Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 20/XXXII/14 - 20 Juli 2003
   
Laporan Utama

Si Cantik yang Beruntung

Lani Banjaranti, wanita yang diduga ikut menyembunyikan Tommy Soeharto selama buron, hingga kini tak tersentuh hukum.

KETENANGAN melingkupi hidup Lani Banjaranti, 28 tahun. Hiruk-pikuk orang membicarakan usaha Tommy Soeharto mengajukan peninjauan kembali atas kasusnya tak dihiraukannya. Perempuan cantik asal Aceh ini lebih asyik mengurus anak tunggalnya, Syalif Putrawan—hasil hubungannya dengan Tommy Soeharto—dan mengelola dua perusahaan di bidang perminyakan dan pengelolaan hutan. "Tapi saya masih belajar, kok," katanya tersipu-sipu.

Lani merupakan satu-satunya perempuan yang dekat dengan Pangeran Cendana itu yang paling beruntung. Bandingkan dengan Sandy Harun, misalnya. Bekas istri kedua Setiawan Djody itu, yang terlibat dalam penyembunyian sang pangeran saat buron, harus menerima vonis hukuman penjara empat bulan.

Pun demikian dengan Rossana Hasan, penghuni rumah di kawasan Bintaro tempat Tommy Soeharto dicokok. Cana—panggilan akrabnya—dijatuhi putusan hukuman penjara lima bulan. Keduanya terbukti ikut membantu Tommy dalam pelarian. Meski belakangan keduanya tak sempat merasakan dinginnya lantai bui, toh nama mereka telah tergores vonis. Lebih mengenaskan adalah nasib Hetty Siti Hartika, teman wanita Tommy lainnya. Manajer Apartemen Cemara itu mendapat hukuman tiga tahun penjara.

Yang terjadi pada Lani sungguh luar biasa, memang. Padahal dia juga diduga ikut mengayomi Tommy dalam pelarian. Bahkan, menurut saksi mata, Lani Banjaranti kepergok berada di rumah di Jalan Maleo, Bintaro, saat Tommy dicokok polisi pada November dua tahun lalu.

Sebelumnya polisi telah mencium pula jejaknya ikut menyembunyikan sang kekasih. Beberapa kali mereka menangkap sinyal telepon milik Tommy muncul dari rumah di kawasan Pegangsaan, Jakarta Pusat. Setelah lama diselidiki, kurang-lebih selama tiga bulan, barulah ketahuan sinyal itu datang dari rumah yang ditempati Lani. Namun, saat digerebek, buruannya telah raib. Di rumah berlantai dua itu polisi hanya menemukan foto-foto Lani dengan Tommy.

Keduanya mulai saling kenal saat Tommy meresmikan operasi PT Humpuss Aromatic Arun di Aceh, sekitar 1993. Lani, yang waktu itu masih duduk di SMU, ikut menjadi penyambut tamu. Setahun kemudian, keduanya bertemu kembali dalam ajang reli seri dunia yang digelar di sekitar Medan. Hubungan mereka berlanjut setelah Lani pindah ke Jakarta.

Saat polisi memburunya, sinyal keberadaan Tommy sempat berpindah ke arah Jakarta Selatan. Kali ini dari sebuah apartemen di kawasan Kemang. Dari penelusuran TEMPO ketika itu, apartemen yang harga sewanya Rp 30 juta untuk enam bulannya itu ditempati oleh Lani.

Dua petugas keamanan apartemen tersebut menyebut Lani tinggal di sana bersama seorang pria kekar dan berewokan. Kata mereka, orang itu mirip pria dalam foto Tommy "Ibrahim" Soeharto yang disebar polisi. Namun mereka mengaku tak tahu apa status hubungan keduanya.

Dugaan itu berbeda dengan semua pengakuan Lani yang pernah diutarakan kepada polisi beberapa bulan sebelumnya. Pada Maret 2001, saat dipanggil polisi, Lani mengaku dirinya tidak pernah bertemu lagi dengan Tommy sejak 1997. "Dia mengakui, selama Tommy menjadi buron, mereka tidak pernah bertemu ataupun berkomunikasi lewat telepon," ujar Tito Karnavian, Kepala Satuan Reserse Umum Polda Metro Jaya saat itu.

Sebuah sumber tepercaya di kepolisian menyatakan, pada saat itu Lani tengah hamil tua. Polisi tak tega perempuan dengan perut membusung harus ditanyai macam-macam.

Soal hamil itu ternyata bukan isapan jempol. April lalu, Lani tiba-tiba muncul di media massa sambil mengabarkan bahwa dia memiliki anak dari hubungannya dengan Tommy Soeharto selama dalam pelarian itu. "Ini waktu yang tepat untuk memberitahukan perkembangannya kepada sang ayah dan Keluarga Cendana," ujarnya ketika itu kepada majalah ini. Kini Syalif Putrawan, bocah laki-laki yang tampangnya mirip betul Tommy itu, telah berusia 1,5 tahun.

Pengakuan Lani soal anaknya jelas bertabrakan dengan keterangannya kepada polisi sebelumnya bahwa dia tidak pernah berkomunikasi dengan Tommy sejak 1997. Andaikata Syalif benar-benar buah cintanya dengan Tommy, dugaan keterlibatan Lani dalam melindungi kekasihnya perlu diusut lagi.

Irfan Budiman, Agus S. Riyanto


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data