Makan untuk Tubuh dan Jiwa Setelah merasakan tubuh lebih sehat dan hidup lebih menyenangkan, orang bisa mengubah aturan-aturan dalam pola makan sehat menjadi gaya hidup. |
MAKANAN sehat tidak lagi identik dengan rebusan tanpa garam nan hambar. Orang yang menjalani pola makan sehat juga tidak harus repot setiap saat menghitung kalori dan menimbang makanan. Atau, tidak menjadi vegetarian pun, seseorang bisa juga sehat sepanjang hidup. Bahkan bisa jadi daging kambing yang ditakuti oleh mereka yang punya masalah dengan kesehatan justru menjadi daging yang harus dimakan.
Rae Sita Supit, artis kawakan yang sudah berusia 59 tahun, justru mendapat anjuran agar makan daging kambing. Demikian juga Sarwono Kusumaatmadja, mantan Menteri Lingkungan Hidup, berbahagia karena justru mendapat lampu hijau untuk menyantap daging "panas" ini.
Dua orang berusia di kisaran 60 tahun justru diberi anjuran agar makan daging kambing? Kok, aturannya seperti terbolak-balik? Jangan keburu berkerut kening. Begini ceritanya. Rae dan Sarwono adalah contoh penganut pola makan yang disesuaikan dengan golongan darah mereka, yaitu AB. Menurut ilmunya, yang ditulis Peter J. D'Adamo, setiap golongan darah punya daftar makanan yang boleh dan tidak, yang mungkin tidak berlaku untuk tipe darah lainnya.
Kedengarannya rumit. Tapi pola makan sesuai dengan golongan darah sebenarnya merupakan perkembangan dari cara makan sehat. Dan jika seseorang sudah menjalankannya, pola makan itu tidak terasa menyiksa, karena jenis makanannya banyak. Nah, sejalan dengan makin besarnya perhatian orang terhadap makanan sehat, metode-metode pola makan sehat yang ada dapat menarik hati orang tertentu seperti Rae Sita dan Sarwono.
Persoalannya sebenarnya sederhana. "Makanlah cukup jika lapar dan berilah tubuh makanan sehat," Andang Gunawan, ahli terapi gizi yang menulis buku tentang padu padan makanan (food combining), memberikan nasihat. "Kalau mobil diisi bensin tidak sesuai dengan mesinnya, mobilnya tetap bisa jalan, tapi pembakaran tidak sempurna," demikian Sarwono mengumpamakan. "Intinya, listen to your body," kata Rae Sita, yang yakin bahwa tubuh sakit itu karena pola makan yang salah.
Sarwono, Rae Sita, dan Andang sudah merasakan benar manfaat pola makan sehat. Mereka sama-sama punya alasan kuat untuk memulai dan kemudian "beriman" pada pola makan sehat.
Andang mengaku punya trauma dengan rumah sakit, sampai bau rumah sakit pun dia merasa antipati. Mengapa? Di masa lalu, Andang terlalu sering harus berurusan dengan rumah sakit karena sanak-saudaranya harus dirawat di tempat berbau karbol dan obat-obatan itu.
Setelah Maxi Gunawan, suaminya, divonis sakit lever kronis pada 1994, Andang makin terpacu untuk mencari alternatif di luar obat-obatan dari dokter. Pada suatu hari, Andang menawarkan kepada suaminya, "Bagaimana jika saya urus makananmu, tapi saya singkirkan semua obat itu?"
"Misi" dijalankan dan Andang mulai berkelana mempelajari jenis-jenis makanan sehat, bukan menakar dan membatasi jumlah sana-sini. Dia makin keasyikan, memasak banyak jenis makanan yang segar, terutama sayur-sayuran. Dia juga rajin mengantar makan siang buatan rumah ke kantor Maxi dengan wadah yang variatif agar tidak membosankan.
Belum dua bulan, misi itu menampakkan hasil. Maxi menanyakan mengapa baju-bajunya terasa longgar. Ternyata berat badannya sudah turun beberapa kilogram. "Mukanya juga jadi segar, pipinya kemerahan seperti anak kecil," kata Andang bangga. Setelah itu, Andang makin termotivasi mempelajari kombinasi makanan sehat yang baik bagi tubuh. Dia bersekolah di Queensland Institute of Natural Science pada 1996. "Sekarang food combining sudah menjadi bagian hidup saya," katanya.
Sarwono punya cerita sendiri. Ketika masuk usia 50-an tahun, penasihat Dewan Maritim Indonesia ini mulai kerap masuk angin dan pegal-pegal. Padahal dia suka meledek teman-temannya yang sering kena sakit seperti itu. Semula dia mengira terlalu banyak berolahraga. Tapi kemudian dia mencari-cari buku tentang makanan dan akhirnya ketemu jodohnya, yaitu buku Eat Right 4 Your Type, Cook Right 4 Your Type tulisan D'Adamo.
Lalu apakah mereka merasa dibatasi kebebasan makannya? Tidak juga.
"Saya bukannya tidak makan junk food. Sekali-sekali masih makan," kata Andang. Jika makan di restoran pun, Andang tidak terpatok harus makan di restoran tertentu. Menurut dia, tak ada masalah asalkan di tempat itu dia bisa memesan makanan yang sesuai dengan padu padan makanan sehat. "Jika pesan steak, misalnya, minta banyak sayurannya dan tanpa kentang."
Rae Sita mengaku masih sering janjian dengan keluarganya untuk makan sup kaki sapi di Menteng. Dia juga sengaja sekali-sekali melanggar aturan dengan menyantap makanan yang tidak dianjurkan untuk golongan darahnya. "Saya menyebutnya once in the blue moon," katanya, "agar bakteri di dalam tubuh tidak manja."
Demikian juga Sarwono, yang mengaku tidak harus merasa terlalu berdosa jika sesekali menabrak pagar. Menurut laki-laki yang pernah menderita kolesterol dan darah tinggi ini, jika diundang orang makan di rumah mereka dengan menu rendang, dia makan saja apa yang ada. Bagaimana jika keterusan? "Ndak akan karena tubuh kita bisa memberikan sinyal," katanya.
Angka penganut pola makan sehat memang sulit didapatkan. Tapi, menurut Andang, makin banyak orang yang datang kepadanya untuk berkonsultasi. Motivasi Andang mendirikan majalah Nirmala salah satunya juga untuk menjawab kebutuhan publik akan informasi hidup sehat. "Selain itu, saya sendiri merasa bahwa pola makan sehat memang harus disebarluaskan," kata Andang.
Tanda lain bahwa cara makan sehat makin diminati adalah yang terjadi pada Rae Sita. Karena anggota keluarga Supit ini tampak sehat dan awet muda, orang-orang pun bertanya. Jadi, meskipun Rae Sita tidak memiliki gelar ahli gizi, teman-temannya minta saran tentang pola makan yang sesuai dengan golongan darah yang dianut.
Hukum pasar juga bekerja. Ada permintaan, ada penawaran. Yummy Bean adalah contoh usaha yang merespons tumbuhnya minat makan sehat. Gerai yang didominasi warna kuning dengan maskot Yummy Boy itu—"kacang kedelai berbentuk anak laki-laki"—menawarkan makanan seperti burger, hot dog, dan nugget, tapi dengan bahan dasar kacang kedelai.
Tjokro Sudarman, 39 tahun, pemilik gerai itu, sengaja menampilkan toko-tokonya seperti restoran cepat saji yang menjamur di Jakarta. Hal itu dilakukan untuk menghindari citra bahwa tempat makan sehat harus identik dengan restoran vegetarian atau tempat yang mahal. Menurut Sudarman, yang menjadi vegetarian sejak 10 tahun silam, Yummy Bean—sejak berdiri pada pertengahan 2001—sudah berkembang menjadi 10 gerai.
Peluang bisnis makanan sehat juga ditangkap oleh pengusaha di luar Jakarta. Flora Wati, 30 tahun, pemilik rumah makan vegetarian Yoesin di Semarang, mengaku masa depan bisnisnya cerah. Sebagai tempat makan dengan hidangan nondaging pertama di Semarang, Yoesin mampu menarik minat publik setempat. Jika datang hari suci agama tertentu yang mengharuskan pemeluknya tidak mengonsumsi daging, seperti pada tanggal 1-15 tahun baru Imlek, atau 40 hari pra-Paskah, Yoesin bahkan dibanjiri pengunjung, sampai antre. "Pengunjung di sini bukan hanya orang berduit, tapi juga dari kalangan biasa, bahkan remaja," kata Flora, yang mendirikan Yoesin dua tahun silam.
Di Bandung ada Ahimsa, rumah makan vegetarian pertama di kota itu. Menurut manajernya, Taufik Hidayat Syah, restoran yang berdiri sejak 1999 itu sudah beromzet rata-rata Rp 20 juta per bulan. Dengan harga makanan yang bersaing dengan restoran-restoran cepat saji, pelanggan Ahimsa pun terus meningkat.
Jika makanan sehat bisa terasa lezat dan jika menganut pola makan sehat semudah itu, mengapa tidak ikut serta?
Bina Bektiati, Purwani D. Prabandari, Sri Wahyuni (TNR), Bobby Gunawan (Bandung), Sohirin (Semarang)
|