Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 21/XXXII/21 - 27 Juli 2003
   
Olahraga

Liukan Licin Sang Makelar

Pini Zahavi adalah orang di belakang layar sukses pembelian Chelsea. Kini dia juga pencipta gonjang-ganjing.

KINI hanya langit yang menjadi batas ambisi Chelsea. Setelah dibeli Roman Abramovich—pengusaha minyak superkaya asal Rusia—dua pekan silam, polah klub berkostum biru-biru ini tak berbeda dengan orang kaya baru. Hampir semua pemain top masuk daftar buruan. Pemilik baru itu memang kepingin The Blues, julukan klub ini, cepat-cepat sejajar dengan klub elite lainnya—seperti Real Madrid dan Manchester United. Pokoknya, jadi raja, ya, di Inggris Raya, ya, di Eropa Raya.

Dan ambisi itu bukan pepesan kosong. Abramovich memiliki segalanya. Duitnya ngocor terus seperti sumber minyak miliknya. Uang 150 juta poundsterling untuk membeli Chelsea hanyalah secuil dari bongkah besar miliknya. Dia masih punya banyak uang. Bahkan, untuk mendandani klub kosmopolitan itu, ia telah menyiapkan US$ 350 juta.

Jadi, tidak ada yang mustahil bagi Abramovich. Pemain sekelas Alessandro Nesta, Christian Vieri, atau tiga pilar penting yang sekarang mangkal di Arsenal—Thierry Henry, Patrick Vieira, dan Sol Campbell—bisa pindah ke Stamford Bridge, markas Chelsea. "Kalau dia sudah punya mau, apa saja dia lakukan. Dia ambisius," kata seorang pengusaha lain asal Rusia tentang bandar minyak berusia 36 tahun itu.

Sesungguhnya itu bukan peringatan untuk orang-orang yang bergulat di Liga Inggris saja. Itu sudah ketahuan. Ternyata Abramovich ingin menggusur Claudio Ranieri. Padahal manajer asal Italia ini berhasil mengantar Chelsea lolos ke Liga Champions. Diam-diam Abramovich bertemu dengan pelatih tim nasional Inggris, Sven-Goran Eriksson.

Kabar dari meja makan tempat mereka berjamu, Abramovich membujuk Eriksson agar mau memegang Chelsea. Gaji yang ditawarkan 50 persen lebih besar ketimbang yang diterimanya dari Football Association, PSSI-nya Inggris, saat ini—2 juta poundsterling per tahun. Tapi Eriksson membantah dirinya mau hijrah ke Chelsea. Pertemuan itu, menurut dia, cuma untuk mengobrol. "Ini pertemuan biasa saja, kok," ujarnya.

Toh, itu cuma silat lidah. Yang jelas, acara makan malam tadi membuat Claudio Ranieri, yang paling terancam posisinya, sakit hati. Dengan berang dia mengancam Abramovich agar orang ini tidak ikut campur soal teknis, termasuk hal copot-mencopot pemain, apalagi pelatih.

Sejatinya yang disemprot bukan si bos besar, melainkan seseorang yang belakangan ini lengket betul dengan orang Rusia itu. Seperti bayangan, pria 59 tahun ini menguntit ke mana pun Abramovich pergi. Dialah Pini Zahavi, agen pemain sepak bola asal Israel yang membawa pengusaha Rusia itu menguasai Chelsea. Dalam soal mendekati pemain, dia pun ikut berperan. "Posisi Ranieri aman. Dia tidak akan tergusur," katanya. Ini jawaban yang mestinya datang dari petinggi klub.

Tak bisa dimungkiri, peran si Yahudi sangat besar. Dia juga merancang kepindahan Juan Sebastian Veron ke Chelsea jika "Setan Merah" berhasil memiliki Ronaldinho, pemain Paris Saint Germain, yang lama diincar. Itu tidak mustahil. Sir Alex Ferguson dan dia sudah lama saling cincai. Dia juga yang membawa Veron dari Lazio ke Manchester. Karya lainnya, dia berhasil menggotong Rio Ferdinand dari Leeds United.

Pini Zahavi selicin belut. Kasak-kusuknya membawa orang kaya Rusia ke Chelsea hampir tak pernah terdengar. Saat Ken Bates, pemilik saham mayoritas, mengumumkan kepada publik bahwa dia telah melepas The Blues kepada si Rusia, sontak orang pun kaget plus curiga, dari mana anak muda itu bisa kaya raya. Tak kurang dari Tony Banks, bekas menteri olahraga negeri itu, ikut mencurigainya.

Kenapa Chelsea yang terbeli? Itu tak lepas dari kelihaian Zahavi dalam mempengaruhi anak muda kaya raya tersebut. Awalnya, Abramovich ingin mengambil Arsenal atau Manchester, tapi urung. Kalau Arsenal yang dibeli, besar sekali investasi yang harus dikeluarkannya, di antaranya harus membangun stadion yang lebih besar. Jadi, sip, Chelsealah yang menjadi pilihan. Apalagi klub itu lagi tercekik utang.

Pini Zahavi memang tak setenar Tony Stephen, agen David Beckham, Michael Owen, dan Alan Shearer. Tapi justru karena itu, tangannya bisa leluasa gentayangan. Selain itu, dia punya jaring koneksi hampir tak berbatas. Untuk proses jual pemain, dialah yang berada di balik hengkangnya David Beckham ke Real Madrid. Manchester sengaja menyewa si Yahudi untuk memuluskan langkah penjualannya ke berbagai klub yang ada. Ia dijanjikan kecipratan duit komisi 1,5 juta poundsterling kalau berhasil menjual Beckham dengan harga tinggi.

Hal itu bisa dilakukan karena Juan Laporta, kini Presiden Barcelona, merupakan kawan dekatnya pula. Bak pemain catur, dia memainkan agen-agen pemainnya untuk beraksi. Ini seperti yang dilakukannya saat melepas David Beckham dari Manchester. Koleganya dengan cerdik memainkan peran di Juventus, Bayern Muenchen, Inter Milan, dan AC Milan. Hasilnya, pasar pun bergoyang. Publik pun kelojotan.

Meskipun berpaspor Israel, Zahavi lebih banyak beredar di London. Tinggal di sebuah apartemen membuatnya lebih leluasa kasak-kusuk mencari peluang bisnis di Inggris. Menurut bisik-bisik di antara agen sendiri, dia orang di belakang layar perputaran pemain di Liga Inggris dan juga liga Eropa lainnya. Meski ia lebih suka bermain di belakang layar, duit yang didapat lumayan. Dari setiap transaksi, dia beroleh komisi 10 persen.

Agen pemain kerap menjadi masalah. Tom Bower, penulis buku Broken Dreams, memaparkan aksi para agen yang sungguh kelewatan. Dari pemainlah mereka mendapat banyak duit meski mereka sama sekali tak bertemu. "Mengirim faks biodata pemain saja mereka sudah mendapatkan jutaan poundsterling," tulis Bower.

Perjalanan hidup Zahavi dimulai di Nes Ziona, kota industri beberapa mil dari Tel Aviv. Ayahnya pemilik toko material. Meskipun tidak kaya, keluarganya cukup bahagia dengan gaya hidupnya. Masa lalunya itu seolah anak tangga untuk menapak ke masa depan. Di saat kanak-kanak, dia berteman dengan Jacob Shachar, kini Presiden Maccabi Tel Aviv.

Shachar menyebut Zahavi sebagai orang yang bisa menjaga janji. "Tidak saja kepada saya, tapi juga kepada semua teman yang lain," katanya. Namun, yang terpenting, ujarnya, Zahavi paling bisa membangun hubungan baik dan dia juga menempatkan kesetiaan di atas segalanya.

Zahavi, yang sebelumnya wartawan olahraga, memulai kariernya sebagai makelar saat dia membantu beberapa pemain Israel yang bermain di Inggris pada pengujung 1970-an. Deal pertamanya dilakukan saat dia membantu proses kepindahan Avi Cohen dari Maccabi Tel Aviv ke Liverpool pada 1979. Kala itu, nilai transaksinya cuma 200 ribu poundsterling. Kemudian dia pun mulai memutar pemain. Barry Silkman, kala itu bermain untuk Manchester City, dioper ke Maccabi Haifa.

Tapi bukan tanpa rintangan. Zahavi nyaris tersandung kasus. Pada 1995, bersama Graeme Souness, kini Manajer Blackburn Rovers, dia dituduh melakukan pembayaran gelap sebesar 30 ribu poundsterling saat mereka mentransfer pemain bernama Cohen ke klub Ibrox, pada 1987. Tuduhan itu terungkap dalam sebuah tabloid setelah bekas istri Souness, Danielle, menyebut bekas suaminya sebagai tikus kotor. Namun tudingan itu tak terbukti.

Lalu bagaimana dia bisa bertemu dengan Roman Abramovich? Lagi-lagi ini merupakan buah dari pergaulannya di masa lalu dengan Eli Azur, sahabat dan kolega bisnisnya. Dari Azur, Zahavi memperoleh akses ke Rusia. Azur memang dekat dengan orang Rusia di Tel Aviv. Dia menerbitkan koran berbahasa Rusia untuk jutaan konsumen imigran asal Rusia yang membeludak ke Israel saat ambruknya Uni Soviet.

Nah, dari situ pula Azur mulai berkenalan dengan orang kaya negeri itu. Kongsi mereka berlanjut. Azur dan Zahavi juga menjalankan perusahaan yang membeli hak siar televisi untuk disiarkan di TV Israel, termasuk siaran langsung Liga Primer Inggris.

Dorfan Ronen, wartawan Ha'aretz, harian terkemuka di Israel, menyebut tiga orang ini pemain utama, tidak saja dalam sepak bola Israel, tapi juga dalam bisnis sepak bola Eropa. "Azur dan Scachar pelaku bisnis. Zahavi? Dialah pembuka pintu," katanya. Modal yang dia punya juga cukup. Zahavi memiliki hubungan baik dengan pers di negeri itu. "Sebagai bekas jurnalis, dia tahu bagaimana kerja pers. Dia orang yang berpengaruh di Israel."

Sejatinya dia tak cuma punya pengaruh. Seperti aksi pemain profesional di lapak dunia, dia pintar meliuk dan selicin belut.

Irfan Budiman


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data