Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 23/XXXII/04 - 10 Agustus 2003
   
Kriminalitas

Sang Tertuding yang Liat

Gunawan Santosa, yang dituding terlibat dalam pembunuhan mertuanya, diketahui memiliki kawan para pejabat.

AWAL Januari 2000. Perayaan Lebaran di rumah dinas Jaksa Agung Marzuki Darusman di Jalan Denpasar Raya, Jakarta, cukup meriah. Semua tamu, yang kebanyakan berpakaian batik, tampak ceria, termasuk Gunawan Santosa alias Acin, yang datang bersama sejumlah rekannya. Hadir juga saat itu Mayjen Chalid Karim Leo (belakangan diangkat menjadi Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen) dan Harry Hoepoedio (teman sekolah Marzuki).

Tak sekadar berlebaran, menurut Harry, teman dekat Gunawan, pihaknya datang untuk menyerahkan data dugaan penggelapan pajak Boedyharto Angsono, bos PT Asaba, yang juga mertua Gunawan. Belakangan terungkap pengaduan ini sia-sia. Soalnya, Kejaksaan Agung kemudian mengeluarkan surat perintah penghentian penyidikan. Alhasil, sampai Boedyharto tewas ditembak pada 19 Juli silam, kasus ini tak terlacak. "Saat itu memang ada pengaduan soal pajak. Tapi saya lupa apa saya pernah bertemu dengan Gunawan," tutur Marzuki kepada TEMPO pekan lalu.

Kendati begitu, Lebaran di rumah Marzuki tetap menebarkan kesan: Gunawan, yang belakangan ini dihujani tudingan terlibat dalam pembunuhan mertuanya, memiliki banyak kawan di kalangan pejabat. Tak hanya pejabat sipil, tapi juga militer. Jangan heran jika selama ini Gunawan, 40 tahun, dikabarkan selalu dijaga oleh sejumlah anggota marinir.

Menurut Ahmad Fauzi Rawi, orang yang dekat dengan keluarga Boedyharto, hal itu pula yang membuat penyelidikan kasus pembunuhan itu terkesan lamban. Apalagi seorang anggota Kopassus, Edy Siyep, yang mengawal Boedy, ikut tewas. Selain itu, dari selongsong peluru di tempat kejadian (Gelanggang Olahraga Pluit, Jakarta Utara), dipastikan pistol yang dipakai pembunuh berjenis standar TNI dengan kaliber 9 milimeter. Temuan ini, kata Fauzi, membuat kasus ini jadi sensitif. Toh, Komandan Pusat Polisi Militer Sulaeman A.B. menyatakan pihaknya akan memproses jika ditemukan indikasi keterlibatan aparat.

Sejauh ini, belum ada pula temuan yang berarti dari pihak polisi. Sejumlah saksi telah diperiksa, antara lain anggota keluarga Gunawan dan Boedyharto, karyawan Vila de Ganza, Cidahu, Sukabumi, Jawa Barat, dan Ida Farida, yang diduga istri muda Gunawan. Menurut sumber TEMPO, dari keterangan karyawan di Vila de Ganza tersebut, terungkap Gunawan sempat datang ke vila itu pada akhir Januari lalu setelah kabur dari Lembaga Pemasyarakatan Kuningan, Jawa Barat.

Setelah menikah dengan Ida, ia mengganti namanya dengan Lukman Nurhadi. "Menurut karyawan yang dimintai keterangan itu, Gunawan sudah menikah dan berganti nama," ujar Hapid, seorang penjaga vila di Cidahu. Ini sesuai dengan keterangan Anton Medan, bekas narapidana yang kini menjadi dai, yang mengaku pernah ditemui oleh orang bernama Lukman yang wajahnya mirip Gunawan.

Tampaknya polisi berusaha melacak Gunawan lewat orang-orang dekatnya. Nana, seorang kawan Gunawan di Penjara Kuningan, pun sudah diperiksa Kepolisian Daerah Metro Jaya. Soalnya, dia sempat mengaku pernah diminta Gunawan mencarikan senjata api. Hasil pemeriksaannya? "Semua masih kami cek silang dengan saksi lain," kata Komisaris Besar Polisi Prasetyo, juru bicara Polda Metro Jaya.

Hanya, karena pelaku langsung pembunuhan itu belum terungkap, kasus itu menjadi pelik. Kalaupun ditangkap, Gunawan hanya bisa dijerat dulu dengan kasus pelariannya dari penjara. Ini pun diduga tidak gampang karena dia juga memiliki "lobi kuat" di kalangan aparat dan pejabat.

Kedekatan Gunawan dengan pejabat tersebut tergambar pula saat ia berperang perkara melawan mertuanya. Suami Alice (putri pertama Boedyharto) ini pernah diadukan mertuanya dalam kasus pemalsuan akta dan penggelapan duit dalam proyek perumahan Intercon, Jakarta Barat, pada 1998. Ujung dari dua kasus ini, Gunawan divonis total lima setengah tahun penjara.

Kendati begitu, dalam proses perkara itu, sebetulnya Gunawan cukup licin, liat, dan tak gampang ditaklukkan. Bahkan dia sempat berkeliaran walau statusnya ditahan. Itu sebabnya, pada pertengahan 2001, sang mertua sempat mengajukan protes kepada Kejaksaan Agung dengan tembusan ke sejumlah pejabat tinggi. Keliatan Gunawan juga terbukti saat dia berhasil kabur dari Lembaga Pemasyarakatan Kuningan, Jawa Barat, Januari lalu. Lolosnya Gunawan cukup mencurigakan karena dia tidak kabur dengan menjebol atap atau melompati tembok penjara, tapi diduga lewat pintu gerbang.

Salah satu figur yang dulu cukup dekat dengan Gunawan adalah Chalid Karim Leo. Bekas Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen ini mengaku kenal dengan Gunawan sejak 1993. Kendati begitu, ia membantah keras jika dikatakan aktif "mengurus" menantu Boedyharto ini. "Saya kan orang hukum. Lumrah kan memberi masukan sebagai teman?" ujarnya. Lagi pula, kata mantan Oditur Jenderal TNI ini, "Jika ada bantuan dari saya, masa, dia kalah melulu?"

Sampai sekarang, Chalid masih memiliki sebuah vila berbentuk rumah gadang di Cidahu, satu area dengan Vila de Ganza milik Gunawan (yang sekarang sudah jatuh ke tangan mertuanya). Warga setempat menyebutnya "Vila Pak Jenderal". "Vila itu memang milik saya, tapi tanahnya milik ayah Gunawan," ungkap Chalid.

Sebelum berseteru dengan mertuanya, Gunawan memang menawari Chalid membangun vila di sana pada 1999. Lalu dibuatlah vila yang cukup indah dengan dana Rp 60 juta. Chalid sendiri kerap menggunakan vila itu untuk berlibur dengan keluarga dan teman-temannya. Terakhir ia berkunjung 6 bulan lalu. Tak ada Gunawan di sana. "Saya terakhir ketemu dia sebelum saya berumrah bulan September 2001 lalu," ujarnya.

Selain Chalid, ada nama Maruli Panjaitan, sekarang Direktur Pidana Militer Mahkamah Agung. "Kami dulu sering mengobrol dan Gunawan mentraktir makan," ungkap Maruli, yang mengaku mengenal Gunawan sejak 1990-an. Ketika Gunawan meminta izin untuk mengatasnamakan aset-aset pentingnya dengan namanya, ia tak berprasangka jauh. "Ya, silakan saja," ujar Maruli. Apalagi saat itu, pada 1996, perseteruan Gunawan dan mertuanya belum muncul.

Belakangan, sikap gampangan itu menuai badai. Maruli sempat diperiksa Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara. Hakim militer senior itu dikira menyembunyikan kekayaan berupa tanah dan bangunan di kompleks perumahan Intercon, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, dan tanah seluas 12,5 hektare di Cidahu. Padahal semua itu milik Gunawan. "Itu hanya proforma," kata Maruli, yang mengaku bertemu terakhir dengan Gunawan pada tahun 2001.

Gunawan bahkan bertindak berlebihan. Ia pun diduga pernah memalsu tanda tangan Maruli untuk perlawanan atas putusan sidang harta gono-gini dengan istrinya. Menurut Harry Hoepoedio, sikap Gunawan itu semata didorong tekanan untuk menyelamatkan hartanya dari sita jaminan yang diusung Boedyharto tahun lalu. "Jadi, Gunawan membonceng nama Maruli tanpa setahu orangnya," katanya. Akhirnya Maruli memberikan surat bantahan dan akibatnya Gunawan diadukan dengan kasus pemalsuan baru.

Bukan cuma kenal dengan kalangan oditur militer, Gunawan punya banyak kawan di kalangan polisi militer. Seorang petinggi Polisi Militer TNI—sekarang berdinas di DPR—adalah salah satu karibnya. Menurut Harry, Gunawan berusaha menjaga kedekatan itu untuk melakukan perlawanan terhadap mertuanya, tapi kedekatan dengan para pejabat ini tidak negatif. "Kedekatan mereka justru untuk membantu Gunawan mengungkapkan adanya tanda tangan berkas perkara yang (diduga) dipalsukan oleh pihak Boedyharto," ucapnya.

Dugaan pemalsuan tanda tangan terungkap setelah Gunawan memeriksakan sebuah berkas perkara di laboratorium forensik polisi militer. Dengan dasar itu pula, beberapa bulan lalu, lewat pengacaranya, Asril Syarif, Gunawan mengajukan permohonan peninjauan kembali ke Mahkamah Agung atas kasusnya.

Selain berkawan dengan petinggi, Gunawan ternyata berkarib dengan tentara bawahan. Disebut-sebut ada tujuh orang marinir yang kerap mengawalnya. Ahmad Fauzi Rawi, dari pihak keluarga pemilik Asaba, membeberkan hal itu saat diperiksa oleh Polisi Militer Kodam Jaya.

Dari Alice, bekas istrinya, tak terungkap tentang pergaulan dan teman-teman Gunawan. Putri Boedyharto ini memilih tak banyak berkomentar. "Saya masih sedih. Ayah saya diperlakukan seperti orang jahat," ujarnya.

Hanya, kata Sulistiana Santosa, kakak perempuan Gunawan, hubungan Gunawan dan para marinir itu sebatas pertemanan biasa. "Kami memang pernah minta pengawalan marinir pada 1998 karena takut kerusuhan," katanya. Ternyata hubungan baik terus terjalin. "Kadang-kadang mereka main ke rumah," ujarnya. Para prajurit itu bahkan tak sungkan datang membantu bila dihubungi keluarga Gunawan. Kata Sulistiana, "Mereka bukan beking. Istilah itu dibesar-besarkan saja."

Arif A. Kuswardono, Yandrie Arvian (TNR)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data