|
Anda sering bingung memahami perilaku kucing kesayangan? Ada kabar baik dari Jepang. Takeda Co., sebuah perusahaan peranti lunak ternama, pekan lalu meluncurkan alat penerjemah bahasa kucing. Peranti yang disebut sebagai ”Meowlingual” itu dibuat untuk menginterpretasikan pelbagai suara kucing. Alat berperekam suara itu akan menampilkan deretan makna pada layar monitornya. ”Kucing benar-benar akan menjadi anggota keluarga,” ujar Hiroko Yamashi, sang konseptor.
Untuk membuat Meowlingual, Takeda Co. melibatkan banyak ahli. Teknisi komputer, komunitas penyayang kucing, dokter hewan, hingga ahli suara binatang bersama-sama menginterpretasikan 200 jenis suara kucing. Hasilnya, mereka mampu membedakan suara kucing yang sedang ketakutan dengan suara kucing yang sedang frustrasi. Bahkan, Meowlingual juga mampu membedakan rintihan kucing yang kesepian dengan rintihan akibat nafsu berahi yang memuncak.
Kini, alat yang dilego dengan harga 8.800 yen (sekitar Rp 600 ribu) itu dapat dijumpai di pelbagai supermarket di Jepang. Takeda memperkirakan akan mampu menjual sekitar 200 ribu unit dalam tempo tiga bulan. Bila tak ada aral, Takeda akan segera meluncurkan Meowlingual dalam versi bahasa Inggris.
Pestisida Ramah Lingkungan
Sosok tanaman perdu berbunga cerah itu biasanya tak dilirik siapa pun. Tapi di tangan Rina Rachmawati, mahasiswi tingkat akhir Jurusan Ilmu Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor (IPB), tanaman tembelekan (Lantana camara) dapat berubah menjadi sesuatu yang luar biasa bermanfaat. Ia menemukan bahwa daun, bunga, dan bahkan buah tembelekan bisa digunakan sebagai pestisida pengontrol hama penggerek umbi kentang (Phtorimaea opercullela).
Caranya pun mudah. Daun tembelekan diambil, dibersihkan, dan dikeringkan. Lalu, dijejalkan pada lubang-lubang umbi kentang yang terinfeksi. Hasilnya, dalam uji laboratorium dan tes lapangan, ekstrak tembelekan ampuh mengurangi serangan hama penggerek. ”Invasi serangan penggerek umbi bisa berkurang setelah pemberian selama periode 1-2 minggu,” ujar Rina.
Keunggulan lain dari pestisida biologis itu adalah mudah dan murah didapat, juga gampang digunakan oleh petani kentang. Selain itu, karena sifatnya yang biologis tadi, cepat diurai oleh alam dan tak berdampak buruk buat lingkungan serta tak menimbulkan gejala resistensi yang biasa ditunjukkan pada pemberian pestisida kimia. Penemuan pestisida tembelekan membawa Rina mewakili Indonesia di forum Eco Innovate 2003, yang digelar pada 12-18 Juli lalu di Sydney, Australia.
Teknik Baru Menghambat Sel Kanker
Reputasi kanker sebagai momok dunia kesehatan mendorong laju pengembangan teknik pendeteksi dan penyembuhannya kian pesat. Universitas Rochester, Amerika Serikat, pekan lalu mengumumkan teknik baru untuk menyerang sel-sel kanker dalam tubuh manusia. Teknik yang disebut sebagai RNA Interference itu mampu menghambat produksi enzim telomerase yang bertanggung jawab atas perkembangan sel-sel liar. Berbeda dengan teknik lain seperti kemoterapi dan penembakan nuklir, teknik baru itu tak membuat penderita merasa kesakitan.
Peter T. Rowley, M.D., ketua tim peneliti dari Universitas Rochester, menjanjikan terapi baru itu akan mengeliminasi pertumbuhan sel kanker hingga 85 persen. Cara kerja RNA Interference adalah dengan membunuh enzim telomerase pada bagian yang terserang kanker. Proses pendeteksian hingga penjinakan telomerase hanya menghabiskan waktu sekitar 75 hari. Dalam presentasi pada pertemuan tahunan Asosiasi Kanker Amerika, Rowley menunjukkan hasil uji laboratorium yang sangat menjanjikan. ”Teknik ini dapat digunakan untuk pelbagai jenis kanker,” kata Rowley.
|