Lahir Kembali Setelah Cedera Banyak petenis dunia yang cedera berat gagal kembali ke gelanggang. Mark Phillippoussis adalah pengecualian.
|
DULU benci sekarang cinta. Beberapa tahun lalu sosok Mark Phillippoussis sempat menjadi public enemy di Australia. Gara-garanya, anak muda ini ogah bergabung dengan tim Piala Davis negeri itu. Namun yang terjadi pekan lalu betul-betul berbalik. Nama bujangan 26 tahun ini mendadak diagung-agungkan sampai ke langit. Dia disejajarkan dengan para petenis legendaris Australia lainnya seperti Pat Cash dan John Newcombe.
Pujian itu tentu ada sebabnya. Petenis keturunan Yunani ini berhasil meluncur ke final Wimbledon, Ahad pekan silam, meskipun ujungnya dia bertekuk lutut di tangan Roger Federer, petenis muda asal Swiss.
Bagi publik pencinta tenis Australia, kegagalan itu menjadi nomor dua. Petenis yang sering bolak-balik ke dokter gara-gara cedera lutut yang dialaminya ini sudah menumpahkan segala kemampuannya. Hanya, cedera dengkulnya masih kerap mengganggu. Phillippoussis pun dijuluki si Fragile. Selama kariernya, dia mengalami tiga kali operasi untuk mereparasi lututnya itu.
Nah, siapa yang tak kagum bila pemain yang hampir 18 bulan tak pernah mengayunkan raketnya tiba-tiba masuk babak final. Arenanya di Wimbledon pula, ajang yang penuh gengsi dan juga uang. Tak pelak, keberhasilannya kali ini merupakan intan permata yang berkilau-kilau. "Phillippoussis kalah terhormat. Apa yang dilakukannya membuat bangga negeri ini," kata John Howard, Perdana Menteri Australia, yang tak tahan untuk tidak ikut berkomentar.
Tampilnya Phillippoussis sebagai runner up di kejuaraan bergengsi merupakan sebuah keajaiban di arena tenis profesional. Tak banyak yang bisa melakukannya. "Setiap pemain pasti pernah mendapatkan cedera. Tapi mereka yang pernah cedera berat sangat sulit kembali ke arena. Phillippoussis adalah pengecualian," tutur Yayuk Basuki, bekas ratu tenis nasional yang pernah mendarat di peringkat 20 dunia.
Cedera apa saja: mau di lutut, pinggang, punggung, atau di bagian tubuh lainnya, merupakan lampu kuning bagi pemain tenis profesional. Berpuluh-puluh contoh bisa dikemukakan. Salah satunya adalah ratu tenis nan jelita, Gabriella Sabatini, petenis Argentina yang pernah bertengger di urutan 10 besar dunia. Namun, gara-gara cedera yang dialami, yakni otot di bagian perutnya, pada 27 Oktober 1996 Gaby—panggilan akrabnya—terpaksa menggantungkan raket, padahal perjalanan kariernya masih panjang. Usianya saat itu 26 tahun.
Keputusan itu diambil karena rasa frustrasinya. Beberapa kali Gaby kembali turun ke lapangan setelah mengalami cedera, tapi hasilnya selalu buruk. Ketangguhannya sudah melempem dilibas pemain muda. Dia terpental di babak-babak awal. Setelah dua tahun dirundung cedera, dia pun menyerah, lalu memutuskan mundur. "Sesudah berpikir panjang, saya berkesimpulan, ternyata kekuatan yang saya miliki sudah jauh berkurang. Saya pikir lebih baik melakukan kegiatan lain di luar tenis," kata Sabatini saat menyatakan pensiun di Madison Square Garden, New York, tujuh tahun lalu.
Penggemarnya banyak yang meratap. Bagaimanapun, Sabatini adalah kembang dunia tenis saat itu. Selain ciamik bermain, wajahnya enak dipandang. Namun Sabatini tidak sendirian. Masih banyak pemain yang mengalami nasib serupa. Mereka antara lain Martina Hingis, petenis Swiss yang juga mandek akibat cedera yang dideritanya. Juga Monica Seles, dan beberapa nama lainnya.
Prestasi mereka tenggelam seiring dengan munculnya jagoan baru. Mau dikata apa, bersaing kembali dengan muka-muka baru yang lebih fresh dan liat jelas tidak mudah. "Apalagi ketika bermain tiba-tiba bekas cederanya kambuh," kata Marat Safin, petenis putra asal Prancis.
Bagi atlet, cedera tak ubahnya seperti polisi tidur. Laju prestasi dan karier bisa terganggu. Dan khusus untuk olahraga seperti tenis, persoalan cedera bisa berbuntut panjang. Selama absen dari lapangan, bisa dipastikan peringkatnya bisa terus melorot, dan saat kembali, keadaan sudah berganti. Banyak pemain muda yang lebih jago. Kenyataan ini, menurut Safin, amat menyedihkan. "Kehilangan kesempatan untuk memperbaiki peringkat dan hadiah uang tak ubahnya seperti kehilangan roti yang dicuri dari meja kita," katanya. Alhasil, tak banyak pilihan: nekat terus bermain atau mundur secara terhormat, seperti yang dilakukan Gabriella Sabatini.
Sialnya, tak ada satu pun pemain yang mampu berkelit dari berbagai jenis cedera. "Dulu cuma ada cedera siku, tapi kini macam-macam jenisnya," kata Tony Roche, juara Prancis Terbuka 1966 yang kini menjadi pelatih. Salah satu penyebabnya, menurut L. Jon Wertheim, penulis biografi Venus Williams berjudul Venus Envy, karena teknologi yang digunakan dalam olahraga ini. Di antaranya, raket. Dalam pertandingan selama lima set, dipastikan otot akan terpacu. Salah-salah otot bisa kecetit. Penggunaan raket, apalagi yang tidak terbuat dari kayu, mengundang ayunan yang berat. Ini menimbulkan tekanan yang berlebihan pada tubuh.
Penyebab lainnya, pertandingan di dunia tenis profesional yang teramat padat. Dalam setahun, pemain profesional telah memiliki jadwal pertandingan yang ketat. Ini membuat fisik terkuras dan rentan terkena cedera. "Banyaknya pertandingan itu membuat banyak pemain tidak tampil dalam kondisi yang 100 persen," kata seorang pemain yang namanya dirahasiakan oleh Wertheim.
Persaingan yang sengit juga mendorong pemain terus berlatih dan berlatih ekstrakeras. Ini juga menyebabkan terjadi cedera. "Kadang-kadang kita juga membutuhkan istirahat," kata Patrick Rafter, petenis asal Australia. "Tapi serba salah juga. Kalau tidak berlatih, hasilnya pasti buruk," katanya.
Hanya, lebih buruk lagi jika tiba-tiba cedera menyergapnya. Dan hanya sedikit pemain yang mampu menyulapnya sebagai berkah, seperti yang dilakukan Phillippoussis. Cedera lututnya yang dideritanya justru membuat mentalnya lebih bagus. Dia lebih bersabar dalam bermain. "Sekarang dia bisa bermain lebih rileks, tidak temperamental seperti dulu," kata Yayuk Basuki. Saat memulai karier, Phillippoussis memang terkenal dengan perangainya yang buruk.
Di mata Pat Cash, bekas pelatihnya, dulu anak muda ini tidak saja memiliki emosi yang labil, gaya hidupnya pun menyebalkan. Phillippoussis, yang doyan hiburan malam, merupakan playboy yang hobi ganti-ganti pacar. Salah satu pacarnya adalah petenis seksi asal Rusia, Anna Kournikova. "Dalam sehari dia pernah menelepon Anna hingga lima kali hanya untuk memuji kecantikannya," katanya.
Barangkali wajar juga. Phillippoussis memiliki segalanya. Tampang keren dan bodi yang aduhai. Dia masuk dalam daftar pria terseksi sebuah majalah. Ia juga memiliki bakat yang luar biasa. Servisnya bak geledek. Karena itu pula, anak muda ini juga mendapat julukan Scud, peluru kendali Amerika yang menggelegar itu.
Cedera akhirnya memang mengubah tabiatnya. "Setelah menjalani operasi yang ketiga, saya jadi sadar pada banyak hal," katanya. Phillippoussis sungguh tersiksa. Dua tahun lalu itu, setelah menjalani operasi itu, dia lebih banyak menghabiskan waktunya di ranjang. Hari-harinya hanya ditemani dengan kedukaan. Apalagi setelah salah satu dokternya memvonis dia tidak akan kembali bermain tenis profesional lagi. "Saya ingin membuktikan dia salah," katanya.
Hal yang pertama dilakukannya adalah pindah dari Miami, yang dianggapnya kurang cocok untuknya, dan memilih tinggal di Cardiff, San Diego, Amerika Serikat. Di sana dia merekrut Markus Heon, seorang instruktur kebugaran lokal. Nah, selama 15 bulan itulah, dengan semangat ingin kembali ke gelanggang, dia manut dengan semua perintah Heon yang menggenjotnya dengan latihan keras. Hasilnya, kekuatan fisik dan mentalnya bangkit. "Tujuan kami menempatkan Mark dalam peringkat atas," kata Heon.
Setelah anak didiknya itu mampu menggapai final Wimbledon pekan silam, Heon kian yakin terhadap impiannya. Dan bagi Mark Phillippoussis, bukan cuma semangatnya yang bangkit, kelakuannya pun telah berubah, bagaikan anak yang dilahirkan kembali.
Irfan Budiman
|