Ihwan Memilih Mati Tokoh Jamaah Islamiyah ini nekat bunuh diri saat disidik polisi. Kabarnya hendak membombardir Jakarta dan membunuh sejumlah tokoh. |
IA tewas dengan sebutir peluru menembus jantung. Itu bukan lantaran tertembak polisi yang menggerebeknya pada pagi buta Jumat pekan lalu. Ihwanuddin, biasa disapa Ihwan, alias Asim, nekat menembak dadanya saat disidik polisi setelah ditangkap di rumahnya, di Jalan Kebagusan III, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. "Ia bunuh diri di tengah proses penyidikan," kata Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Makbul Padmanagara.
Lelaki asal Solo, Jawa Tengah, ini bukan orang sembarangan. Polisi kuat menduga, ia tokoh penting dalam jaringan Jamaah Islamiyah, gerakan yang pernah disebut PBB sebagai salah satu teroris internasional. Ihwan tak menyangka akan ditangkap polisi. Saat rumahnya dikepung aparat, ia menampakkan mata nyalang, "Dia orang yang sangat keras," ujar sumber di kepolisian.
Dari tangan Ihwan, polisi mendapati sepucuk M-16 berikut magasinnya. Juga ditemukan berkotak-kotak amunisi peluru kaliber 5,56 mm. Yang membuat polisi geleng-geleng kepala, amunisi sebanyak 1.640 butir itu cukup untuk bekal seregu pasukan tempur. Polisi lalu membawanya ke sebuah tempat yang disulap sebagai pos polisi.
Ketika para penyidik kelelahan, Ihwan rupanya berulah. Di luar perhitungan, dalam keadaan tangan masih diborgol, Ihwan merebut senjata yang masih terurai dari atas meja. Ia pun meloncat ke dalam kamar mandi. Suasana gaduh. Untuk melumpuhkan Ihwan, seorang anggota Brimob yang mengawal sempat melempar granat asap ke dalam kamar mandi. Tapi aksi bunuh dirinya lebih cepat.
Ihwan cuma satu mata rantai. Tim Gabungan Reserse Polda Metro Jaya dan Markas Besar Kepolisian RI berhasil menangkap Pranata Yudha alias Mustofa, 42 tahun, saat hendak memasuki rumah kontrakannya di Kaliabang, Bekasi, Jawa Barat, Selasa pekan lalu. Bersama Mustofa, digelandang pula Suyono alias Abu Farauk al-Syukur.
Sebagaimana Ihwan, menurut polisi, mereka mengaku sebagai petinggi Jamaah Islamiyah. Dalam organisasi bawah tanah tersebut, Mustofa pernah menjabat sebagai Ketua Mantiqi III yang menguasai wilayah Sulawesi dan Filipina serta Badan Pekerja Markas Jamaah Islamiyah di Jakarta. Sedangkan Suyono, 41 tahun, mengaku pernah menjadi Ketua Wakalah (Cabang) Lampung.
Dari tangan Mustofa, polisi memperoleh barang bukti satu bundel gambar sket Bank BCA Jalan Majapahit, Semarang, Jawa Tengah, dan tiga bundel jadwal kebaktian Gereja Tiberias Indonesia, Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat, dan Gereja Bethel Indonesia, serta sejumlah buku dan dokumen lain.
Bagaimana mereka terjaring? Polisi mendapat cerita seputar sepak terjang Mustofa yang akan beraksi lagi mengebom Jakarta dari mulut Chairuddin alias Mohammad Nasir Abbas. Ia Ketua Mantiqi III yang menggantikan Mustofa. Warga Malaysia ini kakak ipar Ali Gufron, komandan umum peledakan bom Bali, Oktober tahun lalu. Abbas ditangkap di Vila Indah, Bantar Gebang, Bekasi. Rombongan 18 anggota Jamaah Islamiyah yang lain sudah dicokok di beberapa kota, Citereup, Kudus, Padang, dan Palu, pertengahan April lalu.
Dalam pemeriksaan, Mustofa membuka mulut. Ia mengaku menitipkan senjata kepada adiknya, Solehudin, di Cipinang Muara, Jakarta Timur. Ocehan Mustofa bukan isapan jempol. Saat menggeledah, polisi menemukan sepucuk senapan serbu buatan Amerika, M-16, dengan magasin tanpa peluru. Ada pula sebuah pistol FN kaliber 9 mm bersama empat butir peluru, dua buah teleskop, buku-buku, dokumen organisasi Jamaah Islamiyah, dan sebuah tas lagi berisi kaset dan compact disc rekaman kegiatan Jamaah Islamiyah.
Orang Semarang ini pun "bernyanyi", masih ada lagi senjata yang dibawa Ihwanuddin alias Asim. Mustofa kabarnya lulusan pelatihan militer di Afganistan. Ia juga pelatih di akademi militer Al-Islami Al-Jamaah di Muaskar Hudaibiyah Filipina Selatan pada 1997-1998. Tapi yang bikin geleng-geleng kepala: polisi menemukan hampir dua ton bahan peledak potasium klorat dan ribuan amunisi dari berbagai jenis senjata di rumah kontrakannya di Manyaran, Semarang.
Turut pula diciduk empat tersangka lain. Kepala Kepolisian RI Jenderal Da'i Bachtiar, Jumat pekan lalu, mendadak terbang ke Semarang untuk melihat barang bukti yang mencengangkan itu.
Bahan-bahan peledak itu, menurut pengakuan Mustofa kepada polisi, akan dipakai untuk membombardir Jakarta dan membunuh beberapa tokoh nasional. Tapi polisi enggan menyebut nama. "Bisa gempar nanti," katanya. Untung saja niat itu tak kesampaian.
Edy Budiyarso
|