Mas Slamet Kastari: ”Semuanya Saya Serahkan kepada Allah” |
MAS Slamet Kastari adalah salah satu pentolan Jamaah Islamiyah dari Singapura. Dalam pekan-pekan ini, lelaki berdarah Jawa-Melayu berusia 42 tahun ini tampak galau menunggu vonis Pengadilan Negeri Dumai, Riau, dalam kasus pemalsuan dokumen keimigrasian. Jaksa Sri Kuncoro sudah menuntut tiga tahun penjara bagi ayah lima anak ini, dua pekan lalu.
Namanya melambung ketika bersaksi di persidangan kasus makar dengan terdakwa Ustad Abu Bakar Ba’asyir di Jakarta, pertengahan Juni lalu. Dialah orang pertama yang mengungkapkan bahwa Ba’asyir adalah Amir (Ketua) Jamaah Islamiyah. Kesaksian ini membuka tabir ihwal organisasi ”bawah tanah” itu, yang selama ini cuma muncul dari mulut polisi dan aparat. Para tersangka bom Bali, seperti Imam Samudra dan Ali Gufron alias Muchlas, masih membantah organisasi ini bernama Jamaah Islamiyah.
Pengakuan Mas Slamet Kastari akhirnya seperti lokomotif penarik gerbong. Belakangan para anggota Jamaah yang ditahan pemerintah Singapura satu per satu membuka kedok Jamaah dalam sidang jarak jauh melalui teleconference. Mereka antara lain Faiz bin Abu Bakar Bafana, bendahara mantiqi (wilayah) I dalam struktur Jamaah, Hasyim bin Abbas, bendahara Mas Slamet dalam wakalah (cabang) Singapura, dan Ja’far bin Mistoki (anggota sel khusus Jamaah).
Faiz Bafana malah lebih telak. Dalam sidang, ia meminta maaf kepada rakyat Indonesia. Ia lalu meminta agar Ba’asyir mengakui sepak terjang Jamaah Islamiyah dan menanggung renteng apa yang telah dilakukannya. ”Janganlah lagi menunjukkan kepada orang lain bahwa Islam itu ganas. Marilah kita bersama-sama mengakui kesilapan yang telah kita lakukan ini,” katanya.
Mas Slamet menjadi incaran interpol setelah pemerintah Singapura mengirim kawat kepada polisi di seluruh dunia bahwa dia anggota Jamaah Islamiyah, yang oleh PBB dinyatakan sebagai organisasi teroris internasional dan terlibat dalam perencanaan teror di Negeri Singa. Pada Februari lalu, ketika berada di atas speed boat dari Dumai ke Tanjung Pinang, ia dicokok polisi. Saat itu ia memegang paspor keluaran kantor imigrasi Surabaya atas nama Edi Hariyanto.
Berikut wawancara Jupernalis Samosir dari TEMPO dengan lelaki berbadan tinggi atletis dan berhidung mancung itu, di Lembaga Pemasyarakatan Dumai, Pekanbaru, Riau, dua pekan lalu. Petikannya.
Adakah yang menjenguk Anda selama di tahanan?
Tidak ada. Baru awak (Anda) yang menjenguk. Selama ini hanya polisi dan Jaksa Kuncoro. Ada juga surat datang dua bulan lalu. Surat itu menyebut ibunda telah wafat di Malaysia. Sedih juga, ya. Sanak famili banyak, ayah Jawa, ibu Malaysia, dan istri saya orang Melayu.
Bagaimana dengan rencana mengekstradisi Anda ke Singapura?
Terserah saja.
Anda dituduh merencanakan pembajakan pesawat dari Thailand untuk menabrak tower di Singapura. Benarkah?
Saya hadapi dulu soal di sini. Soal itu no comment-lah.
Anda mengaku di pengadilan bahwa kelompok Jamaah Islamiyah itu ada. Apa sebenarnya kegiatan mereka di Singapura?
Kami hanya mengaji.
Benarkah Anda hadir dalam pertemuan di Thailand yang merencanakan aksi peledakan bom Natal 2000 di Indonesia?
Memang ada tuduhan itu sejak tahun 2000, tapi saya tidak tahu.
Anda kabur dari Singapura setelah kawan-kawan Anda seperti Faiz bin Abu Bakar Bafana ditangkap?
Tidak. Saya mau ke Indonesia sudah lama, waktu itu tahun 2002, lewat Belawan. Bukan karena itu (adanya penangkapan di Singapura) saya ke Indonesia. Saya mau ke Indonesia karena bapak saya orang Indonesia, orang Jawa Tengah.
Apakah benar Anda berada Tanjung Pinang untuk bertemu dengan Ustad Zulkarnaen Daud, yang disebut polisi sebagai Panglima Perang Jamaah Islamiyah yang juga hadir dalam pertemuan Thailand?
Tidak. Saya tak mau bicara soal itu. Soal Ustad Daud saya kenal, saya anggap saudara, tapi bukan dalam Jamaah.
Bukankah Anda meminta perlindungan kepada Daud Zulkarnaen?
Allah yang melindungi saya, melindungi umat. Ustad saudara saya. (Menurut Kepolisian Daerah Riau, Ustad Zulkarnaen sampai sekarang masih dalam daftar pencarian—Red).
Sebagai Ketua Wakalah Singapura, Anda bawahan Ali Gufron atau Muchlas yang terlibat bom Bali. Anda tahu aksi mereka?
Saya tidak mau berkomentar soal bom Bali dan bom yang lain. Semuanya saya serahkan kepada Allah.
Anda memberi kesaksian yang memberatkan Ustad Abu Bakar Ba’asyir. Apakah ini Anda lakukan karena mendapat tekanan seperti kata Imam Samudra dan Muchlas?
Tidak ada tekanan. Semua saya ceritakan di pengadilan. Kata jaksa, pernyataan itu banyak diberitakan.
|