Terdampar di Tanah Surgawi Pemain asing menjadi pilar penting tim yang berlaga di kejuaraan klub Asia Tenggara. Di negerinya, mereka terpental. |
SEBUTIR gol langsung menerbangkan Danilo Fernando ke langit. Tempik-sorak penonton yang memadati Stadion Petrokimia, Gresik, Ahad dua pekan silam, membuat kegembiraan pemain asal Brasil ini semakin lengkap. Berkat tandukan emasnya di babak perpanjangan waktu, tim tuan rumah yang dibelanya melaju ke babak perempat final kejuaraan antarklub se-Asean. Sebaliknya lawannya, SAF FC, juara Liga Singapura, harus angkat ransel pulang ke rumahnya. "Saya persembahkan gol ini untuk istri saya yang berada di Brasil," kata Danilo.
Kegirangan Danilo tak habis-habisnya. Bukan cuma menambah kejayaan Petrokimia Gresik, gol cantik itu membuat dirinya dinobatkan menjadi pemain terbaik dalam pertandingan itu. Sepanjang pertandingan, Danilo memang tampil lincah, liat, inspiratif, bagaikan tarian Samba. Ia layak menjadi bintang lapangan karena penampilannya yang menonjol.
Tapi tak hanya tari Samba yang menggoda. Pada lain hari, dalam pertandingan lainnya, penonton juga dihibur oleh "keganasan" dan kelincahan para pemain Afrika. Beberapa di antara mereka juga mendapat penghargaan sebagai pemain terbaik dalam sebuah pertandingan. Sebut saja Adu Sunday Omojola, pemain asal Nigeria yang berlaga untuk BEC Tero Sasana Thailand, dan Anthony Jomah Balla, pemain asal Liberia yang membela Persita Tangerang.
Bahkan Adu Sunday akhirnya bisa membawa timnya lolos ke final, menantang tim East Bengal (India) pada Sabtu lalu. Petrokimia sendiri, setelah dikalahkan oleh East Bengal lewat adu penalti, harus puas untuk berebut gelar juara tiga, menghadapi Perak FC.
Semua itu menebarkan tanda betapa kehadiran mereka di klub masing-masing di kawasan Asia Tenggara ini memiliki arti nan penting. Penonton pun menjadi lebih bergairah, seperti yang terjadi di Malaysia. "Kehadiran pemain asing di negeri kami telah mampu membuat kompetisi lebih bergairah. Penonton lebih suka datang ke stadion daripada dua tahun lalu, saat pemain asing tidak diizinkan bermain," ujar seorang ofisial dari klub Perak FC.
Negeri tetangga ini memang sempat melarang pemain asing bermain di negerinya. Namun, karena pertandingan di sana jadi tak menarik tanpa kehadiran pemain asing, federasi sepak bola Malaysia menjilat ludahnya sendiri. Para pemain asing akhirnya diperbolehkan kembali bermain di sana. Hasilnya, seperti kata encik dari tim Perak itu, stadion pun ramai lagi.
Hal serupa pula pernah terjadi di negeri ini. Suatu saat PSSI pernah melarang pemain asing bermain di liga utama. Alasannya, mereka tak membuat pemain lokal bertambah kepintarannya menyepak bola. Lama keputusan itu berjalan, akhirnya dicabut juga sembilan tahun silam. Hasilnya? Sama dengan di Malaysia, penonton jadi betah berlama-lama bersorak di stadion.
Sejatinya kondisi semacam itu amat memprihatinkan. Berjayanya pemain impor itu menjadi bukti bahwa kualitas pemain lokal yang masih di bawah standar. Selama ini pemain impor memang memiliki kelebihan dari segi fisik dan sedikit kemampuan teknik yang lebih baik. Kalaupun ada kelemahan, mereka biasanya susah diatur dan merasa menjadi bintang. "Secara teknik dan profesional, kemampuan mereka memang melebihi pemain lokal," kata Imam Supardi, Manajer Petrokimia Gresik.
Dengan segala kelebihannya, jangan heran jika para pemain amat dimanja oleh klubnya masing-masing. Di Petrokimia, misalnya, perbandingan pendapatan antara pemain lokal dan pemain asing itu cukup njomplang. Hampir satu banding tiga. Pemain lokal mereka biasanya digaji Rp 3 juta hingga Rp 5 juta. Sedangkan pemain impor digaji Rp 15 juta ke atas. Selain itu, mereka juga beroleh fasilitas seperti rumah dan mobil.
Di Malaysia? Sama saja. Menurut Mohammad Zakaria, asisten pelatih Perak FC, pemain lokalnya biasa dibayar Rp 16 juta hingga Rp 18 juta. Sedangkan pemain impornya dibayar Rp 32 juta hingga Rp 40 juta per bulannya. Mereka pun masih mendapat fasilitas lainnya seperti rumah dan mobil.
Di klub Moghun Bagan (India), Jose Barretto, penyerang asal Brasil, juga digaji lebih tinggi daripada pemain lokal. Artinya? Di negeri kawasan Asia Tenggara dan Tengah, kualitas pemain lokalnya juga masih di bawah standar. Hal yang berbeda dengan yang terjadi di liga-liga Eropa, tempat pemain lokalnya mampu bersaing dengan pemain impor.
Yang menarik, di negaranya sendiri para pemain asing yang datang ke Asia sebenarnya tidak dinilai hebat. Mereka umumnya berkelana ke sini karena kalah bersaing di negerinya. Simak saja pengakuan yang jujur dari Alvito Ronaldo, penyerang East Bengal asal Brasil. "Seperti Anda tahu, di Brasil persaingan sangatlah ketat. Hanya yang terbaik yang bisa bersaing. Karena itu, saya mencoba mencari peluang di India," katanya.
Lelaki kelahiran Sao Paulo 12 Juli 1978 itu sebelumnya pernah bermain di klub tenar Palmeiras. Tapi, karena kalah bersaing, akhirnya dia berlabuh di East Bengal sejak tahun lalu. Di klub barunya itu dia digaji dua kali lipat dari bintang lokalnya. "Penghasilan saya sekarang ini hampir sama dengan yang saya dapatkan di Brasil, tapi di sini kesempatan berkembang terbuka lebar," katanya. Toh, Alvito masih menyimpan ambisi main di negeri yang lebih maju industri sepak bolanya, seperti di Inggris atau liga Eropa lainnya.
Pengakuan serupa diungkapkan oleh Fabiano Carneiro Guarilha, 31 tahun, pemain Petrokimia Gresik. Petualangan pemain asal Brasil ini lebih jauh lagi. Dia sempat merumput di kampungnya sendiri, lalu bermain di klub divisi satu liga Portugal, mampir sebentar di Kepulauan Haiti, lalu berlabuh di PSS Sleman, sebelum akhirnya mangkal di Gresik. "Sebenarnya lebih enak bermain di Portugal. Pemain dan finansialnya bagus. Tapi saya harus mencari peluang baru. Ini pula alasan saya mencoba ke Indonesia," katanya.
Di klub pabrik pupuk ini, dia mendapat berbagai fasilitas seperti rumah dan mobil. Menurut bisik-bisik, Fabiano di Petro dikontrak Rp 150 juta dan gaji Rp 25 juta sebulan. Nilai yang kurang lebih sama juga diberikan untuk dua pemain Brasil lainnya di Petro, Rivaldo Costa dan Danilo Fernando. Sedangkan pemain lokal Petro yang tertinggi kontraknya paling hanya Rp 110 juta dan gaji Rp 8 juta sebulan. "Yang jelas, saya bisa tenang bermain, istri saya betah tinggal di sini," kata Fabiano.
Persoalan hidup enak dan berlimpah duit memang telah menjadi tipikal pemain sepak bola Brasil. Seperti yang ditulis Alex Bellos dalam bukunya, Futebol: The Brazilian Way of Life, merantau ke segala penjuru dunia menjadi perahu untuk memperbaiki hidup. Hingga ke kutub utara sekalipun. "Orang di Brasil akan lebih hormat kalau kita berhasil mencari duit dengan bermain bola di negeri lain," kata Marcelo Marcolino, orang Brasil yang bermain di Kepulauan Faroe, di kutub utara, seperti yang dituturkan kepada Alex Bellos dalam bukunya itu.
Meski demikian, soal mengejar duit hingga ke kutub utara sejatinya bukan merupakan dominasi orang Brasil. Adebayo Gbadebo, pemain Nigeria yang bermain untuk BEC Tero Sasana Thailand, mengaku dengan jujur dia merantau hingga ke Asia Tenggara semula disebabkan fulus.
Pemain yang pernah bermain untuk PSPS Pekanbaru, Riau, pada awal 2003 itu semula merantau ke Lebanon untuk memburu gaji yang tinggi. Karena tidak betah di sana, Adebayo pun pindah ke Indonesia, dan akhirnya terbang lagi ke Thailand. Di klub barunya ini dia beroleh penghasilan yang lebih kecil dari yang didapat selama bergabung dengan PSPS. Tapi, "Buat saya, uang bukan pertimbangan utama dalam bermain bola," katanya.
Berpindah-pindah klub memang bukan persoalan sulit, hanya cukup dengan koneksi yang baik dengan pemain lain. Itu yang terjadi pada A.J. Balla, pemain Persita yang pernah bermain di Dakar dan Kamerun. Dia hijrah ke Indonesia melalui ajakan Stephen Weah, pemain Liberia yang pernah bermain di liga negeri ini.
Menurut Imam Supardi, mudahnya pemain asing keluar-masuk karena di negeri ini memang belum ada agen resmi. "Pemain asing yang datang kebanyakan dilakukan agen partikelir atau pemain. Semestinya PSSI mengatur soal ini," ujarnya.
Bagaimanapun, Indonesia dan negara-negara di Asia Tenggara lainnya memang menjadi surga bagi pemain asing. Di sini mereka bisa mendapatkan segalanya: fasilitas yang enak, duit, bahkan ada di antaranya yang ketemu jodoh. Dan seperti dialami Danilo Fernando, mereka pun dipuja oleh penonton saat berhasil menceploskan gol yang menentukan.
|