Kerinduan Setengah Hati Kisah seorang gadis kebanyakan yang bertemu dengan ayahnya, seorang aristokrat dan calon Perdana Menteri Inggris. |
What A Girl Wants
Pemain : Amanda Bynes, Colin Firth, Kelly Preston, Jonathan Pryce, Anna Chancellor
Sutradara : Dennie Gordon
Skenario : William Douglas
Produksi : Warner Bros
Perbedaan latar belakang sosial ternyata masih merupakan persoalan dalam masyarakat modern. Wajah imut Daphne Reynolds (dimainkan Amanda Bynes) bersemi cerah dan penuh takjub ketika akhirnya menemukan puri besar tempat tinggal ayahnya di bilangan elite London, Inggris. Gadis 17 tahun itu nekat melompati pagar tinggi melanjutkan pencarian yang telah menyeberangi samudra dari New York, demi menuntaskan kerinduan yang berakar tentang sang ayah, yang belasan tahun didongengkan ibunya, Libby (Kelly Preston).
Pria itu, Lord Henry Dashwood (Colin Firth), tercatat sebagai keturunan keluarga kerajaan Inggris. Di istana besar dengan detail ornamen aristokrat itu, Daphne yang energetik sempat ingin pulang karena diragukan ayahnya. Belum lagi Glynnis (Anna Chancelor) dan Clarissa Payne (Christina Cole), saudara dan tunangannya yang sok elite tetapi sebenarnya berambisi menguasai Henry. Untunglah, bukti surat, foto-foto, dan ketulusan ibu Henry akhirnya menyatukan bapak-anak tersebut.
Begitukah Daphne meraih mimpinya? Justru setelah 20 menit pertama, gadis yang suka musik rock dan berbusana kasual itu harus tersandung-sandung masuk lingkaran keluarga terhormat itu. Polahnya yang agak ugal-ugalan juga melorotkan reputasi Henry yang tengah maju berkampanye untuk pemilihan perdana menteri.
Tetapi What A Girl Wants tampak terlalu setia sebagai drama (penuh) komedi. Alur problema sosok ayah kedodoran saat memasuki pertengahan. Pasang-surut emosi sang ”Cinderella” tertimbun oleh gambar warna-warni baju, gaun, dan pernik-pernik aksesori remaja putri yang baru tumbuh. Sutradara wanita Dennie Gordon yang veteran sutradara TV hanya menampilkan versi lain film sebelumnya, Joe Dirt, yang bertema sama. Dia seolah ingin mengembangkan, tetapi ternyata tidak cukup berhasil menciptakan orisinalitasnya sendiri. Toh film ini cukup renyah dilihat sebagai hiburan pelepas penat.
Dwi Arjanto
|