Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 22/XXXII/28 Juli - 03 Agustus 2003
   
Film

Kerinduan Setengah Hati

Kisah seorang gadis kebanyakan yang bertemu dengan ayahnya, seorang aristokrat dan calon Perdana Menteri Inggris.

What A Girl Wants
Pemain : Amanda Bynes, Colin Firth, Kelly Preston, Jonathan Pryce, Anna Chancellor
Sutradara : Dennie Gordon
Skenario : William Douglas
Produksi : Warner Bros

Perbedaan latar belakang sosial ternyata masih merupakan persoalan dalam masyarakat modern. Wajah imut Daphne Reynolds (dimainkan Amanda Bynes) bersemi cerah dan penuh takjub ketika akhirnya menemukan puri besar tempat tinggal ayahnya di bilangan elite London, Inggris. Gadis 17 tahun itu nekat melompati pagar tinggi melanjutkan pencarian yang telah menyeberangi samudra dari New York, demi menuntaskan kerinduan yang berakar tentang sang ayah, yang belasan tahun didongengkan ibunya, Libby (Kelly Preston).

Pria itu, Lord Henry Dashwood (Colin Firth), tercatat sebagai keturunan keluarga kerajaan Inggris. Di istana besar dengan detail ornamen aristokrat itu, Daphne yang energetik sempat ingin pulang karena diragukan ayahnya. Belum lagi Glynnis (Anna Chancelor) dan Clarissa Payne (Christina Cole), saudara dan tunangannya yang sok elite tetapi sebenarnya berambisi menguasai Henry. Untunglah, bukti surat, foto-foto, dan ketulusan ibu Henry akhirnya menyatukan bapak-anak tersebut.

Begitukah Daphne meraih mimpinya? Justru setelah 20 menit pertama, gadis yang suka musik rock dan berbusana kasual itu harus tersandung-sandung masuk lingkaran keluarga terhormat itu. Polahnya yang agak ugal-ugalan juga melorotkan reputasi Henry yang tengah maju berkampanye untuk pemilihan perdana menteri.

Tetapi What A Girl Wants tampak terlalu setia sebagai drama (penuh) komedi. Alur problema sosok ayah kedodoran saat memasuki pertengahan. Pasang-surut emosi sang ”Cinderella” tertimbun oleh gambar warna-warni baju, gaun, dan pernik-pernik aksesori remaja putri yang baru tumbuh. Sutradara wanita Dennie Gordon yang veteran sutradara TV hanya menampilkan versi lain film sebelumnya, Joe Dirt, yang bertema sama. Dia seolah ingin mengembangkan, tetapi ternyata tidak cukup berhasil menciptakan orisinalitasnya sendiri. Toh film ini cukup renyah dilihat sebagai hiburan pelepas penat.

Dwi Arjanto


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data