Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 21/XXXII/21 - 27 Juli 2003
   
Hiburan

Legenda itu Bernama Chrisye

Dalam konser Dekade di Plenary Hall, Convention Center, Jakarta, Chrisye mengukuhkan bahwa dia adalah penyanyi legendaris yang masih bertahan menembus zaman.

SANG Dewi Bulan turun ke bumi. Berlayar di atas perahu bulan sabit sembari menjuntaikan kakinya yang putih jenjang, dia menyanyikan lagu Anggrek Bulan bersama seorang lelaki tinggi yang santun. Penonton menjerit histeris.

Tentu mereka histeris karena kaki panjang mulus yang pemiliknya bernama Sophia Latjuba. Tapi mereka lebih jejingkrakan karena satu hal: penyanyi legendaris bernama Chrisye.

Intan permata bernama Sophia Latjuba atau penyanyi terkemuka di masanya, Fariz Rustam Munaf, atau penyanyi dangdut A. Rafiq dan penyanyi masa kini Ari Lasso ikut mengawal Chrisye berjalan-jalan dari masa ke masa, mulai tahun 1940-an hingga tahun 2000-an. Pertunjukan yang memakan biaya Rp 3 miliar ini diawali dengan sebuah layar besar yang kemudian terkuak menampilkan Chrisye dengan lagu Semusim. Hanya perlu dua detik untuk lagu yang diiringi Erwin Gutawa Orkestra ini, maka gedung berkapasitas 3.600 kursi itu gemuruh oleh tepukan penonton fanatik yang sudah menanti pertunjukan yang molor 30 menit itu. Disambung dengan medley beberapa lagu dari beberapa album Chrisye terdahulu yang pernah meledak, ada satu hal yang belum berubah dari pertunjukan konser Chrisye. Tampaknya, tak peduli apakah aransemen mau jungkir balik atau bahkan para penari berjingkrak di atas meja dengan atau tanpa pusar, penonton itu adalah penonton Chrisye yang setia. Mereka yang memenuhi sekitar 85 persen kursi itu adalah penonton Chrisye yang menembus segala batas usia, dari remaja ABG (anak baru gede) hingga mereka yang sudah mulai "matang" alias mereka yang sudah mulai berkerut, beruban, dan berperut buncit.

Karena itu, tak penting lagi lagu apa pun yang dikumandangkan Chrisye. Tak mengapa apakah dia bernyanyi Keroncong Pasar Gambir dan Stambul Anak Jampang karya Ismail Marzuki yang lebih mirip sebuah lagu pop masa kini (yang datar karena "saya memang enggak bisa cengkok keroncong," katanya kepada TEMPO) atau lagu dangdut Pengalaman Pertama (minus cengkok dangdut) dengan aransemen yang setengah dangdut, setengah populer…, ya sah-sah saja, karena itu tadi: penonton itu datang dengan tujuan menonton sang idola yang legendaris, sembari ikut menyanyikan lagu-lagunya yang pernah populer selama empat dekade—sepanjang perjalanan karier sang bintang. Pilih lagu apa saja dari album Badai Pasti Berlalu, Sabda Alam, Puspa Indah Taman Hati, dan Kala Cinta Menggoda. Pasti semua penonton yang ditunjuk secara acak akan mampu bernyanyi sembari bergoyang. Dan itulah yang terjadi sepanjang tiga jam yang penuh daya sihir.

Kenapa Chrisye, selain Iwan Fals, menjadi penyanyi solo yang bertahan selama empat dasawarsa? Artinya, selain menyanyi, dan bermain musik, dia mencipta lagu dan lagu yang dinyanyikannya menembus segala batas usia dan periode. Menurut pengamat musik Denny M.R., selain Chrisye menguasai berbagai alat musik, karakter vokal Chrisye memiliki ciri khas dibandingkan dengan teman-teman seangkatannya. "Karakter vokalnya empuk dan merdu dengan musik easy listening, sehingga bisa diterima segala golongan," katanya. Dua langkah Chrisye yang menurut Denny sukses membuat terobosan pada masa lalu adalah penggunaan konsep akustik dan orkestra. Orkestra digunakan di album Badai Pasti Berlalu versi baru, sedangkan akustik diterapkan pada beberapa album yang lahir di awal 1990-an.

Kali ini Erwin Gutawa, otak dari semua konser Chrisye, ingin memberikan sebuah "hadiah" yang berbeda. Jadi, penonton—dari mereka yang di kelas festival dengan harga tiket Rp 75 ribu hingga mereka yang duduk di kelas VVIP dengan harga tiket Rp 495 ribu—kali ini mendapatkan beberapa "bonus".

Pertama, karena ini adalah semacam "perluasan" dari album Dekade Chrisye tahun ini, penonton sudah mafhum, Chrisye dan konduktor-produser Erwin Gutawa tentu akan mengajak penonton membuka album lama musik pop Indonesia mulai tahun 1940-an. Jadi, Chrisye bukan hanya membuka atau mengulang-ulang sukses dua konser sebelumnya (Sendiri pada 1994 dan Badai Pasti Berlalu pada tahun 2000). Penonton juga diajak menikmati apa yang pernah dilalui oleh musik pop Indonesia. Tidak semua pilihan mengena di hati, memang. Tapi, seperti diakui Erwin Gutawa, ini memang pilihan acak lagu-lagu yang pernah menjadi hit pada setiap dekade dan yang kira-kira cocok dengan warna suara Chrisye. Bonus-bonus itu berupa… ya itu tadi, turunnya sang Dewi Sophia Latjuba dari "bulan" sembari memperlihatkan pahanya yang mengkilat itu sambil menyanyikan Anggrek Bulan ciptaan A. Riyanto.

Bonus lain adalah menyaksikan duet Chrisye dengan Fariz Rustam Munaf, yang pernah menjadi pujaan wanita pada masanya, ketika lagu Sakura dalam Pelukan menjadi hit pada 1980-an—sebuah lagu yang pernah melejit meski liriknya tak jelas juntrungannya.

Inilah bonus berikutnya yang paling gurih bagi penonton: Chrisye bergoyang! Apa istimewanya, sih? Lelaki dengan tekstur suara yang bening dan unik itu memang dikenal diam, santun, dan sukar bergerak di atas panggung. Kalaupun dia sempat "terpaksa" bergoyang, itu hanya sesekali ketika berduet dengan Arman "Gigi" Maulana tiga tahun silam dalam konser Badai Pasti Berlalu. Kali ini Erwin Gutawa dengan segenap krunya berhasil menantang Chrisye untuk tampil beda. "Siapa yang takut tampil funky?" kata Chrisye, ayah dari empat anak yang sudah tumbuh remaja, sembari terkekeh menjawab TEMPO. Maka tak aneh, dari soal langkah hingga goyang "tu-wa-ga-pat" sampai dialog Chrisye dengan penonton, semuanya sudah diatur oleh skenario yang ketat di bawah tangan ajaib pengarah pertunjukan Inet Leimena (baca Menggeber Chrisye yang 'Funky').

Hasilnya, Chrisye malam itu tidak hanya tampil sebagai penyanyi segala zaman, tapi juga sebagai seorang entertainer yang hangat. "Saya sering disebut penyanyi tua oleh mereka," kata Chrisye sembari menunjuk "anak muda" di belakangnya yang dengan takzim memegang alat musik di bawah pimpinan Erwin Gutawa.

Funky, tapi itu tak berarti Chrisye mengenakan anting sebelah kuping atau jins bolong-bolong. Penampilan dia tetap santun dibalut kostum jas hitam ciptaan Samuel Wattimena; bahasanya pun tetap rapi dan bersih. Yang membuat Chrisye berbeda dengan penyanyi solo lain yang telah melakukan konser adalah dia telah menghasilkan 44 album dan 22 di antaranya adalah album solo yang hampir selalu melahirkan hit. Menurut Denny M.R., satu di antara album itu adalah Badai Pasti Berlalu, yang hingga kini masih laku keras hingga mencapai dua juta keping.

Konser selama tiga jam yang diisi oleh 27 lagu itu ditutup dengan lagu Serasa ciptaan Eros Djarot dan Chrisye. Ketika lampu menyala, sungguh ajaib pemandangan itu: begitu banyak ayah, ibu, dan anak-anak remaja yang datang sebagai keluarga dan sama-sama menikmati suguhan ini. Adakah satu penyanyi lain di Indonesia—selain Iwan Fals—yang bisa sama-sama digemari semua generasi dan bertahan seperti Chrisye?

Leila S. Chudori, Dewi Rina Cahyani


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data