Setia Sampai ke Giritama Sanjoto Sastromihardjo wafat menjelang usia 80 tahun. Pemimpin redaksi yang tetap reporter. |
SEJAK tiga tahun lalu ia merasakan banyak yang tidak beres dalam dirinya. "Kesehatan saya ibarat ekonomi Indonesia," tuturnya ketika itu kepada sebuah koran nasional. "Semua data makronya oke, tetapi ketika diteliti lebih dalam ternyata banyak tidak bener-nya." Tak kebetulan pula ia mengamsalkan dirinya dengan dunia ekonomi. Sebab, selama hampir 40 tahun ia dikenal sebagai penulis ekonomi yang sungguh-sungguh dan bertanggung jawab.
"Tulisannya good," kata Mohammad Sadli, guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, kepada TEMPO, "Dia orang pintar walaupun tidak punya diploma perguruan tinggi." Sebagai penulis tetap di Business News, Sadli mengenal pemimpin redaksi penerbitan berkala tersebut, Sanjoto Sastromihardjo, selama hampir sepuluh tahun. Sadli, seperti banyak tokoh yang mengenal Sanjoto, melukiskannya sebagai "orang yang pendiam, sering tidak dihitung karena sangat low profile".
Dini hari Senin, 14 Juli lalu, kurang 39 hari menggenapi ulang tahunnya ke-80, Sanjoto menutup mata setelah setahun lebih terserang stroke. Wartawan empat zaman itu meninggalkan seorang istri, Supraptinah "Peggy" Asparin, tiga anak, dan tujuh cucu. "Dia tak meninggalkan pesan, karena sejak tiga-empat bulan lalu sudah tak bisa berkomunikasi," kata Supraptinah, 78 tahun, kepada Istiqomatul Hayati dari Tempo News Room.
Anak bungsu dari 12 bersaudara kelahiran Ponorogo, Jawa Timur, ini memasuki jurnalistik pada 1946 di majalah Het Inzicht, yang diterbitkan Kementerian Penerangan RI. Ketika pemimpin majalah tersebut, Soedjatmoko, bersama Rosihan Anwar mendirikan majalah Siasat, Sanjoto bergabung dan malah kemudian menjadi pemimpin redaksi. Dari minatnya yang besar terhadap masalah internasional, Sanjoto kemudian menaruh perhatian khusus pada bidang ekonomi.
Ia tampil tidak saja sebagai penulis yang jernih, tapi juga tajam. "Jauh-jauh hari ia sudah menangkap esensi dan hakikat reformasi," kata Dr. Sjahrir, penulis kata pengantar buku Reformasi dalam Perspektif Sanjoto, yang diterbitkan Yayasan Obor Indonesia dan Yayasan Padi dan Kapas pada 1999. "Kami punya visi yang sama, terutama dalam kepekaan pada keadilan," ekonom yang mengaku pernah berguru menulis kepada Sanjoto itu menambahkan.
"Saya sangat mengagumi beliau," kata Ketua Dewan Pers, Atmakusumah Astraatmaja, yang dulu sering mengirimkan tulisannya ke harian Pedoman, tempat Sanjoto duduk sebagai wakil pemimpin redaksi. Setelah Pedoman—bersama Siasat—dibredel pemerintah Sukarno pada 1960, Sanjoto memutuskan kembali "bersekolah" di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI). Di zaman Jepang ia pernah duduk di Ika Dai Gaku (Sekolah Tinggi Kedokteran), meski tak tamat.
Setelah pembredelan itu pula Sanjoto menjadi kontributor banyak penerbitan asing, antara lain Far Eastern Economic Review, Business International, Financial Times, Het Financieele Dagblad, dan Asean Forecast. Pada 1964, wartawan yang menguasai empat bahasa asing—Belanda, Inggris, Prancis, Jerman—ini bergabung dengan Business News. Terbit sejak 1956, Business News beredar tiga kali sepekan dalam bahasa Indonesia dan dua kali sepekan dalam bahasa Inggris.
Atmakusumah mengenang Sanjoto sebagai jurnalis yang setia pada profesi. "Dia satu-satunya pemimpin redaksi yang sampai menjelang sakit tetap hadir dalam konferensi pers sebagai reporter," katanya. Kehadirannya tidak percuma. Sebab, para reporter lain, yang rata-rata jauh di bawah usianya, selalu berharap Sanjoto melontarkan pertanyaan yang bisa memancing jawaban menarik.
Senin 14 Juli itu juga, jenazah wartawan senior ini dimakamkan di Pemakaman Giritama, Tonjong, Sawangan, Kabupaten Bogor. "Sejak lima atau enam tahun lalu Bapak membeli kapling di sana," tutur Supraptinah Asparin tentang pemakaman yang dikelola sebuah yayasan itu. "Bapak membeli dua kapling, untuk beliau dan saya."
Amarzan Loebis
|