Penundaan Undang-Undang Antisubversi |
SETENGAH juta orang berkonvoi dengan damai di depan kantor pemerintahan RRC di Hong Kong awal bulan ini. Aksi ini merupakan yang terbesar sejak peristiwa Tiananmen pada 1989. Yang menjadi sasaran protes kali ini adalah rencana pemberlakuan Undang-Undang Antisubversi yang akan diketukkan palunya oleh pemimpin Hong Kong, Tung Chee Hwa.
Unjuk massa meledak karena aturan baru itu dinilai mengancam kebebasan warga Hong Kong lantaran membolehkan otoritas pemerintah melakukan pencekalan terhadap organisasi politik dan keagamaan—yang dilarang di daratan Cina. Para pengunjuk rasa khawatir aturan itu dijadikan pintu masuk bagi kembalinya era kediktatoran di Hong Kong sejak negeri ini bergabung kembali dengan Cina.
Penyebab lainnya, kalau sampai aturan itu diberlakukan, Cina telah melanggar janji untuk memberlakukan sistem yang berbeda bagi Hong Kong, termasuk keinginan untuk melakukan pemilihan gubernur sendiri.
Menanggapi protes, Tung pada detik-detik terakhir Kamis minggu lalu menunda keputusan untuk memberlakukan undang-undang itu. Padahal pemerintah Cina berharap aturan baru itu bisa diberlakukan pada hari yang sama.
Agus Hidayat (Reuters, AP, BBC)
|