|
APES betul nasib Mukhotib. Kriminal 35 tahun ini mencoba peruntungan di kelas yang lebih tinggi. Semula lelaki asal Wonoayu, Sidoarjo, Jawa Timur, ini dikenal sebagai pencuri sepeda motor. Karena ingin tantangan yang asyik, dia pun mencoba menjadi maling mobil.
Bekalnya pun punya. Tiga bulan Mukhotib ngelmu agar tak tertangkap polisi. Syarat dari gurunya, setiap kali beraksi dia harus melepaskan semua pakaiannya kecuali cawat. Ia berbekal pula rompi bertuliskan huruf Arab gundul sebagai jimat. Menahan nafsu syahwat juga syarat penting.
Namun Mukhotib bukan "penuntut ilmu" yang baik. Pasalnya, beberapa jam sebelum hari-H, dia berpacaran hancur-hancuran dengan kekasihnya. Saking capeknya, dia terlelap dan baru terlonjak begitu telepon selulernya dari dua temannya melengking. "Ada operasi," kata mereka. Mereka menyebut Wringin Anom, Gresik, sebagai sasaran.
Mukhotib pun bersiap. Karena sayangnya, dia tak membangunkan teman kencannya yang masih pulas. Setiba mereka di tujuan, ritual pun dilakukan. Satu per satu pakaian digelontorkan, kecuali rompi dan celana dalam. Mereka pun langsung beraksi.
Tapi sial, belum lagi aksi mereka tuntas benar, tiba-tiba dari dalam rumah terdengar suara teriakan keras. Tetangga sekitar, yang langsung terbangun, berhamburan keluar bersenjatakan benda tajam ataupun tumpul.
Karena panik, kawanan maling itu langsung tancap gas dengan mobil curian. Sayang, mobil itu berubah menjadi seperti kuda liar yang sukar dikendalikan. Akhirnya, mobil itu menabrak pohon di pinggir jalan, yang berdekatan dengan perkebunan tebu. Mereka digebuki, disandera, sebelum diserahkan ke Kepolisian Sektor Jetis.
"Saya memang sial. Inilah akibatnya jika saya melanggar pantangan dari guru saya," ujar Mukhotib. Kalau saja mematuhi gurunya, ia yakin mereka tidak akan tertangkap. Rupanya, selain berzina, ia lupa memakai jimat yang konon ampuh. Ia menunjuk beberapa keberhasilannya memalingi mobil tanpa tertangkap. Ya, karena jimat dan pantangan itu.
Adegan Panas di Ladang Jagung
HARI masih pukul 9 pagi. Tapi, awal Juli lalu, penduduk Kampung Mbelik, Mojokerto, Jawa Timur, sudah dihidangi halwa mata yang nikmat. Di tengah ladang jagung yang lagi menguning, sepasang insan berlainan jenis melepas syahwat tanpa malu-malu. Apa tak gatal?
Ternyata tak satu pun warga setempat mengenal benar mereka, kecuali sebutan masing-masing sebagai Mbak Sri, 39 tahun, dan Mas Ambon, 50-an tahun.
Sejak awal, gerak-gerik keduanya mencurigakan. Mereka dipergoki lagi asyik melenggang di jalan Desa Kupang. Si cewek membawa dua buntelan yang disampirkan di punggungnya. Ia berpupur dan bercat bibir yang menor. Yang cowok berkaus biru. Dandanannya terbilang necis untuk ukuran orang kampung.
Tak ayal, sekitar 20 tukang ojek di sana pun usil bersuit-suit. Marahkah keduanya? Tak dinyana, Mbak Sri justru tersenyum sambil mengacungkan empu jari yang diselipkannya di antara telunjuk dan jari tengahnya. Sedangkan Mas Ambon, dengan telunjuknya, mengisyaratkan agar mereka diam. Lalu keduanya melanjutkan perjalanan kaki ke Mbelik.
Namun gelagat "duo gilo" itu membuat para tukang ojek justru penasaran dan menguntit keduanya. Setelah sempat celingak-celinguk kayak maling jemuran, aduh mak, mereka mendapati Mbak Sri dan Mas Ambon sedang ber-smackdown di kelindapan tanaman jagung yang lagi menguning. Para penyaksi dibuat panas-dingin.
Tukang-tukang ojek itu menggerebeknya? Ternyata tidak. Mereka plus warga setempat lainnya justru membiarkan pasangan itu jadi tontonan asyik. Bahkan belakangan kerumunan itu bertambah. Para pelintaspejalan kaki, sopir mikrolet dan penumpangnya, serta pengemudi trukikut-ikutan menyaksikan blue film gratis. Jalan desa pun macet total.
Bahkan, setelah adegan berdengas-dengus di ladang jagung itu usai, masih ada beberapa pengojek yang mendatangi pasangan itu. Bukan menyumpahserapahi, mereka membiarkan keduanya pergi karena pasangan itu dianggap gila. "Lagi pula kita sudah mendapat tontonan gratis. Daripada beli VCD porno?" kata penarik ojek yang tampak puas menonton adegan hot itu.
Irfan Budiman, Abdi Purmono (Mojokerto)
|