Yang Istimewa di Alcatraz Kita Meski mendekam di Alcatraz-nya Indonesia, Tommy Soeharto masih hidup enak. Tidur di kasur empuk dan bisa menikmati ikan louhan kesayangannya. |
JUMAT pagi pekan lalu, kesibukan para narapidana dan petugas Lembaga Pemasyarakatan Batu, Nusakambangan, sama seperti tiap Jumat sebelumnya. Mereka baur berolahraga. Ada yang bersenam, bermain voli, tenis meja, dan sepak bola mini. Tawa mereka membuncah. Suaranya riuh-rendah. Tapi di mana Tommy Soeharto?
Narapidana istimewa ini tak ada di keramaian itu. Tommy, yang sudah hampir setahun mendekam di sana, tak kelihatan batang hidungnya. Menurut petugas LP Batu, Tommy lebih memilih berolahraga di kamarnya. Itu bisa dimaklumi. Kini kamar tahanan putra kesayangan mantan presiden Soeharto itu dilengkapi sepeda statis. Jadi, ia tak perlu repot-repot berolahraga dengan napi lain di halaman LP.
Di kamar berukuran 5 x 6 meter itu juga ada TV 21 inci, plus saluran televisi kabel Indovision. Fasilitas lain yang dinikmati Tommy adalah kasur busa empuk, lengkap dengan dipan lipat, serta kamar mandi dan kakus sendiri. Tak cuma itu. Di dalam kamarnya ada juga meja kerja, kursi, dan karpet biru muda yang menutupi seluruh lantai. Boleh dibilang sel tahanan itu telah disulap menjadi mirip sebuah kamar hotel.
Kesibukan Tommy biasanya dimulai pukul 8 pagi. Saat itu, beberapa orang kepercayaannya mulai muncul di LP Batu. Urusannya, selain mengantarkan makanan, juga hendak menyampaikan beberapa map berisi surat kepada terpidana 15 tahun penjara yang kini sedang mengajukan upaya hukum peninjauan kembali (PK) tersebut. Tommy memang masih punya staf dan karyawan. Mereka tinggal di Jalan Rambutan, Cilacap. Tugasnya melayani segala kebutuhan hidup "sang Pangeran Cendana", dari makanan, pakaian, menerima tamu, hingga ke urusan perusahaan. Bisnis Tommy memang jalan terus.
Untuk keperluan bisnis itu, menurut sumber TEMPO di LP Batu, Tommy telah membeli dua kapal motor tempel: yang satu terbuat dari kayu dan satu lagi dari fiberglass. Ia juga menyediakan dua mobil operasional. Mobil L-300 biru tua bernomor polisi AB-9744-CA untuk di dalam lingkungan LP Nusakambangan, sedangkan Kijang kapsul berwarna putih dipergunakan di luar Nusakambangan. Kadang kala Tommy menyewa sopir dari petugas LP, yang setiap saat siap mengantar dan menjemput tamu-tamunya.
Khusus untuk menerima para tamu yang hampir setiap hari mengunjunginya, disediakan dua ruangan khusus. Satu ruangan berisi kursi-kursi kayu berikut mejanya, satunya lagi tergolong mewah untuk ukuran ruang di dalam tahanan. Di bilik seukuran sel tahanannya itu tersedia fasilitas penyejuk udara, TV 21 inci, empat akuarium, karpet, dan sofa berwarna cokelat.
Selain didatangi orang kepercayaan dan para tamunya, sumber TEMPO yang lain di LP Batu mengungkapkan, Tommy kerap dikunjungi perempuan-perempuan cantik. Setidaknya dua kali dalam sebulan Sandy Harun datang menjenguk. "Sandy Harun melayani makan dan minum Mas Tommy," tutur sumber yang minta namanya tak disebut itu. Nah, saat kunjungan kedua Pak Harto membesuk Tommy pada awal Mei lalu, Sandy Harun kebetulan ada di situ. Menurut sumber itu, Pak Harto menasihati agar Tommy kembali kepada Tata. "Sejak itulah Sandy Harun jarang lagi muncul di LP Batu," kata sumber TEMPO.
Masih kata sumber itu, sejumlah perempuan lain juga sering datang mengunjungi Tommy. Tapi mereka bukan selebriti atau model. Mereka itu karyawan Tommy di PT Humpuss. Bisa jadi mereka berkunjung sekalian menjalankan urusan kantor. Meski demikian, para pe ngunjung Tommy itu selalu pulang. "Tak satu pun yang menginap."
Ketika dikonfirmasi, Sandy Harun enggan berkomentar. Menurut sekretarisnya, Sandy tak mau diwawancarai. Sedangkan Soraya dari Bagian Humas PT Humpuss membantah membawa urusan kantor ke Nusakambangan. "Orang Humpuss datang ke sana hanya untuk bersilaturahmi, bukan urusan kerja kantor," ujarnya kepada Narila Mutia dari Tempo News Room. "Silaturahmi kan mesti tetap dijaga. Apalagi dia mantan direktur utama kita," Soraya menambahkan.
Kepala LP Batu, Kurbandi Waluyo, menyangkal keras ada perlakuan istimewa terhadap Tommy Soeharto. Soal mobil L-300, misalnya. Menurut Kurbandi, mobil yang selalu diparkir di dermaga Sodong itu memang kendaraan operasional anak buah Tommy. Mobil itu dipakai hilir-mudik dari Sodong ke LP Batu oleh orang kepercayaan Tommy dan para tamunya. "Orang lain juga boleh naik kendaraan sendiri dari Sodong ke sini dan sebaliknya," katanya. Tapi mobil yang standby di Sodong memang terbatas, sehingga yang kerap terlihat mobil L-300 itu.
Kurbandi juga membantah adanya "bidadari-bidadari" Tommy yang sering berkunjung. "Mau artis atau Sandy Harun, semuanya harus lapor dan minta izin kepada kami," ujarnya. Lalu, waktu besuknya juga sama, yakni hanya pada jam-jam kerja. Tamu perempuan itu, Kurbandi menambahkan, juga tak ada yang masuk ke kamar tidur Tommy, apalagi sampai menginap.
Ihwal kabar yang menyebut Tommy bisa leluasa keluar-masuk Nusakambangan, bahkan sampai pergi ke diskotek di Kuta, Bali, dibantah Kurbandi. "Kalau ada yang mengaku ketemu Tommy di Bali atau di mana saja, fotonya bawa ke sini," katanya. Selama ini, Tommy baru sekali keluar dari Nusakambangan. "Ya, pas sidang PK Rabu kemarin," kata pria kelahiran Cilacap 54 tahun lalu itu.
Yang tidak disangkal adalah Tommy Soeharto menempati kamar seluas 5 x 6 meter sendirian. Lalu adanya ruang besuk tersendiri yang berpenyejuk udara dan dilengkapi sofa empuk berwarna cokelat. Yang jelas, menurut Kurbandi, apa yang diberikan itu sudah sesuai dengan perintah atasan dan tidak bertentangan dengan rasa keadilan.
Tommy Soeharto sendiri menolak bicara, meski TEMPO telah mengirim surat resmi dan menitip pesan kepada orang dekatnya. "Mas Tommy tidak mau diwawancarai," kata Dion Hardi, orang yang dikenal dekat dengan putra bungsu Soeharto itu.
Sejauh ini, Kurbandi mengakui, Tommy sehat dan baik-baik saja. Putra bungsu mantan presiden Soeharto itu rajin melakukan salat dan Jumatan bersama. Cuma, orangnya memang agak pendiam. Ia berbeda dengan Bob Hasan, yang rileks dan banyak kelakarnya. Waktu luang Tommy diisi dengan menekuni budi daya ikan louhan. Tommy punya empat petak kolam ikan, persis di samping sel tahanannya. Kolam pertama untuk pembibitan, kedua untuk ikan yang mulai tumbuh, ketiga dan keempat untuk louhan yang siap dipindahkan ke akuarium.
Ketika ditanya apa saja yang telah diberikan Tommy kepada para napi dan petugas LP, Kurbandi mengatakan bahwa itu sebatas bingkisan wajar. Misalnya makanan dan minuman. Biasanya bingkisan itu diberikan pas Lebaran atau jika kebetulan ada pembesuk Tommy yang mengirimkannya.
Pengalaman kecipratan rezeki juga dialami penghuni LP sekitar dua pekan lalu, saat anak Tommy berulang tahun. Waktu itu, Titik dan Mamik datang membawa dua anak Tommy. "Mereka merayakan ulang tahun di ruang besuk," kata Edy Wahyu Nugroho. "Ada acara syukuran dan potong kue, lalu makan bersama-sama," ujar Kepala Keamanan LP Batu itu ketika ditemui TEMPO di rumah dinasnya di Nusakambangan.
Gatot, seorang napi asal Gunung Kidul, Yogyakarta, kerap kecipratan makanan enak. Menurut Gatot, selama ada Tommy di LP Batu, ia dan rekan-rekannya sering mendapat makanan enak dari Tommy. "Yang paling sering makan enak kalau pas buka puasa," kata Gatot, Toni, dan sejumlah napi lain yang ditemui TEMPO.
Hanya, perlakuan istimewa yang dinikmati Tommy mengundang bau tak sedap di LP Batu. Seorang sumber TEMPO yang bertahun-tahun bekerja di LP Batu menuturkan, perlakuan istimewa yang diberikan kepada Tommy dan Bob Hasan baru sekali ini terjadi. "Saya sudah tahunan bekerja di LP Batu dan baru pertama kali ini perlakuan istimewa diberikan. Mungkin karena dia orang gedongan," katanya.
Perlakuan istimewa ini, menurut sumber tadi, sangat berpengaruh pada independensi para petugas di dalam LP Batu. Akhirnya napi dan petugas sama-sama berusaha mendekati Tommy. Hal ini diakui juga oleh beberapa narapidana. Menurut napi yang enggan disebut namanya, akhirnya bukan petugas yang mengatur Tommy, melainkan petugaslah yang mengikuti Tommy. "Kenyataannya memang seperti itu. Mau ditutup-tutupi juga percuma."
Begitulah, kendati berstatus narapidana—dan mendekam di LP yang kerap disebut Alcatraz-nya Indonesia—Tommy terbilang beruntung. Setidaknya ia masih bisa saling rangkul atau cium dengan para pembesuknya. Bayangkan di Alcatraz. Pengunjung dan tahanan dipisahkan tembok tebal dengan jendela kaca setebal satu jengkal sebagai pembatas. Pembicaraan dilakukan melalui telepon. Itu pun hanya beberapa menit. Di Nusakambangan, sekat-sekat itu tak pernah ada.
Nurdin Kalim, Adi Prasetya, Ecep S. Yasa (Nusakambangan)
|