Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 20/XXXII/14 - 20 Juli 2003
   
Nasional

Akal Sehat dari Pati

Sikap teduh para kiai NU bertolak belakang dengan petinggi PKB di Jakarta. Panas-dingin menjelang pemilu.

SEMILIR angin kemarau mengusir hawa panas di sepanjang koridor Pondok Pesantren Maslakhul Huda di Desa Kajen, Pati, Jawa Tengah. Gelak tawa sesekali terdengar dari aula di lantai dua. Santai, begitulah suasana pertemuan sekitar 25 kiai dan anggota Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) awal pekan lalu. Padahal rapat pleno PBNU yang dipimpin Kiai Haji Sahal Mahfudz itu membahas persoalan penting menyangkut masa depan NU—mungkin juga negeri ini.

Begitu pentingnya rapat itu, sampai-sampai Hasyim Muzadi, Ketua Umum PBNU, memaksakan diri hadir. Dengan kruk di ketiak, yang menyangga kaki ka-nannya yang berbalut perban, Hasyim tertatih-tatih memasuki aula. Anggota PBNU yang hadir antara lain Mustofa Bisri, Said Agil Siradj, Ahmad Bagdja, dan Masduki Baidhowi. Wajar bila Hasyim berkeras hadir karena pada 8 Juli rapat punya agenda khusus membahas konflik internal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)—yang sudah tiga tahun berlarut-larut.

PBNU dan para kiai khawatir, jika PKB Batutulis, yang diketuai Matori Abdul Djalil, tetap berseteru dengan PKB Kuningan, yang dipimpin Alwi Shihab dan Abdurrahman Wahid, warga NU akan terbelah menghadapi pemilihan umum tahun depan. Itu sebabnya PBNU berusaha mengundang kubu Matori dan Gus Dur—panggilan akrab Abdurrahman Wahid—untuk berdamai (islah) lewat sidang pleno di Pati.

Ide ini digagas sejak Mei lalu, ketika para kiai NU bertemu dalam Forum Langitan di Magelang, Jawa Tengah. Selain mengundang para pengurus PKB, sidang bakal mengundang para kiai NU yang memiliki pengaruh luas pada warga nahdliyin. Sayangnya, niat baik itu tak bersambut. Baik Matori maupun Gus Dur menolak islah. Mahfud Md., Wakil Ketua PKB Kuningan, berkisah bahwa begitu Gus Dur tahu sidang pleno di Pati bakal membahas islah PKB, ia langsung menelepon Rais Aam PBNU, K.H. Sahal Mahfudz. Padahal saat itu Gus Dur masih di Paris, Prancis. Intinya, Gus Dur menolak datang bila agendanya membicarakan islah dengan kelompok Matori.

Sikap Alwi Shihab senada dengan Gus Dur. "Tak ada islah karena kami menang di Mahkamah Agung," kata Alwi. Islah, menurut dia, berlaku atas dua kelompok yang posisinya sama. "Kalau toh kami mengajak Pak Matori, itu bukan islah, tapi uluran tangan namanya," Alwi menambahkan. Itu pun dengan syarat Matori harus membubarkan PKB Batutulis, mencabut tuntutan hukum, dan tidak menjadi Ketua Umum PKB.

Sebaliknya, Matori tampak kalem menanggapi agenda islah yang batal dalam sidang pleno di Kajen itu. "Saya sadar islah itu solusi yang baik dari para kiai NU," katanya, "tapi tak mungkin jika hanya dari satu pihak." Di samping itu, Matori menilai, ada pihak yang tak suka melihat ia dan Gus Dur bersatu di PKB. Sayangnya, Matori enggan menyebut pihak dimaksud. "Jika sudah begini, good-bye islah," kata Matori dengan nada murung.

Tak hanya Matori yang putus asa. Para kiai dan pengurus NU pun akhirnya memilih lepas tangan dalam persoalan konflik PKB. Seusai sidang pleno, K.H. Mustofa Bisri alias Gus Mus hanya menyampaikan, "Kami ingin mengajak semua pemimpin PKB memakai akal sehat." Ini penting, katanya, agar mereka tak membuat bingung dan meresahkan warga NU.

Rapat juga mengimbau warga NU dan masyarakat agar tak terpengaruh pada pernyataan dan manuver para pemimpin partai politik menjelang pemilu nanti. Selain itu, PBNU meminta para pengurus NU di berbagai level "menjaga" warga NU agar tak terpengaruh oleh pertarungan politik sesaat, khususnya konflik internal di dalam tubuh PKB.

Yang lebih tegas adalah pernyataan Ahmad Bagdja bahwa NU tak akan bersedia menjadi mediator dalam konflik internal PKB di masa depan. "Biarlah PKB sendiri yang menyelesaikan konfliknya. Jika tidak, kapan mereka dewasa?" katanya. Ya, kapan? Soalnya, pemilu tinggal berbilang bulan.

Iwan Setiawan, Sohirin (Pati), Adi Sutarwiyono (Surabaya), TNR


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Hatta Minta Kegagalan Super Toy Tidak Dipolitisir - 05 Sep 2008 | 15:05 WIB
Pemerintah Harus Libatkan Organisasi Guru dalam Sertifikasi Guru - 05 Sep 2008 | 15:01 WIB
Lima Hari, Lima Jenazah Bayi - 05 Sep 2008 | 14:59 WIB
Klub Raksasa Inggris Bertambah Satu - 05 Sep 2008 | 14:58 WIB
Lima Hari, Lima Mayat Bayi - 05 Sep 2008 | 14:56 WIB
Pemerintah Diminta Segera Terbitkan PP Pendidikan - 05 Sep 2008 | 14:52 WIB
Minyak Tanah Non Subsidi Dijual Untuk Umum - 05 Sep 2008 | 14:50 WIB
Warga Perkarakan Lahan Pengembang Alam Sutera - 05 Sep 2008 | 14:50 WIB
Pemerintah Diminta Sediakan Buku Gratis - 05 Sep 2008 | 14:50 WIB
Soal Busway Koridor Baru, Jakarta Bungkam - 05 Sep 2008 | 14:50 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data