Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 20/XXXII/14 - 20 Juli 2003
   
Wawancara

"Posisi Kami Benar-Benar Terancam"

PERINTAH "segera menghadap komandan" itu datang tiba-tiba. Empat penerbang yang baru melepas pakaian kantor bergegas, berlari-lari menemui atasan mereka. Saat mereka menghadap, perintah itu menjadi jelas: "Siapkan peralatan, pakaian, juga pesawat tempur F-16." Maka meluncurlah keempat penerbang itu ke dalam kokpit pesawat tempur. Adegan ini berlangsung di Pangkalan Udara Iswahyudi, Madiun, Jawa Timur, pada 3 Juli silam.

Dalam hitungan menit, dua pesawat tempur F-16 meraung-raung membidik langit. Terbang ke arah Bawean, di sebelah utara Kota Gresik, Jawa Timur, para penerbang itu diminta melakukan intersepsi—pengintaian terhadap pesawat yang tidak teridentifikasi—terhadap pesawat-pesawat tempur tak dikenal yang melakukan manuver sesuka hati di atas Laut Jawa, wilayah langit milik Indonesia. Bahkan aksi pesawat-pesawat perang itu bisa membikin celaka pesawat sipil yang melintas di daerah tersebut.

Belakangan, sebagaimana luas diberitakan, mesin perang tak dikenal itu ternyata F-18 Hornet milik Angkatan Laut Amerika Serikat. Mereka sedang mengawal beberapa kapal perang yang tengah melintas di perairan Indonesia. Sebelum melesat, para pilot itu diberi instruksi tentang taktik menguntit pesawat tak dikenal. Pesawat tempur pertama diterbangkan oleh Kapten Penerbang Ian Fuady dan Kapten Penerbang Fadjar Adrianto. Sedangkan pesawat kedua diawaki oleh Kapten Penerbang Tonny Haryono dan Kapten Penerbang Satryo Utomo.

Dua pesawat tempur itu, juga para awaknya, baru pulang dari Medan setelah beberapa hari melakukan operasi dalam perang Nanggroe Aceh Darussalam. Jadi, hampir semua peralatan senjata yang dibawa dari Medan belum ditanggalkan.

Setelah 15 menit di udara, radar pesawat Fuady sukses melacak dua pesawat tempur tak dikenal. Kapten Fuady berusaha berkomunikasi dengan awak F-18 Hornet itu—sebuah langkah penting untuk mencegah insiden. Eh, alih-alih menjawab, dua Hornet lainnya malah meraung-raung dan menempel cuma beberapa meter di belakang buntut pesawat Ian Fuady.

Tak cuma menempel, dua pesawat "musuh" itu bahkan sukses mengunci posisi pesawat dan juga membuat misil F-16 milik Indonesia tak berkutik alias tak bisa ditembakkan. "Mereka sudah siap untuk menembak," kata Fuady kepada Dwidjo Maksum dari TEMPO, yang menemuinya di Pangkalan Udara Iswahyudi, Jumat pekan lalu, untuk wawancara ini.

Ian Fuady dan Fadjar Adrianto merasa tegang dan cemas. Maklumlah, dalam posisi dikunci, tak banyak yang bisa mereka lakukan. Ceroboh bermanuver bisa mendatangkan bahaya karena lawan akan menduga mereka tengah menggebrak serangan. Dan jika itu terjadi, kata Fuady, "Kami bisa berada di bawah laut dan berkeping-keping."

Untunglah tragedi itu tidak terjadi. Sebab, pesawat Indonesia melakukan manuver rocking the wing, yaitu menggerak-gerakkan sayap pesawat sebagai tanda bahwa dua pesawat Indonesia itu bukan musuh. Isyarat ini dipahami pesawat-pesawat Amerika tersebut. Setelah berdialog sebentar, kedua pesawat Indonesia itu kembali ke pangkalannya di Madiun.

Tapi persoalan belum selesai. Di dalam negeri, protes mengalir dari berbagai arah. Sejumlah politikus mendesak pemerintah Megawati agar menegur pemerintah Amerika Serikat atas kelancangan mesin-mesin tempurnya. Markas Besar Tentara Nasional Indonesia melakukan investigasi khusus atas insiden itu. Hasil investigasi tersebut diserahkan ke Presiden pekan lalu.

Belum jelas betul apa hasil investigasi itu. Tapi yang jelas adalah ini: dalam pertemuan dengan Duta Besar AS Ralph L. Boyce pada Kamis pekan lalu, Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Susilo Bambang Yudhoyono cuma mengirimkan nota keprihatinan. Padahal, sebelumnya, khalayak umum ramai mendesak pemerintah agar mengirimkan protes. Dalam dunia diplomasi, nota keprihatinan itu lebih lunak ketimbang nota protes.

Dalam pertemuan tersebut, Boyce menegaskan bahwa pada 3 Juli lalu itu pihak Amerika Serikat telah mengirimkan notifikasi kepada Indonesia sebelum penerbangan. Entah terbang ke mana lembar notifikasi itu. Sebab, hingga burung-burung maut Amerika tersebut bermain-main di langit Bawean, lembar itu belum diterima pemerintah Indonesia. Padahal keteledoran itu bisa berbuntut fatal—saling serang di udara dan nyawa melayang.

"Ini peristiwa paling menegangkan dalam karier saya," kata Kapten Ian Fuady. Dia mengaku amat bersyukur bahwa insiden itu tak menimbulkan korban jiwa, baik di pihak Indonesia maupun di pihak Amerika. Toh, kegentingan di langit Bawean tak membuat Fuady kapok. Ia bertekad akan terus terbang, dalam situasi sesulit apa pun.

Sejak kecil Fuady memang telah bercita-cita menjadi penerbang. Selepas sekolah menengah atas, dia langsung masuk Sekolah Penerbang Angkatan Udara di Adisutjipto, Yogyakarta. Ia adalah lulusan terbaik sekolah itu pada 1996.

Selama melakukan wawancara ini, Ian Fuady didampingi Komandan Pangkalan Udara Iswahyudi, Marsekal Madya Dradjad Rahardjo, dan Kepala Penerangan Pangkalan Udara Iswahyudi, Mayor Bintang Yudianta. Perbincangan itu berlangsung di ruang tamu Pangkalan Udara Iswahyudi.

Berikut ini petikannya.



Anda berada di mana saat perintah menerbangkan pesawat itu datang?

Kami mendapat perintah sekitar pukul empat sore. Saat itu kami sudah berada di rumah masing-masing karena jam pulang kantor sekitar pukul 14.45 WIB. Komandan memanggil kami setelah mendapat perintah dari Marsekal Muda Teddy Sumarno, Panglima Komando Operasi Angkatan Udara Wilayah Dua. Karena kelihatannya mendesak, saat itu juga kami berlari-lari menghadap komandan. Dan komandan memerintahkan agar kami menyiapkan peralatan, pakaian, dan pesawat.


Jadi, semuanya serba cepat?

Situasi seperti itu biasa kami sebut scramble. Segalanya disiapkan dalam waktu singkat, termasuk persiapan perlengkapan seragam kami. Komandan lalu memberikan brifing. Isi brifing menyangkut intersepsi atau pengintaian serta review bagaimana melakukan intersepsi internasional.


Apakah Anda menemukan kesulitan dalam menyiapkan pesawat?

Tidak karena sebetulnya konfigurasi dua pesawat F-16 itu tidak mengalami perubahan. Pada 2 Juli 2003, kami baru pulang dari Medan, Sumatera Utara, untuk operasi Aceh. Semua peralatan tempur masih terpasang di pesawat. Jadi, itu tidak terlalu memakan waktu lama.


Bagaimana dengan soal senjata?

Tiap pesawat F-16 dilengkapi dua rudal AIM-9 Sidewinder serta rudal Maverick. Ini jenis yang mampu ditembakkan dari udara ke darat. Selain itu, masih ada dua jenis bom, yaitu BDU-33 dan Mk-82. Sedangkan pelurunya berkaliber 20 mm. Jadi, cukup komplet dan tidak ada masalah.


Pada pukul berapa Anda siap terbang?

Pada pukul 16.50 WIB, mesin kedua pesawat mulai dinyalakan. Sepuluh menit kemudian, kami mengudara dan langsung menuju posisi target di Bawean itu. Saya lalu berkontak dengan radar sipil di Bandara Juanda, Surabaya.


Apa isi komunikasi Anda dengan petugas di Bandar Udara Juanda?

Kami tanya soal posisi target yang mengganggu jalur penerbangan sipil atau jalur komersial. Surabaya bilang bahwa targetnya itu ada dua. Pertama agak lebih dekat dan yang kedua lebih jauh.


Langkah apa yang Anda ambil setelah itu?

Saya langsung menuju target pertama karena itu yang paling dekat. Saat itu fungsi radar di Surabaya itu baik sekali.


Itu radar sipil?

Ya. Tapi, walau radar di Surabaya adalah radar sipil, mereka bisa menggunakan istilah-istilah yang bukan bidangnya. Radar Surabaya itulah yang menuntun kami menuju target.


Kapan radar pesawat Anda mulai menangkap pesawat F-18?

Saya ingat betul waktunya, sekitar 17.21 WIB. Saat itulah radar kami menangkap dua target F-18. Tapi kami tidak melakukan manuver apa-apa. Kami hanya mengawasinya dan terus berusaha berkomunikasi dengan mereka.


Mengapa Anda tidak langsung mengunci posisi mereka?

Ada dua alasan. Pertama, kami bekerja berdasarkan instruksi komandan di darat. Kami dilarang mengunci posisi kedua pesawat itu. Kedua, kebiasaan umum dalam pesawat tempur, jika kita mengunci posisi mereka, di dalam pesawat mereka akan muncul tanda bahwa pesawat mereka dalam keadaan terancam dan itu pertanda menantang. Itu sebabnya kami cuma mengawasi dari radar.


Katanya, ada dua pesawat F-18 milik Amerika yang menguntit dari belakang. Bagaimana ceritanya?

Ketika kami sedang mengintai dua pesawat yang ada di depan itu, tiba-tiba di belakang kami muncul dua pesawat F-18 Hornet. Kami terkejut juga. Bayangkan, ada dua pesawat di depan kami dan masih ada dua lagi di belakang. Kami di tengah-tengah. Tak lama kemudian, kami melihat kapal perusak di tengah laut yang berlayar dari arah barat ke timur. Saya lalu melaporkan ke Surabaya lewat radio mengenai adanya kapal perusak itu. Ternyata kapal-kapal itu milik Amerika juga.


Berada di antara jepitan pesawat-pesawat tempur Amerika, bagaimana Anda mengatasi keadaan?

Walau pesawat saya itu dalam posisi siap ditembak, posisi pesawat Amerika sesungguhnya juga dalam keadaan terjepit.


Mengapa demikian?

Karena di belakang mereka masih ada satu pesawat F-16 yang diawaki Kapten Tonny dan Kapten Satryo. Kedua penerbang itu terus menguntit dua F-18 yang di belakang saya. Saya berpikir, jika pesawat kami ditembak, pesawat Kapten Tonny itu masih bisa membalas atau menyerang mereka.


Seberapa tegang situasi saat itu?

Tegang sekali. Dua pesawat yang menguntit di belakang mengunci posisi kami. Misil mereka juga sudah ikut mengunci pesawat kami. Bahkan saat itu misil mereka sudah menyala dan terdengar bunyi "tit-tit-tit…" di pesawat kami, yang menandakan bahwa mereka sudah siap untuk menembak. Kami menduga misil yang dibawa oleh pesawat Amerika itu sama dengan misil yang kami bawa, yaitu misil bermerek AIM-9.


Apa dasar dugaan Anda?

Misil jenis ini punya ciri khas. Jika kita berada di posisi dikunci dengan bermanuver lebih dari 30 digit dari posisi mereka, misil itu akan break lock atau melepas kuncian.


Seperti apa perasaan Anda saat itu?

Saat itu posisi kami benar-benar terancam. Saya berpikir, jika terjadi apa-apa dengan kami, masih ada pesawat F-16, yang menguntit dua Hornet yang mengunci kami, yang bisa menghancurkan mereka.


Dalam keadaan seperti itu, apa yang bisa Anda lakukan?

Kami taat pada perintah di darat untuk tidak melakukan manuver apa pun yang membuat posisi pesawat Amerika Serikat itu merasa terancam. Sebab, jika mereka merasa terancam, situasi akan amat berbahaya. Manuver yang kami lakukan hanyalah membuat mereka yakin bahwa kami tidak sedang mengancam posisi mereka. Kami cuma melakukan gerakan yang disebut gerakan hard right, hard left, hard right, hard left, yang amat efektif untuk menyakinkan mereka agar melepas penguncian terhadap pesawat kami.


Apakah sempat terpikir untuk melakukan manuver ofensif?

Saat itu sebenarnya kami bisa saja menggunakan manuver ofensif agar tidak berada di belakang dua pesawat F-18 tersebut, supaya mereka yakin bahwa kami tidak menyerang mereka. Tapi, mengingat posisi mereka yang masih terus mengunci, kami tak membuat manuver itu. Jika kami melakukan manuver yang ceroboh, mungkin saat ini kami sudah berada di bawah laut dan berkeping-keping.


Apa yang bisa dilakukan oleh F-16 milik Indonesia yang berada di belakang F-18 pada saat itu?

Karena terjepit, kami memerintahkan agar pesawat F-16 milik Indonesia yang berada di belakang kedua pesawat Hornet itu melakukan manuver rocking the wing, yaitu menggerak-gerakkan sayap pesawat. Dalam kesepakatan internasional, manuver itu adalah tanda atau kode bahwa kami bukan musuh mereka.


Jadi, manuver itu berhasil?

Ya. Mereka melihat manuver rocking the wing dan mereka tahu siapa kami. Setelah itu, pesawat Amerika Serikat tadi membuka penguncian misil mereka.


Setelah itu, apakah Anda berkomunikasi dengan mereka?

Kami berusaha berkomunikasi dan mendekati mereka. Setelah dekat dengan kami, awak pesawat mereka menatap Kapten Tonny, yang berada di belakang saya. Mereka bilang, "This is US Navy. I am in international water." Kami jawab bahwa kami adalah pesawat patroli angkatan udara Indonesia yang sedang mengerjakan tugas. Kami juga menegaskan bahwa tugas kami hanyalah melakukan patroli. Mereka menganggap bahwa mereka berada di laut internasional dan meminta kami menjauhi konvoi mereka.


Mereka tahu Anda dari TNI Angkatan Udara?

Sebelum berbalik, mereka sempat mengucapkan "Indonesian air force." Itu berarti mereka sudah mengakui dan mengerti bahwa kita dari TNI Angkatan Udara. Selanjutnya, kami menghindar dan menjauhi mereka menuju Pulau Jawa, terus ke Iswahyudi sekitar pukul 17.27 WIB dan mendarat pada pukul 18.15 WIB. Sekitar pukul 18.25 WIB, kami mematikan mesin.


Bagaimana komuniksi dengan Iswahyudi selama penerbangan itu?

Selama di udara, kami terus melakukan kontak dengan radar di Surabaya, dan Surabaya menghubungkannya ke Iswahyudi. Jadi, kami selalu berkontak dengan komandan skuadron di darat.


Apa perasaan Anda setelah mendarat kembali di Pangkalan Udara Iswahyudi?

Inilah peristiwa paling menegangkan sepanjang karier penerbangan saya. Kejadian ini merupakan pengalaman pertama mengintai pesawat yang tidak teridentifikasi. Saya amat bersyukur peristiwa tersebut tidak membawa korban, baik bagi pihak Indonesia maupun pihak Amerika.


Anda punya harapan tertentu setelah kejadian ini?


Harapan saya, pemerintah bisa menyediakan peralatan pertahanan udara
yang canggih dan lengkap sehingga kami bisa maksimal mengamankan wilayah
udara Indonesia.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data