anda terhadap tuduhan itu adalah masyarakat sudah demokratis jika Anda punya hak menuduh orang lain diktator," kata perokok berat ini di depan pendukungnya.

Hun Sen lahir dari keluarga petani di Provinsi Kampong Champ, 48 tahun silam. Saat remaja, ia bekerja di sawah. Ia kemudian dikirim ke Phnom Penh untuk belajar di bawah asuhan pendeta Buddha. Tapi belakangan ia justru bergabung dengan gerilyawan komunis pro-Vietnam. Setelah Khmer Merah lari ke hutan, Hun Sen menjadi perdana menteri termuda di dunia pada usia 33 tahun. "Saya ingin membangun negeri saya seperti negara Asia Tenggara lainnya," katanya. Tapi hingga saat ini sepertiga rakyat Kam-boja hidup dengan tak lebih dari US$ 1 per hari.

Raihul Fadjri (Reuters, AP, BBC)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data