Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 23/XXXII/04 - 10 Agustus 2003
   
Ekonomi dan Bisnis

Simalakama Suralaya

Pembangkit Listrik Tenaga Uap Suralaya terpaksa membeli batu bara dengan kualitas di bawah standar dan harganya lebih mahal.

ANCAMAN terhadap penyediaan listrik di Jawa-Bali makin lama makin menumpuk. Ketika sejumlah pembangkit listrik tenaga air (PLTA) tengah menghadapi kekurangan debit air, yang menyebabkan produksi listrik berkurang, pembangkit tenaga uap menghadapi masalah yang lain. Salah satunya adalah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya. Suralaya, yang memiliki tujuh unit pembangkit dengan kapasitas 3.400 megawatt, bakal menuai masalah gara-gara penggunaan batu bara yang tidak tepat. Diramalkan, kapasitas pembangkit terbesar di Indonesia ini akan berkurang dalam beberapa tahun mendatang.

Soal ini terang akan memperparah sistem kelistrikan Jawa-Bali, yang kini sudah kekurangan pasokan, karena Suralaya memasok 25 persen kebutuhan listrik Jawa-Bali. Dengan kapasitas terpasang sekitar 18 ribu MW, pada kenyataannya PLN hanya memiliki daya mampu sekitar 13 ribu MW. Selisih yang begitu besar terjadi akibat banyak PLTA yang tak optimal, sedangkan sejumlah PLTU sedang dalam perbaikan atau pemeliharaan. Sementara itu, permintaan terus meningkat. Dalam beberapa bulan ini, permintaan listrik rata-rata sudah di atas 13.500 MW. Itu sebabnya PLN belakangan ini sering melakukan pemadaman bergilir.

Sumber TEMPO di PT Perusahaan Listrik Negara mengungkapkan bahwa PLTU Suralaya sudah dua tahun terakhir menggunakan bahan bakar batu bara dengan kualitas di bawah standar. Dia menceritakan bahwa pembangkit yang terletak di pantai Selat Sunda ini dirancang menggunakan batu bara hasil PT Tambang Batu Bara Bukit Asam. "Batu baranya halus dan kalorinya sekitar 5.500 kilokalori," katanya. Soal ini diakui oleh Direktur Produksi PT Indonesia Power, Bambang Isti Eddy. "Jika kita menggunakan Bukit Asam, memang lebih efisien," katanya. Sampai tahun 2001, hampir seluruh kebutuhan Suralaya (80 persen) dipasok oleh Bukit Asam, yakni sekitar delapan juta ton per tahun.

Namun, pada tahun 2001, pasokan dari Bukit Asam mulai tersendat gara-gara ada masalah harga. Ketika itu, Indonesia Power hanya sanggup membayar batu bara dari Bukit Asam dengan harga Rp 140 ribu per ton. Padahal Bukit Asam minta agar anak perusahaan PLN yang mengoperasikan Suralaya itu menaikkan harga sampai Rp 210 ribu. Karena tak cocok-cocok juga, Indonesia Power akhirnya melirik produsen lain. Keputusan itu harus diambil karena—gara-gara pasokan dari Bukit Asam tersendat—pasokan listrik dari Suralaya sempat drop dari 3.400 MW menjadi cuma 2.400 MW. PLN kemudian membeli batu bara dari Kideco Jaya Agung dan Adaro Indonesia. Dari dua pemasok ini, Indonesia Power membeli sekitar tiga juta ton. Enam juta lainnya dipasok Bukit Asam, sedangkan sisanya diperoleh dari pasar spot.

Sayangnya, pengalihan penggunaan batu bara hanya menyebabkan pengoperasian pembangkit menjadi tidak optimal. Salah satunya adalah terjadinya penurunan daya mampu Suralaya sampai 400-500 MW (satu unit). Ini bukan jumlah yang kecil karena setara dengan lebih dari 550 ribu pelanggan listrik 900 watt. Selain itu, sering terjadi penggumpalan (slagging) pada turbin Suralaya. Untuk memperbaikinya, dibutuhkan waktu tiga hari dan biaya yang tidak sedikit. "Paling tidak kita keluar Rp 100 juta sekali rusak," kata sumber TEMPO tadi. Sudah begitu, harga batu bara dari Kideco dan Adaro sekitar Rp 245 ribu per ton, lebih mahal ketimbang Bukit Asam, yang kini harganya sudah Rp 230 ribu. Setidaknya ada pemborosan sekitar Rp 45 miliar per tahun.

Anehnya, kata sumber tadi, pembelian batu bara dari Bukit Asam terus dikurangi, tapi dari Kalimantan terus ditambah. Juru bicara Bukit Asam, Milawarma, mengakui kontrak penjualan batu bara ke Suralaya terus menurun dan kini tinggal enam juta ton. Situasi yang berbeda diungkapkan Manajer Administrasi Umum PT Kideco Jaya Agung, Ali Patan. Menurut dia, perusahaannya mendapatkan lonjakan permintaan dari Suralaya. Pada 1999-2000, perusahaannya hanya memasok 500 ribu ton per tahun, sedangkan kontrak untuk tahun 2002-2005 sudah mencapai 6,5 juta ton.

Menurut Bambang Isti Eddy, Suralaya tidak memiliki pilihan selain membeli batu bara dari Kalimantan. Dia mengakui kualitas batu bara selain Bukit Asam memang tidak cocok untuk pembangkit Suralaya dan itu menyebabkan sejumlah kerusakan kecil. "Tapi kami butuh bahan bakar karena Bukit Asam hanya mampu memasok enam juta ton," katanya seraya menolak tudingan bahwa penggunaan batu bara asal Kalimantan telah menyebabkan kerusakan yang parah pada Suralaya. Ini tak ubahnya seperti simalakama: jika tetap dibeli, harganya mahal dan menyebabkan kerusakan; kalau tidak dibeli, pasokan listrik bakal tersendat. Tapi bisa jadi semua ini terjadi karena salah urus.

Ali Nur Yasin


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data