Bukan Sekolah Spion Melayu Dua sekolah intelijen dicanangkan di Indonesia. Pertama di dunia, mencari model kurikulum. Tenaga pengajar dari CIA dan KGB. |
SEORANG intel di tempat yang tepat sama dengan 20 ribu serdadu di medan perang. Kita tak tahu apakah kata-kata Napoleon ini terlintas dalam pikiran Presiden Megawati Soekarnoputri ketika ia meresmikan pencanangan dua sekolah intelijen sekaligus, Rabu pekan lalu. Di Batam, Riau—tempat upacara peresmian—sekolah itu bernama International School of Intelligence, dan di Sentul, Jawa Barat, namanya Institut Intelijen Negara. Presiden tak berbicara banyak pada pencanangan itu. "Karena saya berpikir segala sesuatu di bidang ini sebaiknya memang tidak dilakukan terbuka," katanya.
Kita juga tak tahu persis, "segala sesuatu" itu mencakup apa saja. Yang kita tahu, sekolah yang disebut-sebut sebagai "yang pertama di dunia" ini dicanangkan secara terbuka, dihadiri sejumlah menteri dan pejabat tinggi negara, beberapa duta besar, bahkan perwakilan intelijen dari Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Taiwan, Filipina, dan Amerika Serikat. Sekolah di Batam akan mencetak master, di Sentul sarjana strata satu.
Intelijen, dalam pengertian strategic intelligence—untuk membedakannya dengan "inteligensia"—memang merupakan "ilmu" yang tak sepenuhnya terbuka. Kegiatan utama di wilayah ini adalah mengevaluasi kemampuan dan intensitas suatu kelompok melalui proses lalu lintas informasi yang akan digunakan para pengambil kebijakan untuk mengungguli pihak lain. Dalam proses tersebut, "intelligence operations" memainkan peranan menentukan, dan di tingkat inilah ia menjadi sangat "tertutup". Pada tataran ini pula pengertian intelijen sering dikacaukan dengan "spionase", padahal spionase hanyalah satu dahan dari pohon intelijen yang rimbun dan kadang terasa "angker".
Bertambahnya lembaga pendidikan di negeri ini tentulah patut disambut dengan dada lapang. Apalagi dalam pencanangan tersebut sekaligus diungkapkan dukungan dua perguruan tinggi terkemuka, Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung. Adapun mengenai kurikulumnya, "Akan kita rumuskan model mana yang paling sesuai untuk Indonesia," kata Rektor Universitas Indonesia, Usman Chatib Warsa, yang ikut mendampingi Presiden di Batam. Pertanyaannya: kalau model "yang paling sesuai untuk Indonesia" itu tak cocok betul dengan beberapa negara lain yang konon sudah bersiap mengirimkan siswanya ke sekolah ini, bagaimana?
Muncul pula pertanyaan lain ketika Wakil Kepala Badan Intelijen Negara, As'at, menyatakan tenaga pengajar sekolah ini kelak berasal dari dinas intelijen terkemuka dunia, seperti CIA dan KGB. Se-"terkemuka" apakah kedua dinas rahasia itu? Kita tahu CIA (Central Intelligence Agency), yang berdiri pada 1947 dengan restu Kongres Amerika Serikat, beberapa kali tersandung blunder, dari invasi ke Teluk Babi, 1961, sampai kasus senjata pemusnah massal Irak, yang hingga kini masih ramai diperdebatkan. Adapun KGB (Komitet Gosudarstvennoi Bezopasnosti) tak pula bisa dikatakan harum betul namanya di tingkat hubungan antarbangsa.
Strategic intelligence mensintesiskan berbagai jenis informasi dengan kategori utama politik, ekonomi, militer, ilmu-teknologi, geografi, dan biografi. Jadi, kita layak berharap, kedua sekolah intelijen yang baru dicanangkan ini kelak tak sekadar mencetak "spion Melayu", istilah populer yang tumbuh di masyarakat untuk menggambarkan kualitas intelijen yang cuma sanggup mengendus-endus kemudian mengarang skenario murahan. Bagaimanapun, kita memang membutuhkan kualitas intelijen yang bermartabat, bertanggung jawab, dan diproyeksikan bagi pemuliaan kemanusiaan—bukan sebaliknya.
|