Enam Menit di Udara Bawean Pesawat-pesawat Amerika bermanuver di atas Pulau Bawean. Tak ada protes dari Indonesia.
|
Baru satu jam Kapten Penerbang Ian Fuady tiba di rumahnya, Kamis sore dua pekan lalu, ketika sebuah perintah penting sampai kepadanya. Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional, Marsekal Muda Wresniwiro, memerintahkan ia terbang secepatnya, mencegat pesawat asing yang masuk ke udara Indonesia. Bergegas ia mengenakan seragam pilot dan berlari-lari menuju hanggar.
Langit cerah di sekitar Pangkalan Udara Iswahyudi, Madiun, sore itu. Ian Fuady bersama tiga kapten penerbang lain, Fajar Adrianto, Tonny Haryono, dan Satryo Utomo, menerima maklumat singkat dari Komandan Skuadron Udara 3 Pangkalan Udara Iswahyudi, Letkol Tatang Harlyansyah.
Lima pesawat asing dilaporkan bermanuver di udara sekitar Pulau Bawean, yang mengganggu penerbangan sipil. Awak sebuah pesawat penumpang Bouraq yang menuju Surabaya sore itu bahkan melihat mereka secara kasatmata. "Kami diminta mengintersepsi," kata Ian.
Sejenak kemudian, mereka naik ke kokpit dua pesawat tempur F-16 Fighting Falcon. Ian Fuady dan Fajar Adrianto di atas Falcon I, pesawat dengan nomor ekor TS (Tempur Serbu) 1603, sedangkan Tonny Haryono dan Satryo Utomo di atas Falcon II TS-1602. Baru sehari pesawat itu tiba dari Aceh. "Peralatan tempur masih terpasang di pesawat," katanya. Setiap pesawat F-16 dilengkapi dua peluru kendali AIM-9 Sidewinder, bom, dan peluru berkaliber 20 milimeter.
Hanya 12 menit lamanya kedua elang besi ini meraung, dan pukul 17.02 melesat ke angkasa. Mereka terbang menuju sasaran, yang posisinya dilaporkan penjaga radar sipil di Bandar Udara Juanda, Surabaya. Tak sampai sepuluh menit di udara, pada jarak sekitar 100 mil dari Surabaya dua titik hitam bergerak segera terlihat oleh mereka: dua pesawat tempur F-18 Hornet. Dua pesawat bermesin ganda ini hanya berjarak 35 mil dari mereka. Saat itu pukul 17.21 WIB. "Saya menuju target satu, yang posisinya lebih dekat," kata Kapten Ian.
Sejauh itu, Ian hanya bisa mengawasinya dengan mata lekat ke layar radar di kokpitnya. Kami dilarang me-lock (mengunci) mereka. Kalau itu saya lakukan, itu pertanda menantang," tuturnya.
Tiba-tiba saja di belakang mereka muncul dua pesawat F-18 Hornet lainnya. Mereka terkepung: dua pesawat di depan dan dua di belakang. Hanya sekejap, lampu monitor di kokpit Falcon I menyala diiringi bunyi tit- tit- tit..., sebuah pertanda bahaya. F-18 Hornet sudah mengunci posisi mereka dan siap menembakkan peluru kendali Sidewinder yang juga menggayut di sayap pesawat tempur canggih itu.
Hanya satu jalan menghindar: menikung tajam di udara. Ian membelokkan pesawat pada kemiringan hampir 90 derajat dengan gerakan yang efeknya mencapai sembilan kali gravitasi bumi (9G)—sebuah gerakan yang bisa membuat pingsan penerbang yang belum berpengalaman. "Hanya dengan cara itu bisa menghindar dari penguncian mereka," kata Ian.
Di saat berbelok tajam itu, Ian sempat melihat iring-iringan kapal induk di perairan di bawahnya.
Di belakangnya, pesawat Falcon II dengan awak Tonny dan Satryo juga ditempel ketat F-18 lain, tapi dalam posisi lebih menguntungkan. "Jika pesawat saya tertembak, Falcon II bisa juga menembak mereka," katanya.
Ian saat itu baru yakin benar pesawat yang dihadapinya adalah jenis F-18 Hornet, yang kekuatannya di atas mereka. "Jika saja kami bergerak ceroboh, mungkin saat ini kami sudah berada di laut bawah berkeping-keping dan sekarang ini sedang dicari SAR," kata Ian mengenang.
Untungnya, Falcon II sigap mengambil keputusan. Pesawat ini memberi isyarat damai dengan rocking the wing, menggerak-gerakkan sayap pesawat sebagai isyarat pesawat itu bukan musuh. Ketegangan berlalu setelah tanda bahaya di radar pesawat Ian hilang dan dua F-18 yang menguntitnya menjauh ke belakang.
"Hornet, Hornet, we are Indonesian Air Force…," kata Ian mencoba berkomunikasi seperti terdengar dalam rekaman radar di Pangkalan Udara Iswahyudi. Dari salah satu pesawat, terdengar jawaban: "Indonesian Air Force, this is US Navy. We are in international waters. Please stay away from our ships…." Menurut Ian, pesawat Angkatan Laut Amerika Serikat itu menganggap bahwa mereka terbang pada posisi di laut internasional.
Tepat pukul 17.27, dua F-16 terbang memutar arah kembali ke Iswahyudi. Mereka mendarat saat magrib. Enam menit yang menegangkan bagi Ian dan tiga penerbang TNI-AU berakhir. "Itu pengalaman pertama saya mencegat pesawat yang tidak teridentifikasi," kisah Ian, yang lulus Akademi Angkatan Udara pada 1992.
Ketegangan berakhir di udara Pulau Bawean, tapi tidak bagi pemerintah Indonesia. Amerika terlalu jumawa untuk mengakui bahwa mereka terbang di wilayah udara Indonesia. Pesawat-pesawat itu rupanya berpangkalan di atas kapal induk USS Carl Vinson, yang tengah melintas di Selat Lombok menuju selatan. Kapal bertenaga nuklir yang mengangkut seratus pesawat tempur dengan 3.000-an awak kapal dan 2.800 awak pesawat dan pendukungnya ini berkonvoi bersama dua kapal fregat dan sebuah kapal perusak.
Posisi konvoi kapal induk memang telah berada di alur laut kepulauan Indonesia (ALKI), yang dibolehkan bagi pelayaran internasional. Tapi, manuver pesawat tempur pengawal di udara Pulau Bawean dianggap berbahaya bagi pelayaran sipil, selain melanggar udara Indonesia.
Dua hari kemudian, Sabtu 5 Juli 2003, Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal Chappy Hakim langsung menuju Pangkalan Udara Iswahyudi untuk bertemu empat penerbang F-16 tersebut. "Kedatangan kami untuk klarifikasi. Tak ada maksud apa-apa," kata Chappy Hakim.
Menurut Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional, Marsma Wresniwiro, sesuai dengan aturan internasional, pesawat tempur yang melintasi udara sebuah negara berdaulat harus melaporkan lebih dahulu ke pengontrol lalu-lintas udara setempat. "Tidak boleh melakukan provokasi, ancaman, melakukan manuver-manuver," tuturnya. Lagi pula, pesawat-pesawat Amerika ini bahkan mengganggu jalur penerbangan sipil.
Pemerintah Indonesia mempersiapkan nota protes atas kejadian di atas Pulau Bawean ini. Untuk itu, TNI langsung membentuk tim investigasi, Departemen Luar Negeri memanggil Atase Pertahanan Kedutaan Besar AS, Kolonel Joe Judge III, dan Menteri Koordinator Politik dan Keamanan memanggil Duta Besar Ralph L. Boyce.
Hasilnya? Indonesia urung mengajukan protes. Seusai dengan pertemuan bersama Duta Besar AS, Menteri Koordinator Polkam Susilo Bambang Yudhoyono hanya menyebut adanya keseriusan di pihak Amerika menanggapi kasus ini. Permintaan maaf? "(Mereka) tidak menyatakan secara eksplisit," kata Susilo.
Pihak Kedutaan Besar AS sendiri menyatakan pesawat mereka tidak melanggar wilayah udara Indonesia. "Malam sebelum lewat, kami telah memberitahukan kepada pemerintah Indonesia. Ini operasi biasa dan sesuai dengan hukum internasional," kata Stanley Harsa, Atase Penerangan Kedutaan Besar AS. Itu saja.
Pada akhirnya, Amerika melanggar atau tidak, Indonesia tampaknya tidak bisa berbuat apa-apa. "Kekuatan AS dan Indonesia jauh dari berimbang. Untuk itu, kita perlu berhati-hati dalam melihat persoalan ini," kata Chappy Hakim.
Tomi Lebang, Dwidjo U. Maksum (Madiun), Fransiska dan Indra Darmawan (Tempo News Room)
Tiga Menit di Atas Bawean
- Pada 3 Juli pagi, awak pesawat penumpang Boeing 737 Bouraq yang sedang menuju Surabaya melihat empat pesawat tempur tak dikenal sedang bermanuver di jalur penerbangan sipil dekat Pulau Bawean, Jawa Timur.
- TNI AU mengirim dua F-16 dari Lanud Iswahyudi, Madiun, ke lokasi yang jaraknya 20 menit penerbangan. Falcon 1 diawaki Kapten Ian Fuady dan Kapten Fajar Adrianto, dan Falcon 2 diawaki Kapten Tonny H. dan Kapten Satryo Utomo.
- Pada ketinggian 15 ribu kaki, dua F-16 itu berpapasan dengan empat F-18 Hornet milik Angkatan Laut Amerika Serikat pada jarak 35 mil. Perang radar elektronik terjadi.
- Falcon 1 ditempel ketat salah satu F-18. Pilot Kapten Ian Fuady merasa telah dikunci dan nyaris ditembak dengan rudal Sidewinder. Di belakangnya, Falcon 2 juga ditempel F-18 lainnya.
- Falcon 1 bermanuver sangat tajam dan terbang zig-zag untuk menghindari tembakan. Saat itu pilot Kapten Ian sempat melihat iring-iringan kapal induk di perairan di bawahnya.
- Falcon 2 memberi isyarat damai dengan menggerak-gerakkan sayap. Terjadi dialog.
- Dua F-16 kembali ke Madiun, dua F-18 kembali ke kapal induk.
|