Perginya sang Penyebar Cinta Karkono Kamajaya meninggal karena usia tua pada pekan silam. Ahli kebudayaan Jawa ini mewariskan karya yang tak ternilai: 4.000 halaman terjemahan Serat Centhini. |
Rasanya hidup bukanlah sesuatu yang sia-sia bila seseorang telah menempuhnya seperti Karkono Kamajaya. Dia punya sederet predikat—pejuang, wartawan, politikus, penulis, ahli kebudayaan Jawa. Namun, mungkin ini yang paling mengesankan: hingga saat kematiannya, ia tetap menjadi sosok yang sederhana, jujur, berpendirian teguh, punya integritas tinggi. Kecintaannya pada budaya Jawa tetap bernyala-nyala hingga akhir hayat.
Karkono mewarnai kisah hidupnya, antara lain, dengan sejumlah "petualangan" yang mendebarkan. Dia empat kali menyelundupkan candu dari Jawa ke Singapura di masa revolusi untuk mengumpulkan dana bagi Republik Indonesia yang baru lahir. Penyelundupan 22 ton opium itu menghasilkan lebih dari tiga juta gulden, jumlah yang banyak untuk masa 1948-1949 itu. Semua gulden itu masuk kas negara. Pada 1949, beberapa pekan seusai penyelundupan yang terakhir, Karkono kembali ke Yogyakarta, tetap melarat seperti sebelumnya.
Zaman itu memang banyak menghasilkan orang yang istimewa. Adalah semangat zaman juga yang membuat Karkono, yang lahir di Sragen pada 23 November 1915, pada usia 17 tahun telah menjadi Ketua Indonesia Muda, sebuah organisasi pergerakan nasionalis, cabang Surakarta.
Bertahun-tahun kemudian, setelah lulus dari Taman Guru Taman Siswa, ia menjadi wartawan (antara lain di koran Asia Raya) dan penulis (semuanya 41 buku, antara lain Saijah dan Adinda, Solo di Waktu Malam, Sampek Engtay). Ia juga menulis naskah sandiwara ketika bergabung dengan Anjar dan Ratna Asmara dalam perkumpulan sandiwara Tjaja Timoer.
Usai revolusi fisik, ia masuk politik. Sebagai politikus dari Partai Nasionalis Indonesia (PNI), ia pernah menjabat Ketua DPRD Yogyakarta (1951-1956) dan anggota Konstituante. Ketika Orde Baru lahir, ia keluar dari dunia politik karena tidak setuju dengan Orde Baru, yang dianggapnya hanya memusatkan pada pembangunan ekonomi tapi kurang memperhatikan pembangunan budaya.
Ketika "karya" Presiden Soeharto yang berisi kumpulan kata-kata mutiara Jawa diterbitkan, Karkono tanpa ragu mengecamnya "karena banyak salahnya". Menurut Karkono, akibat gaya pemerintahan Soeharto yang "feodal Jawa", citra budaya Jawa telah merosot. Padahal sebenarnya pada budaya Jawa banyak hal positif yang bisa ditiru, misalnya bahwa seorang raja haruslah adil.
Karena itu Karkono amat prihatin dengan kebudayaan Jawa, yang menurut pandangannya hanya dikenal kulitnya. Pada 1983, Karkono mendirikan Yayasan Javanologi, yang bertujuan mengkaji dan mengembangkan kebudayaan Jawa. Tapi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan waktu itu, Nugroho Notosusanto, ternyata tidak berkenan karena yayasan itu dianggapnya "bersemangat kedaerahan". Tiadanya restu sang Menteri menyebabkan yayasan itu urung berdiri.
Pada 1984 Karkono mendirikan yayasan Javanologi "Panunggalan" untuk meneruskan idenya semula. Lalu dimulailah proyek yang dia kerjakan sendiri: menerjemahkan Serat Centhini. Serat Centhini, yang ditulis pada 1814, dianggap sebagai ensiklopedia Jawa, terdiri atas 200-an ribu sajak (dalam 722 tembang), berisi segala macam tentang budaya Jawa, dari agama, karawitan, persenjataan, kebatinan, seni tari, arsitektur, pertanian, primbon, sampai seni bercinta. Karkono memerlukan waktu 17 tahun untuk menerjemahkan karya itu. Terjemahan itu usai pada 1991 berupa 12 jilid buku sekitar 4.000 halaman.
Pada usia 20 tahun Karkono menambahkan Kamajaya pada namanya. Ada alasan Karkono untuk mengagumi Kamajaya, Dewa Cinta dalam pewayangan. Arkian, suatu waktu kahyangan diserang agresor. Upaya semua dewa membangunkan Sang Hyang Guru yang sedang bertapa tidak berhasil. Akhirnya Kamajaya, yang sadar akan akibat tindakannya, menembakkan panah cinta yang menyebabkan Guru teringat pada istrinya dan menghentikan tapanya.
Penyerang kahyangan akhirnya bisa dikalahkan Guru, dan sang istri (Dewi Uma) mengandung (akhirnya melahirkan Ganesya). Namun, Hyang Guru murka pada Kamajaya, yang telah membatalkan tapanya, dan membakarnya. Istri Kamajaya, Dewi Ratih, ikut membakar diri bersama suaminya. "Saya memakai nama Kamajaya agar bisa menjadi penyebar cinta, agar saya sanggup mencintai semua orang," kata Karkono dalam sebuah wawancara.
Tampaknya, sampai maut menjemputnya pekan lalu, Karkono memang selalu berusaha menyebarkan cinta. Lewat contoh perilakunya. Lewat karya-karyanya.
Susanto Pudjomartono
|