Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 21/XXXII/21 - 27 Juli 2003
   
Film

Mimpi Sepotong Kayu Pinus

Roberto Benigni menawarkan karya terbarunya, Pinocchio. Lebih revolusioner dari buatan Disney.

Pinocchio
Pemain : Roberto Benigni, Nicoletta Braschi, Mino Bellei, Carlo Giuffre
Sutradara : Roberto Benigni
Produksi : Miramax

PINOKIO bukan boneka kayu bermata biru berpipi bulat bagai apel New Zealand yang kemerahan. Pinokio bukan seorang anak lelaki dengan hidung seperti sepotong wortel di atas mulutnya yang mungil. Pinokio seorang lelaki setengah baya, berusia 50 tahun, dengan kerut-merut yang lekas menghiasi jidatnya manakala ia bingung, dengan carut-marut keriput cepat membayang kala ia menyunggingkan senyum.

Dengan sedikit sinis bisa dikatakan bahwa Pinocchio, film yang tengah diputar di gedung-gedung bioskop itu, hanya menunjukkan upaya seorang aktor yang sudah mulai tua memerankan sebuah boneka kayu—dan dialah Roberto Benigni, sutradara film itu sendiri, sutradara terhormat yang mendapatkan Oscar 1999 melalui karyanya yang luar biasa, Life is Beautiful. Dan publik Amerika mau muntah menyaksikan "kekonyolan" itu.

Bukankah seorang aktor lebih pantas memerankan Hamlet, misalnya, buat menunjukkan pencapaian tertingginya? Mengapa Benigni yang sudah setengah abad itu justru merendahkan diri, "turun" menjadi Pinokio? Kita tahu kontroversi ini: Pinocchio sebuah karya yang begitu dipuja masyarakat penonton Italia, tapi dicaci di belahan dunia lain (baca: Amerika Serikat).

Harus diakui, Pinocchio buah karya Benigni tak banyak menonjolkan aspek visual yang menarik. Pinocchio mengambil setting sebuah kota kecil dan padesan Italia: lanskapnya bagus, dengan kebersahajaan alami dan masyarakat abad pertengahan yang menyentuh, tapi jalan ceritanya menyodorkan pendekatan revolusioner—setidaknya dibandingkan dengan sebuah animasi berjudul sama keluaran Disney Studio 1996.

Pinocchio buatan Disney dibuka dengan harapan Pak Gepetto, seorang tukang kayu tua yang kesepian dan sendirian. Sebelum pergi tidur, sambil menghela napas pendek, Gepetto bergumam, "Ah… andai boneka ini seorang." Pinocchio-nya Benigni tak begitu. Pinokio memang boneka kayu, tapi ia tak mau memainkan peran sekadar obyek keinginan seorang tukang kayu. Adalah Pinokio seorang yang menginginkan diri menjadi manusia, bukan Gepetto.

Alkisah, pada suatu pagi yang ramai lagi cerah, Pak Gepetto menemukan sebatang kayu pinus di depan pintu rumahnya. Ilhamnya muncul. Dan sebagai tukang kayu berpengalaman, pilihannya pun cepat jatuh pada sebuah kreasi artistik: sebuah boneka kayu. Tapi Gepetto lantas terlonjak. Tak dinyana, boneka itu berbicara, bergerak, berlarian, bahkan melompat kian-kemari. Gepetto cepat mengucap beribu syukur, tapi kemudian mengalami sebuah cobaan mahaberat dalam hidupnya.

Pinokio dalam Pinocchio adalah bocah bengal, jauh lebih nakal dari Pinokio produk Disney. Kendati menyimpan keinginan sangat keras untuk menjadi manusia, Pinokio memiliki hati yang lekas bimbang. Ia mudah tergiur pada kesenangan kanak-kanak: bermain atau makan permen sepanjang hari. Manakala tangannya mulai bisa digerakkan, Pinokio langsung menyambar rambut palsu yang dikenakan ayahnya, Gepetto—gerak hidup pertama yang sungguh kurang ajar. Ia memilih menonton pertunjukan boneka ketimbang pergi ke sekolah. Dan ia minggat ke Fun Forever Land, sebuah taman bermain yang kekal, yang tak tersentuh perjalanan waktu, menuruti bisikan sahabat dan hatinya yang miring.

Pinokio-nya Benigni memang lebih filosofis ketimbang produk Disney. Setiap perbuatan akhirnya membuahkan karmanya sendiri. Dan di pucuk kenakalannya, Pinokio yang bermimpi menjadi manusia itu justru "turun kelas": dari boneka kayu menjadi keledai. Melalui pertolongan si Peri Biru, yang dimainkan dengan bagus oleh Nicoletta Braschi, istri Roberto Benigni, Pinokio yang sudah menjadi keledai dan di ambang maut itu kemudian bisa diselamatkan. Dialah peri yang selalu sedih manakala pergumulan si baik lawan si jahat dalam batin Pinokio dimenangi oleh si jahat. Pinocchio berakhir dengan happy end. Pinokio justru menjelma jadi seorang anak yang sangat berbakti kepada orang tuanya yang sakit, Gepetto. Film berakhir dengan sebuah pemandangan surealis: Pinokio, seorang anak manusia, masuk sekolah, sementara di luar gerbang tampak sebuah bayangan Pinokio lain, bayangan sebuah boneka kayu berkejaran dengan kupu-kupu, menjauhi gedung sekolah.

Kita mungkin masih bisa membawa pulang pertanyaan: Pinokio yang mana pilihan Benigni? Anak manusia yang beradab, "makan sekolahan", atau boneka kayu yang lepas bebas? Yang terang, ini tak bisa disaksikan dalam Pinocchio buatan Disney Studio.

Idrus F. Shahab


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Hasil Penyisihan Piala Dunia Asia - 07 Sep 2008 | 10:00 WIB
AirAsia X Tidak Terganggu Harga Minyak - 07 Sep 2008 | 09:55 WIB
Podolski Membuktikan Diri - 07 Sep 2008 | 09:40 WIB
Hasil Penyisihan Piala Dunia Eropa - 07 Sep 2008 | 09:40 WIB
Makanan Pasar di Balikpapan Memakai Pewarna Tekstil - 07 Sep 2008 | 09:25 WIB
Danamon Cairkan Rp 3,2 Triliun Kredit Masyarakat Kalimantan - 07 Sep 2008 | 09:14 WIB
Portugal Optimistis Kalahkan Denmark - 07 Sep 2008 | 09:11 WIB
Pemerintah AS Ambil Alih Manajemen Fannie Mae dan Freddie Mac - 07 Sep 2008 | 08:52 WIB
Capello Belum Puas dengan Cole - 07 Sep 2008 | 08:42 WIB
Daya Beli Petani Nusa Tenggara Barat Anjlok - 07 Sep 2008 | 08:30 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data